Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 51. Perasaan apa ini?


__ADS_3

"Apa yang kau katakan, Karen?" tanya Leon, yang secara tidak sengaja mendengar gumaman wanita yang berdiri di hadapannya ini.


Mendapati pertanyaan dari Leon, sontak Karen pun tergagap. Wanita itu tak menyangka jika pria ini akan mendengar gumamnya yang super pelan itu. Menurutnya.


"Apa? Memangnya aku bilang apa?" Karen pun akhirnya memilih untuk pura-pura bodoh saja.


Tanpa ia duga, Leon mengulurkan jemarinya untuk menarik ujung hidung mancung Karen. Pria itu menarik dengan gemas sambil bertanya. "Kamu tadi bilang mau punya anak. Dengan siapa memangnya?" cecar Leon.


Mendengar pertanyaan selanjutnya dari Leon, Karen merasa sesak napas seketika. Udara di sekitarnya menipis membuat dadanya kembang-kempis.


"Bagaimana aku menjawabnya? Haih, kok dia dengar sih?" batin Karen. Wanita itu kikuk, salah tingkah dan mendadak gelisah.


"Kapan aku bilang gitu? Salah dengar mungkin!" elak Karen.


"Hei! Mana mungkin aku salah dengar. Hayo jujur!" desak Leon. Dirinya benar-benar penasaran apakah yang di ucapkan oleh Karen adalah benar. Karena jauh dalam lubuk hatinya pun Leon menginginkan hal yang sama. Ia begitu ingin memiliki anak yang lucu. Entah kenapa ada perasaan seperti itu setelah ia bertemu dengan baby Argon.


"Ah, itu ... " Karen berusaha terus mengelak, akan tetapi itu semua semakin membuat semua terlihat jelas. Apalagi, rona merah di kedua pipinya seakan membenarkan harapan Leon.


"Ayo kita segera menikah!"


Sontak, ucapan Leon barusan membuat Karen terkesiap. Bahkan wanita itu langsung membulatkan mata dan juga mulutnya.


"Leon, kau --"


"Aku menjawabnya sekarang, jika kau memang serius ingin menjalin hubungan abadi bersamaku. Hingga tercipta anak-anak kecil, lucu yang akan mengelilingi kita berdua. Aku ingin menikah denganmu, aku akan melakukan pekerjaan apapun. Aku memiliki otot yang kuat," tutur Leon.


Ketika, Karen meminta agar mereka menikah. Satu hal yang Leon khawatirkan adalah keadaannya yang tidak memiliki apapun. Bahkan selama ini Karen yang telah menyokong hidupnya. Hal itu yang lantas membuat Leon merasa kecil hati.

__ADS_1


"Be–benarkah, apa yang kau ucapkan Leon?" Karen membekap mulutnya tak percaya. Tak disangka jika ia akan mendapat jawaban dari Leon secepat ini. Karen berniat ingin mengikat pria itu.


Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah ini tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Ia akan merantai sumber kebahagiaannya itu agar tidak kemanapun. Karen, juga ingin memberikan ketenangan dan juga kebahagiaan pada Leon yang kadang merasa hampa.


Mereka sebenarnya senasib.


Sebatang kara tanpa sanak saudara.


Bedanya, Karen memang mengasingkan dirinya karena sesuatu hal. Sedangkan, Leon karena tak ada sisa sedikitpun kenangan di dalam ingatannya.


"Kau meragukan ku, Karen?" Leon mendekat hingga Karen merasa sulit bernapas. Pria itu menunduk menatapnya intens. Karena tinggi Karen hanya sebatas dagu Leon.


Biasanya, dialah yang selalu agresif untuk menggoda Leon. Tapi, kali ini pria itu yang berinisiatif untuk bertindak. Tatapannya yang lekat dan dalam itu seakan membuat rotasi di sekitaran Karen tak bergerak.


Leon meraih dagu sang dokter agar wanita itu sedikit mendongak menatapnya. "Jika kau mau menerima keadaanku ini, tentu tidak ada yang perlu kau ragukan dari kesungguhanku," ucap Leon, semakin mendekatkan wajahnya.


Wajah Leon semakin mendekat hingga ujung hidung mereka yang lancip hampir bersentuhan. Deru napas hangat berbau mint itu, menggelitik penciumannya hingga dadanya berdebar dengan hebat.


Tiba-tiba,


Yuk!


"Aw!"


Karen mengusap keningnya yang terkena sentilan jemari Leon yang besar itu.


"Sakit!" pekik Karen tertahan, dengan kedua mata yang membulat lantaran kesal.

__ADS_1


Leon pun terkekeh kecil. "Bersihkan pikiran mesummu itu," bisik Leon, yang mana hal itu membuat Karen malu setengah mati.


"Memalukan." Karen bersungut dalam hatinya.


"Kita bicarakan lagi, di rumah. Aku tenang, karena operasi pria kecil telah berhasil. Aku ingin, kita buat yang seperti itu nanti ya," bisik Leon lagi. Kali ini, Karen tak tinggal diam. Jemarinya sukses mendarat pada pinggang pria di sebelahnya yang sebenarnya juga berpikiran mesum.


"Sakit, Kar." Leon mengaduh, cubitan wanita itu lancang sekali.


"Sendirinya juga mesum!" omel Karen. Hal itu justru membuat Leon terkekeh. Wajah wanitanya sungguh lucu dan menggemaskan.


Interaksi mesra itu tak lepas dari pengamatan Katie sejak tadi. Wanita paruh baya itu, ikut merasakan aura bahagia yang di timbulkan dari raut wajah keduanya. Sekalipun, ia merasakan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri pun sulit untuk menjabarkannya.


"Perasaan apa ini? Alan, Mommy merasakan kehadiranmu, Nak. Apakah ini hanya halusinasiku saja?" gumam Katie lirih seraya memejamkan matanya. Hingga, tanpa terasa tetesan air mata itu pun mengalir satu persatu melewati tulang pipinya yang tirus.


Deg!


Tiba-tiba Leon berhenti untuk memegangi dadanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa dadaku tiba-tiba sesak. Rasanya, sedih sekali." Batin Leon.


Pria itu tertarik untuk menoleh ke belakang. Pada saat yang sama, Katie juga sedang menatap ke arahnya.


Pandangannya keduanya pun bertabrakan.


"Alan ...,"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2