
#Flashback On
Sebenarnya keadaan Bryan akhir-akhir ini perlahan membaik. Tangannya sudah bisa digerakkan, dan sudah bisa berbicara meskipun dengan suara yang pelan. Hanya saja dia meminta Bu Dewi untuk tutup mulut, karena dia ingin memberikan kejutan pada sang Kakak. Selain itu Bryan juga ingin mengetahui alasan kenapa Sean selalu ada dimanapun saat David berada.
Hingga suatu ketika, Bryan meminta Bu Dewi untuk mengantarkannya ke ruang pribadi David. Bryan sungguh penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh kakaknya. Dan akhirnya dia menemukan sebuah brankas yang tertutup sebuah lukisan. Bryan meminta Bu Dewi untuk membuka brankas itu.
“Kenapa bisa dengan mudah dibuka? Harusnya sulit dibuka jika Bang David menyembunyikan sesuatu.” Batin Bryan.
Dan benar saja, saat Bu Dewi berhasil membuka brankas itu, di dalamnya tidak ada apa-apa. Hanya sebuah remote berukuran kecil. Lalu Bu Dewi mengambilnya dan memberikannya pada Bryan.
Saat sedang istirahat di kamarnya, Bryan membolak-balikan remote itu. Dia mencoba berpikir keras dengan fungsi benda itu. Bryan mulai mencari kegunaan remote itu melalui ponsel pintarnya. Dan betapa terkeejutnya saat dia mengetahui bahwa itu adalah remote pengendali bom yang ditanam dalam tubuh seseorang.
“Oh jadi selama ini Sean selalu menurut denga Bang David karena ini. baiklah, aku akan mempercepat kematianmu.” Ujarnya tersenyum sinis.
#Flashback Off
***
“Selamat jalan Sean Gabriel!” ucapnya sambil menekan tombol pada remote itu.
Booooommmmm
Semua orang terpental saat terjaadi ledakan yang cukup keras itu. bahkan kepingan daging segar manusia bercampur darah tampak berhamburan dan sebagian ada yang mengenai wajah mereka yang sedang ada di tempat itu.
Da-da Fredy bergemuruh hebat. Bayangan masa lalunya kembali terngiang dimana dia telah meledakkan bom pada tubuh papanya sendiri. Dan kejadian itu terulang kembali. Dia kembali menjadi pembunuh.
Situasi di tempat itu sangat hening pasca ledakan yang cukup keras. Namun hati Fredy masih diliputi perasaan tak tenang. Otaknya pun dipaksa untuk berpikir keras dengan ledakan yang beberapa menit terjadi.
Harusnya bom yang ditanam dalam tubuh Sean jika meledak tidak akan menimbulkan efek seperti ini. meski tubuh yang ditanam bom hancur, namun tidak akan terjadi ledakan yang begitu keras, kecuali ada senjata api yang dekat dengan korban. Karena akan memberikan sinyal kuat hingga meledak keras seperti tadi.
__ADS_1
“Tunggu dulu, bukankah yang membawa senjata tadi pria tua itu?” batin Fredy. Lalu dia melihat remote yang masih ada dalam genggamannya yang menunjukkan proses penonaktifannya berhasil.
Mata Fredy memindai ke sekeliling dan dia melihat Sean baru saja beranjak setelah ikut terpental akibat ledakan tadi. seketika rasa sesak dalam dadanya perlahan hilang berganti rasa lega. Ternyata yang meledak adalah bom pengendalinya. Dia berhasil lebih dulu menonaktifkan bom pada tubuh Sean sebelum Bryan menekan tombol yang akan meledakkan tubuh Sean.
Sementara Bryan yang jatuh tersungkur dari kursi rodanya, perasaannya begitu hancur setelah mengetahui fakta bahwa dirinya justru membunuh sang kakak.
“Bang, aku…aku tidak bermaksud membunuhmu.” Ucapnya dengan suara bergetar pada serpihan daging segar dari tubuh David.
Bryan melihat sekeliling. Dia mencari Sean namun tak bisa menemukannya, dan posisi yang terdekat darinya hanya Xander. Terlihat pria itu juga tersungkur dan berusaha bangun. Bryan meraih sebuah pistol milik anak buah David yang tergeletak di lantai.
“Kamu juga kut andil dalam kecelakaanku dulu, dan kamu juga harus meregang nyawa sekarang juga.” gumamnya sebelum menarik pelatuk pistolnya.
Dooorrrr
“Selamat jalan!”
Sean melempar pistol yang baru saja ia gunakan untuk menembak Bryan begitu saja. Meski tubuhnya bergetar hebat, namun dia sangat lega akhirnya dia selamat dan keempat temannya juga.
“Kalian semua baik-baik saja?” tanya Sean menghampiri Fredy, Xander, Leon, dan Marsha.
Keempat orang itu mengangguk dengan tersenyum tipis. Meski keadaan masing-masing begitu kacau dengan beberapa luka.
“Tuan, lebih baik anda segera melakukan operasi pengambilan bom yang sudah tidak aktif itu.” ucap Fredy.
“Baiklah!” jawab Sean.
Akhirnya Sean berangkat ke rumah sakit dengan ditemani oleh Fredy dan Xander. Sedangkan Leon dan Marsha akan menyelesaikan kekacauan yang masih tersisa dan membawa Bu Dewi untuk diserahkan ke kantor polisi dengan tuduhan penculikan.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sean selalu bertanya tentang isstri dan anak-anaknya pada Xander. Sean ingin sekali segera bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya. Namun Xander tidak mengatakan tentang keadaan Lidia saat ini.
__ADS_1
“Istri dan anak-anakmu baik-baik saja. Lebih b aik sekarang fokuslah dengan operasi yang akan kamu lakukan.” Ucap Xander berusaha mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
*TBC
Ploooong bgt yaaa😁😁🤗🤗
Happy Reading‼️
Guys, othor mau kasih tahu siapa aja yg beruntung menang give away reader paling rajin kasih komentar ya..
masing² nanti akan dapat pulsa 25k. bagi yg terpilih silakan dm othor melalui akun ig @dee_k9191. dan bagi yg belum beruntung jgn berkecil hati. masih ada kesempatan GA lain yg nanti akan othor kasih tahu ketentuannya.
bagi yg punya akun di bawah ini silakan dm👉
Terima kasih🤗🤗
__ADS_1