
Setelah mengatakan itu, Sean kembali ke ruang kerjanya. Namun langkahnya terhenti saat istrinya mencekal tangannya.
“Ada apa?”
“Bagaimanapun juga kita harus mengatakan tentang kepindahan kita ke anak-anak. Nanti malam setelah makan malam aku harap kamu bilang pada Chandra dan Viana.” Jawab Lidia.
Sean hanya mengangguk. Lalu dengan langkah tergesa keluar dari kamarnya menuju ruang kerja.
Sean harus mengatakan rencana kepulangannya ini pada Fredy. Jadi nanti malam dia juga akan mengundang Fredy untuk makan malam sekaligus membicarakan semua itu. Karena sejak dua tahun yang lalu setelah menikah dengan rekan kerjanya, Fredy memilih tinggal sendiri dengan membeli rumah hasil jerih payahnya selama ini.
Malam harinya, semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Keadaan Mirza sudah pulih. Namun anak itu terus menempal pada ayahnya dan tidak mau lepas dari gendongan Sean.
Usai makan malam, Sean mengajak semua anaknya berkumpul di ruang tengah. Termasuk Fredy, yang kebetulan dia hanya datang sendiri tanpa istrinya.
“Fred, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Perusahaan yang ada di Indonesia saat ini sedang ada masalah besar. Tidak ada pilihan lain selain aku harus pulang dan menanganinya sendiri. Maka dari itu aku titipkan perusahaan yang ada di sini padamu.” Ucap Sean.
Fredy masih diam. Dia juga bingung saat diberi amanat oleh bosnya seperti itu. Apakah ia mampu manjalankan perusahaan sebesar itu sendirian.
“Aku yakin dengan kemampuan kamu. Aku sangat percaya denganmu. Jadi aku minta tolong agar kamu tidak menolak perintah ini.” lanjut Sean dengan mengiba.
Fredy pun akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan.” Jawabnya tegas.
“Terima kasih.” Ucap Sean.
__ADS_1
“Dan untuk kalian, anak-anakku semua. Dalam minggu ini persiapkan diri kalian, karena kita akan tinggal menetap kembali di Indonesai.” Ucap Sean sambil melihat satu per satu anaknya.
“Ayah! Bolehkah aku bicara?” tanya Chandra tiba-tiba. Dan Sean hanya menganggukkan kepalanya.
“Ayah, Mama, maaf. Chan tidak bisa ikut pulang ke Indonesia. Chan akan tetap tinggal di sini.”
Lidia tersentak mendengar ucapan Chandra. Mata tajamnya langsung menyorot Chandra. Dia tidak akan mengijinkan Chandra tinggal seorang diri di negara ini.
“Chandra! Apa yang kamu katakan? Mama tidak akan-“
“Chan, kenapa kamu ingin tinggal disini?” Sean dengan cepat memotong ucapan istrinya yang pastinya akan memarahi anak sulungnya yang berusia tiga belas tahun itu.
Entahlah. Sean sebenarnya juga terkejut dengan ucapan Chandra yang menginginkan untuk tetap tinggal disini. Dia juga tidak akan tega membiarkan Chandra tinggal seorang diri tanpa orang tuanya.
Sedangkan Fredy yang mendapat tatapan dari Chandra merasa serba salah. Namun yang dikatakan oleh Chandra benar. Bimbingan belajar yang sudah ia berikan akan percuma jika Chandra putus di tengah jalan. Terlebih dengan latihan fisiknya. Bisa saja nanti Indonesia Chandra bisa melanjutkan dengan orang yang berbeda, namun Fredy tidak yakin dengan ilmu yang akan Chandra dapatkan sama dengan ilmu yang dia berikan.
“Fredy, apakah kamu mempengaruhi anakku untuk tidak ikut pulang ke Indonesia?” tanya Lidia dengan sorot mata tajam.
Fredy kebingungan dan serba salah. Bahkan rencana kepulangan Sean saja dia baru tahu malam ini. lalu bagaimana bisa ia dituduh mempengaruhi Chandra agar tidak ikut pulang orang tuanya.
“Maaf, Ma. Kak Fredy sama sekali tidak mempengaruhi Chan. Semua ini memang keputusan Chan. Chan sudah besar, Ma. Sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tolong ijinkan Chan untuk tetap tinggal disini. Setidaknya selama tiga tahun saja. Chan janji, setelah tiga tahun, Chan akan pulang dan akan kuliah di Indonesia.” Ucap Chandra dengan sungguh-sungguh.
“Tidak! Mama tidak-“
__ADS_1
“Baiklah. Ayah mengijinkan Chan untuk tetap tinggal disini. Asal dengan satu syarat, Fredy harus tinggal disini.” Sean lagi-lagi memotong ucapan istrinya.
Lidia sangat marah dan merasa tidak dihargai. Wanita itu langsung pergi ke kamarnya sambil membawa Mirza dalam gendongannya.
Sean hanya menghela nafasnya dengan kasar melihat kemarahan sang istri. Namun dia harus bijaksana. Menurutnya alasan Chandra juga masih masuk akal jika ia menolak untuk ikut pulang ke Indonesia.
“Chan tenang saja. Mama itu sangat sayang padamu. Mama marah karena tidak ingin berjauhan dengan kamu. Nanti Ayah akan bicara dan membujuk Mama.” Ucap Sean menenangkan hati Chandra.
“Dan untuk kalian, Viana dan Kavi. Kalian segeralah beristirahat. Persiapkan diri kalian untuk pulang dalam minggu ini.” lanjutnya sambil menatap kedua anaknya yang lain.
Viana dan Kavi mengangguk patuh, lalu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
“Ayah tinggal dulu. Chan bisa lanjutkan ngobrolnya dengan Kak Fredy. Ayah akan bicara dengan Mama.” Pamit Sean lalu masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1