Suami Kedua

Suami Kedua
Menua Bersamaku


__ADS_3

“Apa maksud kamu?” Sean semakin tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya.


“Sebelumnya maafkan aku. mungkin Lidia saat itu reflek memelukku karena dia sedang terpuruk setelah ada seseorang yang…”


Xander pun menjelaskan semuanya. Dimana dia melihat Lidia didekati seorang pria. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Terlihat Lidia mengusap air matanya di luar ballroom. Lalu pria itu datang dengan mengatakan kejelekan tentang Sean. Bahkan dengan kurang ajarnya pria itu ingin menggantikan posisi suaminya yang sama-sama pandai soal urusan ranjang.


“Setelah itu aku mengejar istrimu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk atau pria itu kembali mendekati Lidia.” Ucap Xander.


Sean pun seketika terduduk dengan meremat kuat rambutnya. Kini dirinya semakin bersalah terhadap istrinya karena tidak mencoba berbicara dengan baik. Bahkan dia juga mendiamkannya.


“Kamu tahu siapa pria itu?” tanya Sean.


“Aku tidak mengenalnya. Tapi aku yakin dia masih ada hubungannya dengan orang yang mengadakan acara itu.” Jawab Xander.


Sean kembali berpikir. Sepertinya benar yang dikatakan oleh Xander. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Tuan Ben. Bahkan acaranya saat itu saja sudah membuatnya merasa aneh.


“Apa perlu aku selidiki orangnya?”


“Tidak perlu. Biar aku saja yang mencari tahu. Terima kasih Xander. Maafkan aku!” ucapnya lalu segera pergi.


Sean pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia akan pulang dan meminta maaf istrinya. Sungguh Sean benar-benar menyesal telah mendiamkan istrinya selama beberapa hari.


Setelah beberapa menit berkendara, Sean sudah sampai rumah. dia melihat Chandra sedang melakukan pembelajaran bersama Fredy. Sedangkan Viana bersama baby sitternya. Sean yakin kalau istrinya saat ini sedang berada di kamarnya.


Cklek

__ADS_1


Sean melihat seisi ruangan namun tidak menemukan keberadaan Lidia. Lantas dia mencarinya melalui kamera cctv. Dan ternyata saat ini Lidia sedang berada di kamar tamu. Sean mengerutkan kening, kenapa Lidia ada di kamar tamu. Apakah selama ia mendiamkannya, wanita itu pindah tidur di kamar tamu. Sean semakin merasa bersalah. Dengan cepat dia menuruni tangga dan menuju kamar tamu yang ada di lantai satu.


Perlahan Sean membuka pintu kamar tamu yang tidak terkunci. Hatinya mencelos ssat melihat sang istri sedang berdiri di sisi jendela sambil melihat taman bunga yang berada tepat di luar kamar itu.


Grep


Sean langsung memeluk Lidia dengan erat. Kepalanya menunduk di atas pundak Lidia. Sedangkan Lidia sendiri tidak bereaksi apapun. Masih diam di posisi yang sama.


“Sayang, maafkan aku!” lirihnya dengan suara sendu.


“Aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu andai Xander tak menjelaskan semuanya. Aku mohon, maafkan aku.”


“Nggak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah denganmu.” Jawab Lidia dengan suara datar.


“Jangan bilang seperti itu. Maafkan aku. aku tidak tahu kalau ada seseoraang yang melukai hati kamu.”


“Inilah alasan kenapa aku tidak mau pergi ke acara seperti itu. Aku bahkan sudah bisa menebak akan ada kejadian seperti itu. Tidak mudah bagiku menikah denganmu yang notabene kamu adalah asisten Mas Billal. Mungkin benar yang dikatakan oleh pria itu kalau banyak kaum hawa yang sejak dulu menginginkanmu, namun justru kamu mendapatkan seorang janda sepertiku.”


“Please, Sayang! jangan bilang seperti itu! Aku nggak peduli dengan omongan orang. Yang paling penting kita saling mencintai.”


Lidia mengurai pelukannya. Lalu memutar badan dan berhadapan dengan Sean. Dia juga sebenarnya tidak tega melihat wajah sedih suaminya, namun hatinya juga masih sakit mengingat perkataan pria asing itu.


“Memang kita saling mencintai. lalu bagaimana jika banyak yang menginginkanmu dengan jalan memisahkan kita? Bahkan semenjak kita menikah saja sudah banyak sekali masalah yang selalu datang dan tak pernah surut. Bagaimana kalau lebih baik kita pis-, hmmmpppp”


Sean segera membungkam mulut Lidia dengan ciuman yang begitu dalam. Dia tahu apa yang akan diucapkan Lidia. Sean tidak ingin mendengarnya.

__ADS_1


Cukup lama Sean mencium Lidia sebagai wujud protesnya tentang apa yang akan diucapkan tadi. ciuman itu semakin dalam dan semakin membuat Lidia juga takut jika kehilangan Sean. Bahkan air matanya kini sudah meluncur bebas.


“Aku mohon jangan sekali-kali mengucapkan kata perpisahan. Sampai kapanpun kita akan tetap bersama. Kita hadapi semua masalah bersama. Maukah kamu menua bersamaku?” ucap Sean setelah mengakhiri ciuman panjangnya. Kini keningnya saling menempel dengan kening Lidia.


Lidia menatap dalam manik hitam milik Sean. Hatinya seketika menghangat. Cintanya semakin besar pada pria yang selama ini telah menjadi pelindung untuk dirinya dak kedua anaknya. tanpa mengucapkan kata, Lidia menjawab pertanyaan Sean dengan anggukan kepala.


“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Sean dan kembali memeluk Lidia dengan erat. Bahkan dia kembali menciumi bibir manis sang istri yang selama beberapa hari ini ia diamkan.


Lidia pun ikut terhanyut dengan ciuman yang diberikan Sean. Bahkan semakin lama ciuman itu semakin menuntut dan meminta yang lebih. Namun Lidia segera mendorong kuat dada Sean dan melepas paksa ciuman itu.


“Kenapa?” tanyanya dengan hasrat yang tertahan.


“Aku sedang datang bulan.” Jawab Lidia sambil menahan senyum.


.


.


.


*TBC


Apes banget kamu Sean!!😂😂


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2