Suami Kedua

Suami Kedua
Obat Bius


__ADS_3

Xander meremat rambutnya dengan kasar. Dia menyesal telah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan tidak bisa membantu sahabatnya. Kalau sudah begini rasanya mustahil jika ia akan ikut membantu Sean. Meskipun sekuat tenaga mencari keberadaan Sean saat ini, pasti tidak akan membuahkan hasil. Dan jalan satu-satunya hanya mengikuti kemauan Sean.


***


Di dalam sebuah ruangan tampak Sean sejak tadi terus memantau pergerakan anak buah David yang sedang dalam perjalanan mengantar Viana. Tatapan matanya sendu saat tak bisa lagi memeluk anak kecil itu. Tapi setidaknya kondisi Viana saat ini baik-baik saja.


Mata Sean sama sekali tidak terpejam hingga benar-benar tahu dengan pasti kalau Viana sudah selamat sampai rumah. perjalanan yang ditempuh oleh anak buah David lebih cepat dibandingkan perjalanan yang dilakukan Sean.


Tepat pukul enam pagi Sean bisa menghela nafasnya lega saat melihat anak buah David menurunkan Viana yang diletakkan pada stoller. Viana ditinggalkan begitu saja di depan gerbang rumah. sean masih ingin melihat sampai Viana ditemukan oleh istrinya, namun sambungan video itu sudah terputus.


Sean mengepalkan kuat tangannya. di dalam ruangan itu hanya ada dua orang anak buah David yang menjaganya. Bagi Sean tidak masalah jika dia seorang diri melawan dua orang berbadan kekar itu. Lalu Sean mulai menyerangnya.


Bugh


Satu pukulan telak mendarat pada rahang salah satu anak buah David. Dan secepat mungkin salah satunya menahan Sean hingga tak bisa bergerak lagi. pria yang terkena pukulan Sean itu segera keluar meninggalkan ruangan.


“Lepaskan aku, berengsek!!!” Sean terus meronta.


“Lebih baik anda menurut, Tuan!”


“Aku nggak peduli. Aku akan bunuh bos kalian sekarang juga.” emosi Sean semakin meluap-luap. Dia harus bisa lepas dari jeratan David.


Tak lama kemudian David memasuki ruangan itu. Pria itu tersenyum sinis sambil melihat Sean yang sedang ditahan oleh salah satu anak buahnya.


“Apa lagi yang kamu mau, Sean? Bukankah kamu sudah setuju dengan pilihan itu? Aku tidak mau ada kekerasan. Jadi bekerjasamalah dengan baik.” Ucap David.

__ADS_1


Mengetahui sifat keras kepala Sean, David segera menyuruh anak buahnya membungkam Sean dengan obat bius yang sudah ia siapkan. Dan tak lama kemudian tubuh Sean tergolek lemah tak berdaya.


Setelah itu David meminta anak buahnya membawa Sean masuk ke helikopter yang sudah menunggu di halaman belakang rumah. David akan membawa Sean terbang ke luar negeri untuk melakukan semua rencananya.


Obat bius yang membuat Sean akan bertahan lama sekitar duabelas jam. Dan waktu itu sangat tepat untuk membawanya terbang ke luar negeri yang hanya membutuhkan waktu sepuluh jam.


Sepuluh jam kemudian, helikopter yang membawa Sean sudah tiba di negara yang menjadi tujuan David. Sean masih belum sadarkan diri. Lalu dia dibawa masuk ke sebuah rumah mewah, tepatnya di dalam kamar yang penuh dengan peralatan medis yang serba canggih.


David duduk di sebuah sofa yang ada di ruang kerjanya. Dia akan menghubungi seseorang yang akan melakukan tugas selanjutnya.


“Halo, Malik! Seperti dugaanku. Sean memilih pilihan yang terakhir. Jadi aku membatalkan menjual organ tubuh anak kecil itu.”


“…..”


“…..”


“Baiklah. Kamu jangan khawatir, aku akan transfer sekarang juga uangnya.”


David tersenyum menyeringai. Kemudian dia memasuki ruangan dimana Sean berada. Waktu tinggal satu jam setengah dan sebentar lagi Sean akan sadar. Dan tak lama kemudian salah satu anak buah Malik datang.


“Apa kamu bisa melakukannya sekarang?” tanya David pada pria yang bernama Albert.


“Lebih baik kita tunggu sampai dia sadar, Tuan.” Jawabnya sambil menyiapkan beberapa alat.


“Lalu buat apa membuatnya pingsan kalau kamu akan melakuannya saat Sean sadar?” David benar-benar kesal pada Albert.

__ADS_1


“Kalau Tuan membatalkan ini semua tidak masalah buat saya. karena memang prosedurnya seperti ini.” jawab Albert tanpa beban.


Tak ada pilihan lain selain menurut. David hanya khawatir kalau Sean sadar, dia akan kembali memberontak dan memukulinya. Karena dia hanya membawa satu bodyguard saja. Pastinya akan mudah dikalahkan oleh Sean.


Sean masih belum sadarkan diri. Setelah itu Albert berjalan mendekat dan menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Sean. Beberapa saat kemudian Sean mulai mengerjapkan matanya. dia bingung dengan tempat asing dengan bau khas obat-obatan.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sean saat menydari ada David sedang berdiri di sebelahnya.


Tangan Sean mengepal dan hendak bangun menyerang David. Namun dia merasakan seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.


“Apa yang akan kamu lakukan, berengsek??”


“Tenang! Aku hanya akan menanam bom dalam tubuhmu. Kamu tahu fungsinya? Bom itu akan meledakkan tubuhmu sampai hancur jika kamu berjauhan denganku. Tapi tidak denganku, meski aku juga menanamkan bom ke dalam tubuhku. Karena fungsinya sebagai pengendali. Jadi bersiaplah. Lebih tepatnya, bersiaplah menjadi pengabdiku.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2