
Setelah mendapatkan beberapa obat dan vitamin, dan keadaan Lidia sudah pulih, Lidia pun diperbolehkan pulang.
Dalam perjalanan, Sean terus menggenggam lembut tangan istrinya. Dia benar-benar sangat bahagia dengan kehamilan istrinya. Sean berjanji akan selalu menemani masa-masa kehamilan Lidia dan selalu memenuhi keinginan istrinya selama hamil. Sean ingin menebus waktunya dulu ketika hamil Kavi tidak bisa menjaga maupun menemaninya.
Kini mobil Sean sudah tiba di rumah. keaadaan rumah masih penuh dengan keramaian hiasan pesta ulang tahun Kavi. Bahkan semua orang juga masih berada dalam ruang tengah sembari menemani anak-anak Lidia bermain dan menunggu kabar dari Lidia.
“Mama!!!” teriak ketiga anak Lidia saat melihat mamanya sudah kembali.
Bibi Anne, Jonathan, dan juga Fredy ikut berdiri dari duduknya saat melihat Lidia pulang dari rumah sakit. Wajah ketiga orang yang sempat ikut cemas itu pelahan pudar setelah melihat keadaan Lidia baik-baik saja.
“Apakah Nyonya baik-baik saja?” tanya Bibi Anne.
“Istriku baik-baik saja, Bi. Dan ada kabar bahagia dari kami. Lidia sekarang sedang hamil.” Jawab Sean.
Semua orang terperangah, terkejut, terharu, dan pastinya sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Bibi Anne berjalan mendekat lalu memeluk Lidia dengan erat. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika Lidia akan dikaruniai anak lagi.
“Selamat, Nyonya. Bibi senang mendengarnya.” Ucapnya penuh haru.
“Terima kasih, Bi.” Jawab Lidia.
Setelah itu Lidia melirik Chandra yang ikut berdiri diantara orang-orang dewasa itu. Lidia memanggil Chandra lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Sayang, apakah Chan senang jika akan memiliki adik lagi?” tanya Lidia dengan sedikit khawatir jika Chandra tidak senang memiliki adik lagi.
Chandra mengurai pelukannya, lalu mengusap air mata mamanya dan mencium keningnya.
“Kenapa Mama menangis? Chan sangat senang akan memiliki adik lagi. jadi akan bertambah lagi adik Chan yang akan membantu Ayah untuk melindungi Mama.” Jawab Chandra.
Lidia kembali memeluk Chandra. Dia tidak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut anak pertamanya. Bahkan semua orang yang ada di ruangan itu ikut terharu. Khususnya Sean. Dia sangat bangga memiliki putra seperti Chandra. Meskipun bukan darah dagingnya sendiri.
**
Seperti janji Sean, selama kehamilan istrinya, ia akan selalu menuruti kemauan Lidia. Dan Sean benar-benar menjaga kandungan istrinya dengan baik. Walau terkadang Sean hampir putus asa menghadapi mood buruk istrinya dan ngidamnya yang sangat aneh.
Mungkin dulu saat Sean masih menjadi asisten pribadi Billal, dan Lidia tengah hamil Chandra dia sama sekali tidak keberatan jika mendapatkan perintah bosnya saat Lidia menginginkan makan sesuatu yang susah dicari. Namun kali ini berbeda. Janin dalam kandungan Lidia saat ini benar-benar menguji kesabaran Sean. Bahkan Lidia sendiri juga heran dengan kehamilannya yang keempat ini. benar-benar berbeda dari ketiga anaknya.
Andai saja sedang tidak tinggal di luar negeri, pasti Sean akan berkeliling mencari makanan itu walau malam sudah larut sekalipun. Sayangnya di luar negeri, meskipun ada restaurant yang menjual masakan khas Indonesia, namun restaurant itu tidak mungkin buka di jam-jam seperti ini.
“Sayang, besok saja ya beli nasi padang sama pempeknya?” bujuk Sean.
Air liur yang sudah hampir menetes saat bermimpi makan makanan itu kini membuat hati Lidia seketika mendung kala tak mendapatkan jawaban memuaskan dari Sean. Wanita itu langsung bangun dari tidurnya dengan membawa selimut dan menuju sofa ruang tengah.
Kalau sudah begini, Sean benar-benar frustasi. Pastinya kemarahan istrinya itu akan berlanjut sampai berhari-hari jika keinginannya tidak terpenuhi. Lalu dengan cepat Sean menahan tubuh Lidia yang hampir saja meraih handle pintu.
__ADS_1
“Sayang, bagaimana kalau memasak sendiri?” tawarnya yang menurut Sean solusi paling jitu walau dia tidak tahu bagaimana cara memasaknya.
“Jam segini restaurant khas Indonesia tidak ada yang buka.” Tambahnya dengan wajah memelas.
Lidia masih terdiam memikirkan solusi yang diberikan Sean. Memang benar yang dikatakan oleh suaminya, mana ada restaurant Indonesia yang masih buka di jam seperti ini.
“Baiklah. Aku tunggu satu jam lagi masakan itu harus sudah siap.” Jawab Lidia lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sean melotot tajam setelah mendengar jawaban istrinya. Bagaimana mungkin dia membuat masakan padang beserta pempek dalam waktu satu jam saja. Untuk memastikan bahan-bahan membuat semua masakan itu tersedia apa tidak saja, Sean tidak tahu. Namun jika menolak dan banyak alasan, pastinya Lidia akan semakin murka padanya.
“Waktu kamu sudah berkurang lima menit.” Peringat Lidia saat melihat suaminya masih terdiam di depan pintu.
Sean gelagapan lalu segera keluar kamar dengan rasa kesal yang begitu sesak dalam dadanya. Ingin memaki, namun ada calon buah hatinya dalam kandungan Lidia.
“Sabarrrr!!!” gumamnya sendiri sambil mengusap dadanya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️