Suami Kedua

Suami Kedua
Menahan Kesal


__ADS_3

Xander hanya tersenyum samar saat melihat tingkah Silvia yang ia tinggal masuk ke dalam kamar hotel lebih dulu. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada dalam kamar. Silvia kembali dilanda kegugupan. Entahlah, biasanya juga dia sering berduaan dengan Xander tapi tidak segugup saat ini. rasanya malam ini adalah malam yang paling mengerikan baginya.


“Kamu atau aku dulu yang mandi?” tanya Xander membuyarkan lamunan Silvia.


“Aku duluan saja. Badanku sudah gerah sejak tadi.” jawabnya cepat dan berlalu begitu saja.


Sedangkan Xander memilih duduk di balkon sambil menyesap batang rokoknya sembari menunggu istrinya selesai mandi. tatapan mata Xander menerawang jauh melihat langit malam yang dipenuhi dengan bintang. Senyum tipis pun terbit dari bibirnya seolah sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sangat senang. Entah itu apa. Bahkan tanpa sadar, Xander mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sesuatu yang ia rencanakan berjalan lancar.


Terdengar deritan pintu kamar mandi terbuka. Xander segera mematikan rokoknya dan bergantian mandi. sedangkan Silvia tampak duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Perempuan itu pura-pura sibuk dan tidak menoleh ke arah sang suami.


Setelah memastikan rambutnya kering, baru lah Silvia berganti pakaian. Dia memilih baju tidur santai, karena memang tidak menyiapkan baju haram untuk menyambut malam pertamanya dengan sang suami. bagi Silvia, mau pakai baju haram ataupun halal, ujung-ujungnya juga akan dilepas semua.


“Astaga!! Mikir apa sih ini otak.” Gumamnya pelan.


Setelah itu Silvia menaiki ranjang sembari menunggu Xander selesai mandi. Silvia memilih sibuk dengan gadgetnya, yang sedikit membantu mengurangi kegugupannya.


Cklek


Aroma wangi dari tubuh Xander yang baru saja keluar dari kamar mandi memenuhi indra penciuman Silvia. Perasaan tadi dia juga mandi dengan sabun dan shampoo yang sama, tapi kenapa bau Xander lebih tajam. Apakah pria itu menghabiskan semua sabun dan sabun. Silvia menggelengkan kepalanya pelan.


“Sayang? Kamu kenapa?” tanya Xander yang kini sudah mendekati posisi Silvia.


Seketika jantung Silvia rasanya seperti mau lepas dari tempatnya. Setelah itu ia merasakan hawa panas di sekelilingnya.


Xander meraih dagu Silvia agar menghadap padanya.


“Lihat aku!” ucap Xander dengan lembut saat melihat Silvia hanya tertunduk.

__ADS_1


Perlahan Silvia menurut dan memberanikan diri menatap manik hitam milik pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.


“Apa kamu meragukan cintaku?” tanyanya lembut.


Silvia hanya menggelengkan kepalanya.


Xander tersenyum setelah melihat jawaban dari istrinya. Kemudian tangannya terulur menarik tubuh Silvia ke dalam pelukannya. Hatinya sungguh bahagia. Penantian panjangnya kini telah usai setelah resmi menjadi pasangan suami istri. Kini tugasnya tinggal bertanggung jawab memberikan nafkah lahir batin dan membahagiakan perempuan itu.


Xander mengurai pelukannya lalu menatap manik kecoklatan milik Silvia.


“Apakah kita bisa melakukannya sekarang?”


Lagi-lagi Silvia hanya menjawab dengan Bahasa isyarat, yaitu anggukan kepala. Meski dia sedang dilanda kecemasan dan kegugupan, namun ini sudah waktunya untuk menyerahkan tubuhnya dan juga hatinya pada Xander.


Cup


Namun saat Xander akan mengulanginya lagi, tiba-tiba saja terdengar suara deringan ponsel yang memekakkan telinga. Pria itu menahan kesal dan merasa teledor karena tidak menonaktifkan ponselnya sejak tadi.


Terpaksa Xander menjauh dari Silvia dan mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Rasa kesal yang belum reda akibat deringan ponsel itu, kini Xander dibuat lebih kesal setelah melihat id caller yang ada dalam ponselnya. Yaitu Sean.


“Apa kam-“


“…..”


Belum sempat Xander memaki si penelepon itu, suaranya tercekat ketika yang bicara bukan Sean. Melainkan Lidia. Kemudian Xander bergegas keluar kamar meninggalkan Silvia begitu saja.


“Xander, ada apa?” tanyanya yang juga ikut cemas.

__ADS_1


“Maaf. Kamu tunggu disini saja, aku akan segera kembali.”


Xander sangat khawatir mendengar kabar dari Lidia kalau Sean tergeletak pingsan dengan perutnya mengeluarkan darah. Xander yakin kalau itu pasti luka bekas operasi yang pernah ditanam bom oleh David saat itu.


Xander berjalan tergesa memasukin kamar Sean yang kebetulan tidak dikunci. Wajahnya begitu panik saat melihat baju Sean sudah penuh darah. Namun Lidia tidak ada di dalam kamar itu. Mungkin wanita itu sedang meminta pertolongan untuk membawa suaminya ke rumah sakit.


“Sean! Bertahanlah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit.” Ucapnya dengan cemas.


Sean sama sekali tidak memberikan respon. Matanya tertutup rapat dengan bibir yang sudah pucat. Xander berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Sean dan membawanya keluar kamar untuk segera dilarikan ke rumah sakit.


Karena fokus dengan keadaan Sean, Xander tidak sadar kalau ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu.


Bugh


Orang itu memukul tengkuk Xander dengan cukup kuat hingga pria itu pingsan seketika. Dan Sean ikut jatuh tergeletak di samping Xander.


.


.


.


*TBC


Siapa itu?


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2