
“Kalau kamu mau ikut aku, ayo kuliah di sini saja!”
Chandra membalas seperti itu saja tanpa banyak komentar mengenai Feby yang tinggal di luar negeri. lagi pula memikirkan perempuan itu. Yang ada hati semakin sakit jika mencintai milik orang lain.
Setelah itu Chandra tak lagi mendapat balasan dari Fico. Dia memilih keluar dari kamar tanpa membawa ponselnya. Chandra ingin refreshing sejenak untuk menikmati udara sore hari. Karena suasana di rumah sepupunya sedang kurang kondusif. Sepertinya memang sedang ada masalah dengan Gita yang sebentar lagi akan menikah. Entahlah, Chandra juga tidak mau ikut campur terlalu jauh dengan masalah keluarga Iqbal saat ini. Chandra di sini hanya menumpang. Cukup diam dan menurut saja.
Chandra pergi jalan-jalan dengan menggunaka motor milik Daniel. Kebetulan memang sedang tidak dipakai. Chandra berhenti di sebuah café yang suasananya tidak begitu ramai. Café tersebut berada di outdoor, jadi dia bisa menikmati minuman sambil melihat pemandangan kota di sore hari.
Seorang pelayan datang mengantar pesanan Chandra. Setelah mengucapkan terima kasih, Chandra meminum minuman itu.
Pandangan Chandra tertuju pada beberapa pengunjung café yang datang dengan pasangan mereka masing-masing. Ada juga yang datang dengan temannya. Mungkin dari banyaknya pengunjung, hanya Chandra yang sendirian. Mengsedih sekali nasibnya menjadi jomlo.
“Ehm, maaf. Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang gadis seusia Chandra yang tiba-tiba menghampiri meja Chandra.
Chandra yang terkejut masih tampak diam. Hingga membuat gadis itu merasa tak enak.
“Maaf. Kalau kamu sedaang menunggu seseorang.” Ucapnya lagi.
“Oh tidak, silakan saja duduk!” jawab Chandra kemudian.
Gadis itu tampak kegirangan. Namun dia berusaha menyembunyikan perasaannya.
Sejak tadi gadis itu sudah tertarik dengan wajah Chandra yang sangat tampan. Kebetulan juga dirinya datang sendirian. Jadi dia berniat untuk mengajak Chandra kenalan.
“Perkenalkan, namaku Mery!” ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Chandra.
__ADS_1
“Aku Chandra.” Jawab Chandra membalas uluran tangan gadis itu.
Chandra lebih banyak diam saat Mery yang menurutnya terlalu banyak bicara. Bahkan Chandra terlihat bosan dengan gadis itu. Kalau sudah begini, niat refreshingnya gagal total.
“Oh iya, Chan. Aku sedang buru-buru nih mau pergi. Kasih no ponsel kamu dong, kali aja kita bisa nongkrong lagi.” pinta gadis itu.
“Ah, maaf aku sedang nggak bawa ponsel. Kebetulan juga sedang disita Mama.” Jawab Chandra.
“Disita?” tanya Mery bingung.
“Iya. Gara-gara aku ketahuan habisin uangnya. Jadi ponselku sekarang disita. Ini aja tadi aku juga nekat datang ke café walau tak membayar uang sepeserpun.” Jawab Chandra pura-pura sedih.
Mery langsung beranjak dari duduknya dengan menempelkan ponsel di telinganya pura-pura sedang menerima panggilan. Tanpa berpamitan pada Chandra, Mery pergi begitu saja karena takut diminta oleh Chandra untuk membayar minumannya.
Chandra menghabiskan minumannya, setelah itu dia membayarnya lalu pulang.
***
Hari pernikahan sepupu Chandra tinggal beberapa hari lagi. saat ini Chandra akan pergi ke bandara menjemput keluarganya. Rasanya Chandra sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orang tua dan adik-adiknya. Karena sudah lama dia tidak berjumpa dengan mereka setlah beberapa bulan. Walau komunikasi tidak pernah putus, namun beda rasanya jika tidak bertemu secara langsung.
Chandra kini sudah berada di bandara. Dia melihat Mamanya sedang berjalan menggandeng Mirza. Di belakangnya ada Viana dan Kavi yang sedang menarik koper. Lalu dimana Ayahnya.
“Kakak!!” teriak Viana dan Kavi bersamaan.
Kedua kakak beradik itu seolah ingin berebut Chandra. Siapa yang paling cepat berlari, maka dia yang lebih dulu bisa memeluk Chandra. Namun Chandra justru menghindar. Dia juga ikut mempercepat langkahnya sambil merentangkan tangan. Namun Chandra lebih cepat memeluk mamanya.
__ADS_1
Seketika Viana dan Kavi mengerem mendadak dan wajahnya berubah kesal. Namun Chandra tak peduli.
“Mama! Mama apa kabar? Apa Mama sehat? Lalu kemana Ayah?” tanya Chandra bertubi-tubi.
“Mama jadi bingung, yang mana dulu yang harus Mama jawab.”
“Terserah Mama deh. Yang penting jawab semua.” Ucap Chandra sambil melanjutkan langkahnya dengan menggandeng Lidia menuju parkiran.
Lidia tersenyum melihat anak sulungnya yang sepertinya sudah bisa melupakan Feby. Terlihat dari wajah Chandra yang begitu ceria. Berbeda saat baru saja akan berangkat ke kota ini beberapa bulan lalu.
Sambil berjalan, Lidia menjawab pertanyaan Chandra satu per satu. Dan mengenai ayahnya, Lidia mengatakan kalau kemarin Sean mendadak harus terbang ke luar negeri karena ada sedikit masalah dengan perusahaan yang dikelola oleh Fredy.
“Apa masalahnya sangat serius, Ma?" Tanya Chandra khawatir.
“Ayah kamu tidak mengatakan apapun, Chan. Lebih baik nanti kamu tanyakan saja langsung pada Kak Fredy.” Jawab Lidia dan Chandra hanya menganggukkan kepala.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1