
Sejak usahanya menangkap Feby gagal, sampai saat ini Tuan Ibra tidak putus asa. Keadaan perusahaannya juga entah kenapa bisa seperti sekarang ini. awalnya dulu dia sudah curiga dengan laki-laki yang dekat dengan Feby adalah yang telah menyembunyikan mantan menantunya itu. Dan baru saja asistennya mengatakan kalau ada orang lain di balik hilangnya Feby, Tuan Ibra sangat yakin kalau benar dugaannya.
“Jangan-jangan Feby sudah menikah.” Gumamnya sambil mengacak rambutnya frustasi.
Sementara itu Reza sampai saat ini tidak pernah menemui Papanya. Dia beralasan kalau perusahaannya sedang dalam masalah besar dan mengharuskan ia mencari beberapa investor asing yang mau menyuntikkan dana besar. Tuan Ibra pun percaya. Padahal saat ini Reza sedang terbang ke negara lain untuk liburan sekaligus membuka cabang baru perusahaannya.
***
Keseharian Feby sekarang ini adalah selalu ikut suaminya ke kantor. kantor yang dalam bayangan Feby bisa membuat kepala pusing dengan banyak dokumen, namun itu tidak berlaku bagi dirinya yang hanya sebagai seorang pengangguran. Lebih tepatnya pengangguran ala istri sultan.
Meskipun sesekali Chandra ada meeting di luar, Feby pun masih sangat nyaman menikmati kesendiriannya di ruang kerja sang suami yang menyediakan fasilitas sangat lengkap.
Seperti hari ini, ia sedang tampak asyik menikmati waktunya di balkon sambil menikmati udara kota di sore hari. Feby sedang menyesap minumannya sambil berbalas pesan dengan Mamanya.
Semenjak keberangkatannya ke luar negeri hingga saat ini Feby baru memberi kabar pada Mamanya. Dia menceritakan pada Mamanya kalau hidupnya di sini sangat bahagia. Terlebih dengan pria yang sejak dulu mencintainya.
Pelangi pun ikut senang mendengar hal itu. Dia sangat bersyukur kalau pernikahan Feby yang kedua dapat membuat hati dan perasaannya bahagia.
Tanpa Feby dan Mamanya sadari, saat ini ada seseorang yang berhasil melacak keberadaan Feby sekarang. karena saat ini Feby sedang berikirim pesan dengan no selulernya yang lama yang sudah tidak pernah ia pakai semenjak mengasingkan diri di kota B dulu. Feby juga mengira kalau sudah tidak ada masalah lagi, karena dulu sengaja me-non aktifkan no seluler itu agar tidak bisa dihubungi oleh mantan mertuanya. Bahkan berkirim pesan dengan Reza saat itu juga dengan nomor yang baru.
“Ehm…”
Seseorang tiba-tiba saja berdeham saat melihat Feby tampak asyik dengan ponselnya. Bahkan dia juga senyum-senyum sendiri mengabaikan orang lain yang sedang ada di belakangnya.
__ADS_1
“Sedang berkirim pesan dengan siapa?” tanyanya dengan nada curiga lalu meletakkan dagunya di atas Pundak Feby.
“Eh, kamu sudah selesai meetingnya?” tanya Feby sedikit terkejut lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
“Sudah. Dan sudah berada di belakangmu sejak beberapa menit yang lalu. Namun sepertinya kamu sangat asyik hingga mengabaikanku.” Jawab Chandra lalu berdiri menjauhi istrinya dengan mode jutek.
Melihat suaminya sedang merajuk, Feby pun mendekati Chandra yang sedang berdiri di sisi pagar balkon. Feby juga menunjukkan isi pesannya.
“Lihat dan bacalah! Sejak tadi aku aku hanya berkirim pesan dengan Mama.” Ucap Feby lalu memberikan ponselnya pada Chandra.
Sekilas Chandra melihat isi pengirim pesan itu memang dari Mamanya. Dia pun tidak bisa lagi berkilah.
“Maaf. Aku hanya merasa kamu abaikan saja tadi. aku tidak tahu kalau kamu sedang berbalas pesan dengan Mama.” Ucap Chandra sambil memeluk tubuh istrinya.
“Apakah pekerjaan kamu hari ini sangat melelahkan?” tanya Feby ikut membalas pelukan suaminya.
“Ya seperti biasanya. Hanya saja hari ini lebih pusing dari sebelumnya. Tapi setelah memelukmu, rasanya penat ini hilang seketika.” Jawab Chandra lalu mengurai pelukannya dan menatap netra indah milik istrinya. “Terima kasih, Sayang! Kamu penyemangatku.” Lanutnya sambil mengecup bibir Feby.
Cup
Setelah itu Chandra bergegas mengajak istrinya pulang. karena waktu juga sudah sore meskipun masih setengah jam lagi waktunya pulang.
“Belum waktunya pulang, tapi kamu pulang duluan?” protes Feby saat berjalan keluar dari ruang kerja suaminya.
__ADS_1
“Apa kamu lupa kalau aku ini bosnya?” seloroh Chandra dengan sombong.
“Aku sama sekali tidak suka dengan perangai bos sombong seperti itu. Kalau bosnya rajin bekerja, berangkat, dan pulang kantor tepat waktu, otomatis karyawannya juga akan mengikuti jejak bosnya. Kalau seperti sekarang ini, yang ada karyawan kamu mengira kalau kamu adalah bos yang bekerja semaunya sendiri.” Gerutu Feby panjang lebar.
Chandra menghentikan langkahnya sejenak sebelum memasuki lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Dia merasa istrinya hari ini sangat cerewet dari sebelumnya. Padahal ini adalah pertama kalinya Chandra pulang lebih awal karena merasa badannya begitu lelah. Lagi pula pekerjaannya sudah selesai.
Lalu Chandra berbalik arah untuk kembali ke ruangannya. Feby menjadi semakin bingung dengan sikap suaminya.
“Kenapa kembali lagi? apa ada yang tertinggal?” tanyanya heran.
“Bukankah kamu tadi mengatakan kalau sangat tidak suka dengan perangai bos sombong yang bekerja seenaknya sendiri?” jawabnya cukup membuat Feby paham.
“Jadi kamu marah dengan ucapanku tadi?”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1