Suami Kedua

Suami Kedua
Di atas Nisan


__ADS_3

Kila melirik ke arah Rama yang kembali masuk ke dalam mobil, “kakak sudah mengambil uangnya?” tanyanya, yang dibalas anggukan dari Rama yang tengah mengenakan kembali sabuk pengaman di tubuhnya.


“Kau ingin membawa kita ke mana?” Rama balas bertanya sambil menyalakan kembali mobil.


“Di jalan Mawar, biasanya di jam seperti ini sudah banyak sekali orang-orang yang berjualan di pinggir jalan. Kita bisa mendapatkan banyak makanan dengan harga yang lebih terjangkau dari restoran mewah,” jawab Kila, dia tersenyum ke arah Rama sebelum melihat kembali lagi ke depan.


“Apa kau dan Gilang dulu juga sering ke sana?”


Rama membuang lirikannya dari Kila, saat Kila menganggukan kepalanya, “saat Gilang baru mulai ingin bekerja, dan dia mulai berhemat mengumpulkan uang untuk melamarku. Kadang kami pergi ke sana untuk mencari makanan atau biasanya aku yang membuatkan makanan untuknya,” saut Kila sembari melemparkan pandangannya ke samping.


“Jadi karena itu, dia tiba-tiba bersikeras untuk mencari uang sendiri.”


Kila tertunduk dengan senyum yang menyungging di bibirnya, “aku pikir dia hanya bercanda, saat dia berkata ingin melamarku dengan uang hasil dari kerja kerasnya sendiri. Aku tidak menyangka jika dia benar-benar membuktikannya,” Kila terus berbicara, dengan tanpa sadar menyadari lirikan sinis yang Rama lakukan kepadanya.


“Jika saat ini Gilang masih hidup, apa yang akan kau lakukan?”


“Apa lagi, selain menjadi istri yang baik, dan memberikan kebahagian untuknya.”


Kila mengangkat pandangannya saat Rama kembali tidak menanggapi perkataannya, “kak, apa kita tidak jadi pergi ke sana? Apa kita, akan kembali ke rumah?” Kila kembali melemparkan pertanyaan kepada Rama, saat dia tersadar mobil yang ia kendarai semakin menjauhi tempat tujuan yang Kila inginkan.


“Kak Rama?”


Kila mengerutkan keningnya, ketika Rama masih bergeming mengabaikannya, ‘ada apa dengannya?’ batin Kila, dia ingin meraih Rama tapi entah kenapa nyalinya dengan sekejap ciut saat Rama hampir tak berkedip menatap jalanan.


“Aku akan membawamu ke sebuah tempat,” ucap Rama, dia tetap enggan untuk menoleh sedikit saja kepada Kila.


Mobil terus bergerak, hingga berhenti di sebuah pemakaman umum. Rama melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya, “turunlah!” perintah Rama, sembari berjalan keluar dari mobil.

__ADS_1


Kila, tanpa banyak berbicara, mengikuti langkah kaki Rama yang berjalan di depannya. Langkah kaki mereka berhenti diikuti lirikan mata Kila yang mengarah kepada Rama setelah membaca nama yang tertulis di nisan yang ada di hadapan mereka. “Apa kakak membohongiku? Kakak berkata, jika-”


Kila menghentikan perkataannya, “Gilang,” lirih Kila memanggil namanya sambil mengusap nisan bertuliskan namanya.


Tangisan Kila pecah, sambil menunduk dengan menggenggam tanah di makam Gilang yang telah hampir padat, “maafkan aku karena tidak bisa mengantarmu. Maafkan aku karena baru mengunjungimu … Gilang,” tangisan Kila semakin menjadi sambil memeluk gundukan tanah di depannya.


“Aku merindukanmu … Aku ingin melihatmu lagi, Gilang. Kenapa kau melakukan semua ini? Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu … Maafkan aku, yang baru menyadari semuanya-”


“Jadi itu, yang sebenarnya kau rasakan?”


Kedua mata Kila membesar, karena larut dalam perasaannya, dia bahkan melupakan keberadaan Rama. “Lalu, apa maksud dari kata-kata yang sebelumnya kau katakan?”


Kila mengangkat lengan kanannya mengusapi mata, “benar, itu semua yang aku rasakan. Aku mencintai laki-laki ini, dan itu benar yang aku rasakan,” jawab Kila, dengan kembali menatapi nisan Gilang yang masih berupa kayu.


Kila beranjak dengan menghela napasnya, “aku tidak bisa memeluknya lagi. Aku tidak bisa melihat senyumnya lagi … Aku, tidak bisa memasak makanan kesukaannya lagi. Ini semua karena kalian,” ucap Kila, suaranya yang gemetar itu, semakin pilu diikuti tetesan air matanya yang mengalir.


Rama melirik ke arahnya yang masih terus menangis, dia mengangkat tangannya mengusap kepala Kila … Dia terus mengusap kepala perempuan di pelukannya itu, walau Kila beberapa kali hendak menjauhkan dirinya, “kau tidak kehilangan suamimu. Aku, suamimu sekarang,” ucap Rama yang membuat Kila kembali menatapnya.


“Lepaskan aku! Aku sudah lelah untuk melanjutkan semua ini … Aku, benar-benar sudah muak berurusan dengan keluarga Rahardian lagi,” Kila terisak sembari berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Rama yang kuat mendekap tubuhnya.


“Sekarang aku mengerti, kenapa Gilang memperjuangkanmu … Aku pun, ingin merasakan kebahagiaan yang pernah dia rasakan-”


“Apa yang kau maksudkan? Jangan-”


Bentakan Kila berhenti saat matanya terjatuh ke mata Rama yang menatapnya, “apa kau juga berpikir, bahwa aku turut salah dengan apa yang kalian alami?”


“Aku pun, korban di sini … Apa kau lupa?”

__ADS_1


Kila tertunduk ketika pelukan Rama padanya terlepas, ‘itu benar, bahkan aku pun tidak bisa melampiaskan kemarahan padanya,’ batin Kila, sambil membuang pandangannya ke samping, menghindari tatapan Rama.


“Kita pulang terlebih dahulu hari ini, agar perasaanmu sendiri lebih tenang. Besok, saat jam makan siang … Kita akan ke sini lagi, atau sore harinya saat kau merasa siang terlalu panas. Gilang pasti tidak ingin melihatmu seperti ini,” ucap Rama, dengan menyentuh punggung Kila.


“Kila, kumohon,” sambung Rama saat Kila masih mematung, tak bergerak.


Kila kembali mengusap matanya, sebelum melangkah melewati Rama. ‘Yang masih hidup, harus melanjutkan hidupnya. Kau memberikanku mainan yang bagus, Adikku,’ batin Rama, dia melirik ke arah makam Gilang sebelum mengikuti langkah Kila yang telah terlebih dahulu mendekati mobil.


Rama membuka pintu mobil, dia duduk di dalamnya dengan melirik ke arah Kila yang menyandarkan kepalanya di kaca jendela, “tubuhmu penuh akan tanah. Kita akan pulang, agar kau bisa membersihkan tubuhmu,” ucap Rama, sambil mengenakan sabuk pengaman ke tubuhnya.


“Aku tidak ingin pulang. Ke mana saja, asal jangan ke rumah itu … Aku, sedang tidak ingin bertemu siapa pun,” saut Kila dengan masih mengeluarkan tatapan kosong.


“Apa hotel tidak apa-apa? Untuk sekarang aku tidak bisa mengajakmu pergi jauh, aku harus menghadiri rapat penting esok.”


Kila mengangguk, “asal bukan rumah Kakak, tidak masalah untukku,” jawab Kila dengan suara yang sangat pelan terdengar.


“Kila!”


Kila melirik ke arah Rama yang memanggil namanya, “aku tidak bermaksud membohongimu, karena aku dulu masih terpengaruh dengan perkataan mereka tentangmu. Namun, aku mengajakmu sekarang ke sana … Aku hanya ingin, kau sekarang menerima bahwa aku adalah suamimu.”


“Aku mengerti. Aku, tidak akan melupakan statusku sebagai Istrimu, kak. Namun, berikan aku izin untuk melakukannya secara perlahan.”


“Aku pun ingin mengatakan hal yang sama sepertimu,” saut Rama menimpali perkataan Kila.


‘Dan tentu saja, aku tidak akan mudah berhenti sebelum mereka yang menghancurkan kebahagiaanku hancur,’ Kila membatin, sambil membuang tatapan ke arah Rama yang mulai menyalakan mobilnya.


“Kau laki-laki yang baik, kak. Perempuan lain lebih pantas mendapatkanmu dibanding kami berdua, tapi karena aku juga ingin bahagia … Tentu aku tidak akan menyerahkanmu. Mungkin,” gumam Kila, dia kembali menyadarkan diri di jok mobil sembari memejamkan matanya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2