Suami Kedua

Suami Kedua
Kambing Hitam


__ADS_3

“Mengapa kamu bertanya seperti itu, Chan? Kalau mendiang Papa kamu bukan pria baik-baik, kenapa Mama mempunyai anak-anak yang sangat baik dan juga penyayang.” Jawab Lidia sambil mengusap pipinya yang basah.


Seketika itu Chandra berhambur ke pelukan mamanya. Dia sungguh menyesal telah bertanya seperti itu. Seolah membuka kenangan antara Mama dan Papanya.


“Maafkan Chan, Ma!” Chandra semakin mengeratkan pelukannya.


“Mama nggak apa-apa, Sayang. Jangan dengarkan ucapan orang lain tentang berita yang belum tentu benar tentang mendiang Papa kamu. Karena semasa Papa kamu hidup, dia adalah pria terhebat pertama yang hadir di hidup Mama.” Jawab Lidia membalas pelukan Chandra.


Lidia terdiam. Walaupun memang mantan suaminya dulu mempunyai masa lalu yang sangat buruk sebelum menikah dengan dirinya, namun menurut Lidia cukup dirinya saja yang mengetahuinya. Anak-anaknya tidak berhak tahu ataupun ikut campur dengan hal itu.


Chandra mengurai pelukannya dan tersenyum menatap mamanya.


“Terima kasih, Ma. Terima kasih telah mendidik kami dengan sangat baik selama ini.”


Tak lama kemudian Lidia bergegas membereskan piring kotor bekas Chandra makan. Sedangkan Chandra masih duduk di posisinya semula. Semenjak kematian Papanya saat masih kecil, sampai sekarang Chandra tidak pernah lagi berkunjung ke makam Papanya. Hal itu memang bukan karena unsur kesengajaan. Melainkan keterbatasan waktu dan juga masalah yang dulu terus menghampiri keluarganya.


“Ma!” panggil Chandra saat Lidia akan keluar dari ruang makan.


“Bolehkah nanti jika ada waktu, Chan berkunjung ke makam Papa?” tanyanya.


“Boleh, Sayang!” jawabnya sambil tersenyum.


**


Selama kedua orang tuanya beberapa hari tinggal di luar negeri, selama itu juga Chandra selalu meminta mamanya agar selalu membuat masakan olahan khas Indonesia. Karena Chandra memang benar-benar sedang ngidam. Sedangkan Feby sendiri juga tidak ada masalah dengan kandungannya.

__ADS_1


Sean sengaja tinggal di luar negeri untuk beberapa waktu. Karena dia ingin melihat bagaimana perkembangan perusahaannya selama ini. meskipun dia sudah cukup percaya dengan Chandra dan Fredy, setidaknya dia masih ingin memantaunya secara langsung.


Lidia juga tidak masalah untuk tinggal bersama anak dan menantunya selama beberapa waktu. Kavi dan Mirza juga sudah mandiri dan di rumah juga ada pembantu yang menyiapkan keperluan mereka berdua.


Kedua orang tua Feby sudah lebih dulu pulang ke Indonesia, karena memang Kenzo sangat sibuk dengan perusahaannya. Mungkin nanti kalau Feby lahiran akan datang lagi untuk berkunjung.


Hari ini Lidia tengah sibuk di dapur bersama Feby. Mereka berdua sedang asyik memasak untuk acara makan malam. namun kali ini makan malamnya tidak hanya dihadiri oleh keluarga saja, karena Sean akan mengundang keluarga Fredy dan juga Reza.


“Sayang, lebih baik kamu duduk saja! biar mama yang memasak.” Ucap Lidia memperingatkan Feby yang sedang mencuci sayuran.


“Feby nggak apa-apa, Ma! Feby justru akan capek kalau hanya duduk saja.” jawabnya dengan tangan masih asyik dengan kegiatannya.


Lidia pun akhirnya pasrah. karena memang dia dulu juga merasakannya sendiri saat sedang hamil tidak bisa duduk diam begitu saja. jadi selama Feby enjoy, Lidia tidak melarang-larangnya lagi.


Selama tinggal bersama, Lidia sangat akrab degan menantunya. Bahkan mereka berdua terlihat seperti anak dan ibu kandung, bukan mertua dan menantu. Lidia juga sering menceritakan pengalamannya saat hamil keempat anaknya dulu. Tak jarang dia juga memberikan beberapa wejangan pada Feby demi kebaikan.


Lidia tahu itu siapa. Siapa lagi kalau bukan Chandra. Dan jika Chandra sudah bersikap manja seperti itu, pasti sedang ada maunya.


“Ada apa? Mau Mama buatin masakan apa lagi? ini sudah banyak masakan Mama. Kamu tinggal pilih.” Tanya Lidia.


“Bukan itu, Ma. Chan mau minta tolong sesuatu boleh?”


“Apa?”


“Mama telepon Viana, suruh dia ke sini. Chan kangen banget sama tuh anak.”

__ADS_1


“Kenapa nggak kamu sendiri yang bilang? Lagi pula adik kamu sepertinya sedang sibuk.”


Chandra hanya mendengus kesal. Kalau dia bisa meminta adiknya ke sini, buat apa sekarang minta tolong pada Mamanya. Karena Chandra sudah menghubungi Viana, dan Viana tidak mau karena alasan sibuk.


“Cobalah Mama saja yang nelfon! Bilang kek kalau Feby sedang ngidam ingin berduaan dengan adik iparnya.” Ucapnya tanpa dosa.


Sedangkan orang yang diumpankan hanya mendelik kesal dengan ulah sang suami.


“Nggak bisa gitu dong! Enak aja aku yang jadi kambing hitam.” Protes Feby tidak terima.


“Sayang, kamu istriku. Bukan kambing hitam.” Jawab Chandra dan kembali bergelayut manja pada Mamanya.


Lidia hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia akan mencoba menghubungi Viana. Karena dulu dia juga tidak sempat datang ke acara pernikahan kakaknya byang terkesan sangat sederhana.


“Iya, iya nanti Mama akan mencoba untuk menghubungi Viana.” Jawab Lidia akhirnya


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2