Suami Kedua

Suami Kedua
KDRT


__ADS_3

Selain ngidamnya aneh-aneh, dan moody, ternyata Lidia juga sangat posesif terhadap sang suami. setiap kali melihat suaminya keluar rumah, walaupun pergi ke kantor, Lidia selalu mencurigainya. Semua itu karena ia takut kehilangan pria yang sangat ia cintai.


Tanpa penolakan, akhirnya Sean pergi ke bandara mengajak anak perempuannya.


Perjalanan dari rumah ke bandara membutuhkan waktu kurang lebih selama tiga puluh menit. Sean sangat senang setelah sekian lama tidak bertemu dengan sahabatnya, akhirnya hari ini Xander lah yang menyempatkan waktunya untuk datang berkunjung ke negaranya. Mengingat Lidia saat ini sedang hamil, jadi Sean sama sekali tidak bisa meninggalkannnya. Apalagi meninggalkan ketiga anaknya.


Mobil Sean sudah tiba di bandara. Lalu pria itu menggandeng Viana menuju ruang tunggu kedatangan dimana Xander sudah sampai sejak tadi.


“Tante! Om!” teriak Viana lalu berlari menuju Xander dan Silvia yang sedang duduk.


Xander yang mendengar teriakan Viana pun terlebih dulu berdiri dan menyambut Viana dengan memeluknya. Sedangkan Silvia masih sibuk dengan bayinya yang masih berusia sekitar enam bulan.


“Hai keponakan Om, tambah cantik saja?” sapa Xander sambil mencubit pipi Viana dengan gemas.


Tak lama kemudian Xander menyapa sahabatnya dan saling berpelukan. Tidak dipungkiri kalau kedua sahabat itu juga saling rindu setelah sekian lama tidak berjumpa.


“Sudah, lebih baik kita segera pergi. Satpam rumah sudah menyuruhku cepat pulang.” ucap Sean kemudian.


Xander dan Silvia tampak bingung dengan pernyataan Sean. Satpam siapa yang dimaksud pria itu. Dan kenapa Sean sepertinya takut dengan seorang satpam.


“Ayah!! Mau aku aduin ke Mama?” tanya Viana dengan nada tegas karena tidak terima mamanya dikatain satpam.


Sean hanya tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya. Dia lupa kalau semua anaknya selalu membela istrinya. “Ayah hanya bercanda, Sayang. Sudah ayo kita ke mobil.” Ucapnya kemudian


Sepasang suami istri itu hanya menahan tawanya setelah tahu apa yang dimaksud Sean dengan sebutan satpam tadi. ya, meskipun mereka sangat penasaran kenapa Sean bisa mengatai istrinya sendiri seperti satpam yang bisa membuatnya takut.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada dalam mobil. Xander duduk di jog depan bersama Sean. Sedangkan Viana dengan Silvia.


Viana tampak asyik menggoda Michelle, anak Silvia yang sangat menggemaskan. Sedangkan Sean dan Xander membicarakan masalah pekerjaan.


Beberapa saat kemudian, mobil Sean sudah sampai rumahnya. Benar saja si pemilik rumah yang sempat dikatai Sean sebagai satpam tadi sudah berdiri di depan teras menyambut kedatangan Xander dan Silvia.


Dengan perut yang sudah membesar, Lidia tersenyum hangat saat lemihat Silvia keluar lebih dulu dari mobil sambil menggendong anaknya.


Kedua wanita itu saling berpelukan melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Kemudian Lidia menyapa Xander hanya saling berjabat tangan.


“Ayo kita masuk!” ajak Sean.


“Tunggu dulu!” Lidia menghentikan langkah Sean yang akan memasuki rumah. dan sontak saja Xander, Silvia, dan juga Viana ikut berhenti.


Lidia mendekati suaminya, lalu mencium aroma tubuh Sean seperti sedang mengendus sesuatu. Lidia mencoba mencari aroma parfum selain yang dipakai suaminya.


“Sayang, bukankah aku mengajak juga mengajak Viana? Jadi, tidak-“


“Bohong, Ma! Ayah tadi sempat bertemu dan berpelukan dengan wanita bule yang sangat cantik.” Celetuk Viana tiba-tiba dan anak itu segera berlari masuk terlebih dulu.


Lidia yang sudah termakan dengan omongan Viana, langsung menghadiahi cubitan keras pada perut Sean. Sedangkan Xander dan Silvia hanya terkekeh lalu memilih masuk rumah terlebih dulu.


Sean memasang wajah masamnya setelah mendapat amukan dari istrinya. Dia benar-benar geram dengan Viana yang selalu saja usil mengerjai ayahnya sendiri.


“Sayang, tega sekali kamu melakukan KDRT.” Lirihnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah. sementara Lidia hanya diam saja.

__ADS_1


**


Xander dan Silvia menghabiskan waktu liburannya selama satu minggu. Karena kebetulan bertepatan dengan libur akhir tahun. Jadi Xander tidak disibukkan dengan pekerjaannya.


Sepasang suami istri itu ikut bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya yang kini akan diberi momongan lagi. meskipun baik Lidia maupun Sean menceritakan kalau kehamilannya yang terakhir ini benar-benar berbeda dari ketiga anaknya yang lain. Xander hanya bisa meminta Sean agar selalu sabar. Karena mungkin ini adalah cobaannya.


Sean dan Lidia juga bahagia melihat Xander dan istrinya tampak harmonis. Bahkan Xander yang sejak dulu dikenal sebagai lelaki dingin dan kaku, sekarang bisa bersikap hangat terhadap keluarganya. Ternyata cinta memang mampu mengubah segalanya.


Waktu satu minggu telah habis. Hari ini Xander dan Silvia memutuskan untuk pulang. walau Silvia masih berat meninggalkan anak-anak Lidia yang sudah seperti anaknya sendiri, namun bagaimanapun juga ia harus tetap pulang.


“Nanti kalau aku sudah lahiran, aku janji akan berkunjung kesana.” Ucap Lidia menenangkan hati Silvia yang tampak galau.


“Andai saja kamu tidak tinggal di luar negeri, pasti kita sering bertemu.” Bisiknya saat kedua wanita itu saling berpelukan.


Lidia hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sebenarnya dia juga ingin sekali pulang dan bisa kembali tinggal menetap di sana, namun lagi-lagi dia harus menurut dengan suaminya.


Setelah berpamitan, Xander dan Silvia segera bertolak ke bandara yang akan membawanya pulang.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2