
Lalu Karen datang menghampiri Leon dengan segelas minuman kafein di tangannya. Wanita itu pun ikut bermain bersama baby Ar. Ia sesekali membernarkan posisi selang infusan karena balita itu sangat aktif sekali.
Karen menatap serius kearah Leon. Menyaksikan bagaimana pria di hadapannya ini yang betul-betul melupakan kenangan serta ingatan para masa lalunya, tapi begitu menyukai anak kecil. Bahkan, terlihat jelas jika baby Ar juga menyukai Leon.
Balita itu, terlihat senang dan nyaman bersama pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Karen sesekali ikut tertawa melihat Leon tergelak bersama baby Ar.
Ia melihat keduanya kayak seperti ayah dan anak. Kedekatan mereka seperti sudah terjalin lama.
Apalagi, di saat melihat Leon menciumi setiap inchi tubuh balita itu.
Angelina ternyata juga tengah memperhatikan dari jauh. Wanita itu juga heran campur bingung. Kenapa putranya bisa sebegitu dekat dengan pria yang notabene bukanlah keluarganya. Biasanya, hanya Adam yang mampu berbuat sedekat itu dengan balitanya yang tampan.
"Sayang," panggil Angelina seraya menatap wajah suaminya yang tampan itu. Hal itu membuat Adam langsung menoleh.
"Aku baik-baik saja. Mungkin, perasaan Leon yang tulus membuat putra kita nyaman. Aku bahkan berhutang budi padanya. Sebab, kedatangannya telah membuat Argon tenang," ungkap Adam dengan kebesaran hatinya. Pria itu selalu berpikiran positif mengenai apapun.
"Kau benar, Ad. Mungkin, bayi kita kini seakan mendapat teman yang cocok. Mungkin juga, dia perlahan bosan bermain denganmu," tambah Angelina seraya tertawa sesudahnya.
Adam pun sontak menoleh kembali ke arah istrinya pada saat menerima ledekan itu. "Apa katamu? Enak saja!" Adam mencubit dan menarik kenceng ujung hidung Angelina, lantaran gemas. Wanita itu pun mencebik di buatnya.
Adam dan Angelina memutuskan untuk menghampiri Leon dan Karen. Menurut mereka, Argon sudah terlalu lama bermain. Menurut saran dokter, balita itu harus memiliki istirahat yang cukup agar cepat stabil.
"Terimakasih, kalian sudah mau datang. Terutama, untuk anda tuan Leon," ucap Adam. Tatapannya mengarah lekat kepada pria yang masih memeluk sang putra dalam dekapannya.
__ADS_1
Leon pun menoleh dan tersenyum ramah. "Ini bukan masalah, Brother. Panggil nama saja, tanpa embel-embel tuan segala. Aku hanya gembel yang menumpang hidup pada wanitaku.
Jangan beri penghormatan yang tak layak kudapatkan," tutur Leon menjelaskan siapa dirinya. Walaupun, ia merasa tak perlu untuk menceritakan kecelakaan dan juga operasi yang di jalankannya.
"Anda jangan merendah. Siapa yang akan percaya jika gembel semenawan ini!" kilah Adam. Menurutnya, Leon lumayan asik juga. Pria itu ternyata supel dan suka humor.
"Itu benar, karenanya hal itu yang sempat menjadi keraguan bagi saya untuk menikah. Karena,untuk memberikan sebuah cincin pun saya tak memiliki uang. Apakah itu kurang menyedihkan untuk membuat anda percaya?" jujur Leon.
Pria itu sengaja mengungkapkan kerisauan dalam hatinya. Meksipun ia tau Karen sangat tidak menyukainya. Sebab, wanitanya itulah yang membiayai seluruh pernikahan keduanya nanti.
Karen, juga akan mencarikan Leon pekerjaan meskipun itu hanya sebagai seorang pegawai restoran. Baginya tak apa, asalkan pria itu nanti memiliki harga diri. Sebab, lelaki takkan mempunyai kebanggaan apabila dirinya tidak bekerja dan berpenghasilan.
Apalagi, Leon nanti tentu akan menghidupi istrinya. Pantas saja jika saat ini Leon merasa agak rendah diri. Ketika ia masih harus bergantung hidup pada seorang wanita seperti Karen.
"Wah, kalian akan menikah!" Adam justru menanggapi berita itu dengan bahagia. Sama sekali tidak berfokus pada curahan hati dari Leon. Atau, memang Adam sengaja membuat keadaannya seperti itu."Selamat, untuk kalian berdua. Semoga, rencana kalian berjalan dengan baik. Untuk anda, tuan Leon. Jangan berkecil hati. Wanita yang menerimamu apa adanya memang sudah langka di dunia ini. Karena itu, anda harus memeganginya kuat dan erat. Anda bisa mencari perkejaan nanti setelah kalian menikah bukan, perjuangan itu pasti akan sangat manis jika di peruntukan kepada sosok yang sangat kita cintai," tutur Angelina.
Karen yang berada tepat di samping Leon, meraih lengan pria itu dan menariknya mendekat. Hingga, Karen tiba-tiba melabuhkan ciumannya ke pipi Leon, dari samping.
"Jangan pernah ragu. Karena aku yang telah memilihmu. Bahkan, semesta lah yang sengaja mempertemukan kita. Hal yang kita lalui tidaklah mudah untuk bisa sampai ke tahap ini. Jadi, jangan pernah memikirkan apapun lagi selain pernikahan kita nanti," ucap Karen lembut dengan senyumnya yang sangat manis dan menentramkan.
Leon mengangguk malu. Sebab, Karen memperlakukannya begitu manis di depan Adam dan juga Angelina. Kedua pipi lelaki itu bersemu merah. Hal itu tentu saja sangat lucu. Pria berwajah tegas sepertinya bisa salah tingkah seperti itu.
"Kami berdua ikut bahagia mendengar dan melihat ini. Semoga, kalian cepat memberikan kawan bermain untuk Argon," ucap Adam tulus. Hatinya tenang, karena sikap Leon dan Angelina sudah tidak aneh lagi. Justru, ia melihat sinar akan perasaan yang tulus dari Leon terhadap Karen.
Terlepas dari siapa Leon sebenarnya yang ia tak tau. Juga latar belakang pertemuan mereka. Setidaknya Adam tenang bahwa kini pria berwajah ketimuran itu tak lagi menjadi alasan yang membuat hatinya tak tenang.
__ADS_1
Kedekatan antara putranya Leon yang notabene adalah orang asing ditengah-tengah mereka, akan ia bahas nanti dengan Laura. Bagaimana pun, Adam harus mendapat alasan yang logis mengenai ini.
"Halo pria kecil, hari ini bermainnya sudah dulu ya. Kau harus beristirahat agar cepat sembuh. Nanti datanglah ke pernikahanku dengan bibi Karen," ucap Leon pelan dan lembut di samping telinga kiri Argon.
Balita itu langsung mengalungkan lengannya ke leher Leon dan mencium pipi pria itu. Setelahnya, Argon membentangkan tangannya ke arah Adam, sang papa.
Balita itu, begitu mengerti dan penurut. Padahal tadi, dirinya sempat tantrum entah karena apa. Hingga, Angelina dan Adam sangat kewalahan untuk meladeninya.
Setelah baby Ar berada di dalam gendongan Adam. Leon dan Karen pun pamit. Mereka pun meminta alamat pada Adam untuk mampir mangantar surat undangan. Keduanya berkata akan berkeliling mengunjungi kawan dari Karen untuk mengirimkan undangannya secara langsung.
Adam mengangguk dan mengucapkan alamat penthouse yang kemudian di catat oleh Karen pada ponselnya.
Setelah kedua orang itu pamit, Adam dan Angelina kembali membawa baby Ar ke atas hospital bed. Angelina, memutuskan untuk menyusui baby Ar. Karenanya. Aziel dan Laura memutuskan untuk keluar.
Sebenarnya bisa saja Laura tetap di dalam. Tapi, suami dari Angelina itu tetap tak mau beringsut dari sisi Istrinya. Tentu saja, hal itu membuat Laura menjadi canggung.
Wanita itu memutuskan menunggu di depan seraya membuka ponselnya untuk membaca novel online.
Jangan berpikir juga Laura membaca kisah percintaan. Tidak! Wanita itu memilih membaca kisah fiksi seperti genre sistem karya author Chibichibi@. ( promo 🤪 )
Apa yang dia lihat pada ponselnya sampai begitu serius?
Aziel nampak penasaran.
Hal yang sangat jarang pria itu tunjukkan pada siapapun.
__ADS_1
...Bersambung ...