
“Bagus jika kau sadar diri perempuan murahan! Pergilah dari rumahku!” Citra meninggikan suaranya sambil mengangkat jari telunjuknya ke samping.
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa menceraikannya!” Kali ini, Rama yang balas membentak.
‘Aku menyukai kata-kata yang ia ucapkan ini,’ batin Kila, sembari berusaha untuk mempertahankan wajah sedihnya.
Kila menghela napas diikuti tangannya yang merapikan kembali rambut, “perempuan murahan, perempuan murahan, perempuan murahan,” berulang-ulang Kila bergumam menggunakan kata-kata yang sama, “bahkan yang merenggut kegadisanku, tidak lain suamiku sendiri,” sambung Kila melangkahkan kaki menjauhi mereka.
Kila terus berjalan, walau suara Rama yang memanggil namanya masih terdengar, ‘kau ingin mengusirku? Bagaimana, jika aku menggunakan trik yang sama sepertimu? Aku, akan membuat Kak Rama semakin tak sudi melihatmu, jangan panggil aku Kila … Kalau aku, tidak bisa melakukannya,’ Kila lagi-lagi membatin, dengan semakin menjauhi perseteruan mereka.
“Apa kau harus mengatakan kata-kata tersebut kepadanya?”
“Kenapa? Apa kata-kataku ada yang salah? Apa kau lupa dengan apa yang terjadi dengan adikmu?!” Citra kembali meninggikan suara saat Rama mengacungkan jari ke arahnya.
Rama berjalan mendekatinya, mendekatkan wajahnya ke telinga Citra, “apa kau lupa dengan kondisimu sendiri? Setidaknya, selama dia berhubungan dengan Gilang … Dia bisa menjaga dirinya,” bisik Rama, dia melirik sinis ke arah Citra sebelum akhirnya berjalan meninggalkannya.
Citra tertegun, bibirnya mengatup rapat saat mendengar bisikan Rama di telinganya, ‘kenapa, dia mengatakan kata-kata tersebut? Gilang sudah bersumpah kepadaku, tidak akan membahas hubungan kami di depan keluarganya,’ batin Citra yang masih mematung menatapi punggung suaminya.
Langkah kaki Rama terus berlanjut, diikuti kedua tangannya yang ia kepal dengan sangat kuat. Amarahnya membuncah, tiap kali dia melihat Citra … Semua kebohongan yang pernah ia lakukan, seketika muncul di hadapannya layaknya sebuah film yang sedang diputar.
Langkah Rama berhenti di kamar Kila, sambil dengan perlahan dia membuka pintu yang ada di depannya itu, “apa yang kau lakukan?” tanya Rama, saat melihat Kila yang tengah mengeluarkan semua pakaian di dalam lemarinya.
“Pergi dari rumah ini, hanya kirimkan saja surat cerainya nanti … Aku, pasti menandatanganinya,” saut Kila, sambil terus berjalan mengeluarkan potongan demi potongan pakaian dari dalam lemari ke ranjang.
“Apa aku memberikanmu izin?”
“Aku sudah lelah berurusan dengan kalian, aku pun memiliki perasaan … Mau berapa kali lagi, aku harus menerima cacian sebagai perempuan murahan?”
__ADS_1
“Aku sudah berusaha untuk menahannya, tapi tetap saja … Aku, tidak akan pernah baik di mata kalian,” sambung Kila, dia duduk di ranjang sambil melipat pakaian yang telah ia keluarkan.
“Aku yang menikahimu, aku yang membiayai seluruh hidupmu. Jadi abaikan saja mereka,” ucap Rama, dia berjalan mendekati Kila setelah sebelumnya menutup kembali pintu yang ia buka.
Kila mendecakan lidahnya, “jadi, kakak memintaku untuk menerima semua cacian? Apa aku, tidak berhak untuk bahagia? Apa kakak, juga masih berpikir bahwa aku penyebab kematian Gilang?”
Tangisan Kila pecah, dia menunduk sambil menutup mata menggunakan kedua tangannya, “saat aku sedang mencoba untuk menerima keadaan, kenapa semuanya tidak pernah berjalan dengan lancar? Apa aku memang tidak pantas untuk menjadi istri Gilang, ataupun istrimu, kak,” tangis Kila, dia menurunkan kembali tangannya sembari lanjut melipat pakaian di depannya.
“Ikut denganku!” pinta Rama, dengan meraih tangan Kila.
“Ikut? Ikut ke mana?”
“Jangan banyak bertanya, ikut saja!” Rama kembali memerintah sambil menarik tangan Kila untuk mengikutinya.
“Tapi, pakaianku?”
Rama memerintahkan seorang laki-laki untuk mengambil mobil yang ada di garasi. Dia mengajak Kila untuk masuk ke dalam mobil, saat mobil tersebut telah terpakir di teras. “Kakak ingin mengajakku ke mana?” tanya Kila, ketika Rama mulai menjalankan mobilnya tanpa berbicara sedikit pun.
“Membuang masa lalumu-”
“Membuang masa lalu?” gumam Kila, keningnya mengerut menimpali perkataan Rama.
Mobil terus melaju menyusuri jalan raya, sesekali Kila melirik ke luar jendela sambil menggenggam erat sabuk pengaman di tubuhnya, “kak, jika kau mengajakku pergi sekarang … Semuanya akan lebih runyam-”
Bibir Kila mengatup saat Rama melirik ke arahnya, “aku yang membiayai hidupnya, dia tidak berhak untuk mengatur hidupku. Aku bersikap baik, hanya karena Mamaku menyukainya,” ucap Rama dengan kembali melemparkan pandangannya ke depan.
‘Jadi seperti itu hubungan kalian, terima kasih telah jujur kepadaku … Aku akan memberikan hadiah untuk kejujuranmu itu,’ bisik Kila di dalam hati, dengan masih terdiam menatapi Rama.
__ADS_1
Rama kembali melirik ke arah Kila, saat Kila memegang lengan pakaian yang ia kenakan, “jika aku mengatakan, bahwa aku ingin mencoba menjadi perempuan yang pantas untukmu. Apa kakak, ingin memberiku kesempatan untuk membuktikannya,” ucap Kila, dia menunduk dengan menarik kembali tangannya.
“Sifat kakak berbeda jauh sekali dari Gilang, tapi setiap kali aku berbicara dengan kakak … Perlahan demi perlahan, aku mulai sedikit melupakan rasa sakitku. Aku tahu kata-kata ini seharusnya tidak boleh aku katakan, tapi,” Kila menghentikan perkataannya, sambil membuang lirikannya ke samping.
“Tapi, percaya atau tidak, aku telah menerima kakak menjadi suamiku. Murni, tanpa permintaan Gilang sebagai alasannya.”
Kila kembali menoleh ke arah Rama, saat mobil yang dikendarainya itu berhenti. Dia memejamkan matanya, saat wajah Rama sendiri semakin bergerak mendekat lalu mengecup bibirnya, “kau terlalu banyak berbicara hari ini. Apa kau lapar? Aku lapar karena sejak semalam belum memakan apa pun,” ucap Rama seraya kembali menyalakan mobilnya.
“Jadi kakak memintaku keluar hanya untuk mengajakku makan?”
“Apa ada tempat yang ingin kau datangi?” tanya Rama, dia menoleh ke arah Kila sebelum membuang kembali pandangannya.
“Apa kakak yakin? Karena seleraku, mungkin tidak setinggi kalian. Aku takut, kakak tidak bisa menelan makanan yang ada di sana,” saut Kila, dia bersandar dengan melirik ke arah Rama yang masih fokus membawa mobil.
“Ini seperti aku berbicara dengan patung, kenapa kakak berbicara dengan sangat hemat sekali,” sambungnya, dia tersenyum saat Rama membalas lirikan matanya.
“Justru semenjak kau datang, aku berbicara lebih banyak dibanding sebelumnya. Karena itu, aku tidak ingin menceraikanmu.”
‘Eh? Apa dia sungguh-sungguh mengatakannya? Aku tidak menyangka, jika dia juga bisa berbicara seperti ini,’ batin Kila dengan membuang pandangannya dari Rama.
“Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa tiba-tiba diam?”
“Kakak mengatakan sesuatu yang memalukan, bagaimana aku harus menanggapinya?” celoteh Kila, sambil mengusap punggung tangan Rama yang memegang pahanya.
'Sering-seringlah meninggalkan istri pertamamu seperti ini, karena aku bahagia melihatnya menderita,' Kila lagi-lagi membatin, dengan menggigit bibir untuk menyembunyikan rasa bahagia miliknya.
“Kau terlalu banyak berpikir-”
__ADS_1
“Kakak pun sama,” timpal Kila, dengan membalas genggaman tangan Rama padanya.