
Sean menatap sang istri penuh tanya. Dia tidak mengerti dengan maksud ucapan Lidia baru saja.
“Sepertinya baru saja ada seseorang yang melamar pujaan hatinya.” Ucap Lidia.
Silvia kembali menunduk. Dia sangat malu karena merasa Lidia mengetahui cincin di jari manisnya. Sedangkan Xander terlihat biasa saja.
“Dari mana kamu tahu, Sayang?” tanya Sean semakin bingung.
Kemudian Lidia memberi kode dengan melirik jari manis Silvia yang tersemat cincin. Sean akhirnya mengerti. Dia pun ikut bahagia, akhirnya sahabatnya sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Sean.
“Aku dan Silvia sebentar lagi akan pulang. Kita akan segera meresmikan hubungan ini.” jawab Xander.
“Syukurlah aku sangat senang mendengarnya.” Sahut Sean.
“Tapi, Nyo- eh maksudku, Li…dia. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dari Kavi. Bayi ini sudah seperti anakku sendiri.” Sahut Silvia sambil menatap wajah Kavi yang sedang dalam gendongannya.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan, Silvia. Aku berjanji, nanti akan mempertamukan kamu dengan Kavi kembali. Tapi bukankah setelah kamu menikah, kamu akan membuat bayi sendiri?” godanya dan membuat Silvia semakin tertunduk malu.
Xander justru senyum-senyum sendiri merasa ucapan Lidia sangat benar. Dan tanpa ia ketahui, ternyata Sean bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Lalu Sean membisikkan sesuatu tepat di telinga Xander. Sontak saja menghentkan senyumnya, lalu melirik dengan tatapan sinis.
Waktu sudah malam. Lidia mengambil Kavi dari gendongan Silvia untuk diajak masuk ke kamar. karena mulai malam ini Kavi akan tidur bersama dengan mamanya sendiri. Silvia pun akhirnya ijin masuk ke kamar terlebih dulu karena sangat lelah.
__ADS_1
Kini di ruang tengah hanya ada Sean dan Xander. Namun tak lama kemudian, terlihat Fredy yang baru saja masuk setelah menghabiskan waktunya di luar rumah.
“Fred, kesinilah sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Sean.
Tanpa menjawab, Fredy dengan patuh duduk di hadapan Sean.
Sebelum Sean berbicara dengan Fredy, Xander terlebih dulu meminta maaf pada Fredy. Karena selama ini banyak salah pada Fredy. Bahkan dia sempat meragukan kemampuan pria itu. Fredy hanya mengangguk. Lagipula pria itu tak terlalu suka memperpanjang masalah.
“Xander, jika kamu nanti akan pulang bersama Silvia, aku minta sementara perusahaan pusat dan cabang kamu pegang dulu. Aku akan menyelesaikan perusahaan yang ada disini dulu bersama dengan Fredy.” Ucap Sean.
Xander mengangguk. Namun dia tidak mengerti apa maksud perusahaan yang ada disini. Lalu Sean menjelaskan pada Xander, bahwa beberapa perusahaan yang selama ini milik David, akan ia alihkan menjadi miliknya. Karena memang semua itu kerja keras Sean sendiri, meski saat itu di bawah tekanan David. Namun sebagain ia akan mengembalikan beberapa saham yang memang bukan hak dirinya. Dan semua itu Sean membutuhkan bantuan Fredy.
“Jadi Fred, apakah kamu tidak keberatan untuk tinggal disini dan membantuku mengurus semuanya?” tanya Fredy.
Pria itu mengangguk patuh dan sama sekali tidak keberatan. Sean akhirnya lega.
“Baiklah. Apapun yang akan kamu lakukan, aku percaya sama kamu, Sean. Kalau kamu butuh bantuan, katakan saja padaku.” ucap Xaander.
***
Hari berlalu begitu cepat. Sudah seminggu kepulangan Lidia dari rumah sakit. Dan selama itu keadaan Lidia juga perlahan membaik. Dia sudah bisa menguru bayinya sendiri tanpa bantuan Silvia.
Dan haru ini juga Xander dan Silvia akan pulang. mereka berdua telah sepakat untuk segera meresmikan hubungannya. Namun lag-lagi Silvia merasa sangat sedih karena harus berpisah dnegan anak-anak Lidia.
__ADS_1
Sebuah koper besar telah Xander siapkan di ruang tamu. Dia masih setia menunggu sang kekasih yang sejak tadi enggan melepas Kavi dari gendongannya. Lidia dan Sean pun hanya bisa membiarkan Silvia seperti itu.
“Setelah menikah, cepatlah kamu buat istri kamu hamil. Biar Silvia tidak galau terus seperti ini.” ledek Lidia, namun pandangannya tertuju pada Xander.
Jika Xander hanya senyum-senyum tidak jelas, beda dengan Silvia yang selalu malu jika disinggung dengan hal seperti ini. akhirnya Silvia memberikan Kavi pada Lidia.
“Baiklah, aku dan Silvia berangkat dulu.” Pamit Xander.
Setelah itu mereka berpelukan sebentar sebelum masuk ke mobil dimana ada Jonathan yang sedang menunggunya.
Xander dan Silvia kini sedang menuju bandara yang akan mengantar mereka kembali ke kampung halaman. Sejak tadi Silvia memilih diam dalam pelukan Xander.
“Kamu baik-baik saja? Apa kita membatalkan kepulangan kita saja?” tanya Xander karena merasa sedih melihat Silvia yang tidak rela meninggalkan anak-anak Lidia.
“Tidak. Maafkan aku. aku ingin segera pulang. aku sangat merindukan Deva dan Angel.” Jawab Silvia.
Xander teringat dengan dua nama adik Silvia masih kecil itu. Bagaimana rekasi dua anak itu jika sebentar lagi Silvia akan menjadi istrinya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️