
Kila keluar dari dalam kamar mandi hotel, dengan terus berjalan mendekati ranjang lalu duduk di pinggirnya. “Apa ada yang ingin kau makan?” tanya Rama kepadanya yang masih belum mengucapkan apa pun.
Kila menggelengkan kepalanya, tatapan matanya masih menerawang jauh saat dia membaringkan tubuhnya menyamping di ranjang itu, “kakak, tidak harus tidur di sini. Pulang saja ke rumah,” ucap Kila, saat Rama sendiri yang sebelumnya duduk turut ikut berbaring.
“Aku yang membayar kamar ini dan kau ingin mengusirku?”
Kila menggigit kuat bibirnya, “maafkan aku,” jawab Kila singkat sembari membenamkan wajahnya di kasur.
Rama masih melirik ke arah Kila yang semakin menciutkan tubuh berbaring di dekatnya. Tangannya terangkat, mengusap pelan kepala Kila yang berbaring membelakanginya. Rama masih terus mengusap kepala istrinya itu, saat suara isakan terdengar dari Kila. “Menangislah sepuasmu hari ini, tapi besok kau harus mulai bisa melanjutkan hidup. Dunia berhenti untuk mereka yang telah meninggal, tapi dunia masih berjalan untuk mereka yang masih hidup-”
“Dia adikmu, dan kau mengatakan kata-kata seperti itu?” ucapan bercampur isakan dari Kila memotong perkataan Rama.
“Jika Gilang menganggapku kakak, dia pasti sudah melarang pernikahanku dan juga Citra. Bagaimana bisa, dia memberikanku perempuan yang sudah mengkhianatinya? Apa dia, ingin aku merasakan hal yang sama kepadanya?”
“Apa, ada yang salah dari salah satu perkataanku?” Rama kembali bertanya kepada Kila yang tiba-tiba beranjak lalu menoleh ke arahnya.
Kila membuang pandangannya dari Rama, saat dia sendiri pun tak bisa berkutik membalas pertanyaan dari laki-laki yang ada di dekatnya itu. “Aku dikhianati oleh dua orang sekaligus, dan salah satunya tidak lain adalah adikku sendiri. Menurutmu, siapa yang seharusnya marah di sini?” Rama lagi-lagi melontarkan pertanyaan, saat Kila masih bergeming tak ingin menatapnya.
Kila merangkak mendekati Rama, lalu berbaring di sampingnya sambil memeluk laki-laki itu. Rama yang masih bertanya akan apa yang Kila lakukan, membaringkan tubuhnya menyamping … Membalas pelukan dari Kila di tubuhnya. “Kamar ini terlalu dingin. Tolong naikan suhunya,” bisik Kila dengan sangat lirih, sambil meraih lalu menggenggam secara perlahan kimono handuk yang Rama kenakan.
“Suhu kamar ini, justru sudah sangat pas menurutku,” balas Rama, diikuti tangannya yang bergerak mengusap pelan paha Kila.
__ADS_1
Kila mengangkat wajahnya, lama dia menatapi Rama yang juga masih terdiam menatapinya, ‘melanjutkan hidup? Apa aku, juga harus melakukannya?’ batin Kila, dengan wajahnya yang bergerak semakin mendekati wajah Rama.
Mata Kila, terpejam … Saat bibirnya dan bibir Rama bertemu. Rama, membalas kecupan tersebut dengan lebih dalam sambil tangannya yang juga secara perlahan, menelusup ke dalam kimono handuk yang Kila pakai. Mata Rama yang sebelumnya juga terpejam, kembali terbuka saat Kila tiba-tiba menjauhkan wajah darinya, “ada apa?” tanya Rama, dia menyelipkan rambut Kila kembali ke daun telinga, saat Kila membuang kembali tatapan diikuti napasnya yang sedikit menggebu.
Kila menggeleng sambil kembali menyandarkan kepalanya di dada Rama, “aku tidak ingin melakukan hal yang lebih dari ini. Aku hanya ingin beristirahat hari ini.”
“Baiklah. Tidurlah, aku pun turut lelah dengan apa yang terjadi hari ini,” saut Rama, dia menepuk-nepuk kepala Kila sambil mengecup singkat keningnya.
___________.
Rama melirik ke arah Kila yang lelap tertidur di rangkulannya, dia melirik lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja kecil samping ranjang. Dia memilih untuk mengheningkan nada ponselnya, dan benar saja … Puluhan panggilan tak terjawab dari Citra memenuhi ponselnya itu.
Tut … Tut … Tut.
Alis Rama mengernyit, helaan napas ia keluarkan ketika panggilan tersebut hanya berisi suara isakan perempuan di baliknya, “apa lagi yang terjadi?” tanya Rama, dia melirik ke arah Kila yang masih terlelap.
“Kau di mana? Kenapa tidak pulang? Jangan tinggalkan aku, Rama,” ucap suara Citra bercampur isakan di panggilan itu.
“Apa kau bersama perempuan murahan itu? Apa Mama, mengetahui kalau kalian menikah di belakang kami?”
Mata Rama membelalak, mendengarkan kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Citra, ‘apa dia berencana untuk mengadu pada Mama?’ Rama membatin, dengan amarah di dirinya yang perlahan hidup.
__ADS_1
“Kau tahu kesehatan Mama sedang tidak stabil, kan?”
“Apa kau berencana un-”
Perkataan Rama berhenti. Dia sangat terkejut saat Kila telah terbangun dengan merebut ponsel yang ada di tangannya. “Kau yang membuatku harus melakukan ini? Tinggalkan perempuan murahan itu! Atau aku akan mengadu kepada Mama!” bentakan suara Citra di panggilan telepon sedikit membuat Kila menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.
“Entah, kau ingin menerimanya atau tidak. Aku, tidak berniat untuk berpisah dari suamiku,” ucap Kila, dia mengangkat telapak tangannya ke depan, seakan meminta Rama untuk jangan bergerak mendekat.
“Dia, bukan hanya milikmu, tapi dia juga milikku. Jika kau ingin mengadu, lakukan saja! Namun, apa kau berpikir, suami kita akan bisa direndahkan oleh ancaman murahan yang kau lakukan?”
“Aku sekarang, sedang menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Sebagai perempuan yang telah terlebih dahulu merasakannya, bersikaplah baik kepadaku … Jangan mengganggu malam kami, tidur saja! Lalu tunggu kepulangan kami besok pagi,” sambung Kila, dia memutuskan panggilan lalu melemparkan ponsel itu kembali pada Rama.
“Pulanglah!” pinta Kila, dia beranjak dari ranjang lalu berjalan mendekati jendela kamar hotel.
“Dan segera urus, surat cerai untukku. Aku, tidak akan meminta sepeser rupiah pun kepadamu … Aku, juga akan membayar hutangku selepas kita bercerai.”
Rama melempar kembali ponselnya ke ranjang, sebelum dia turut beranjak menyusul Kila, “kata-kata yang kau ucapkan sebelumnya, dan kata-kata yang kau ucapkan sekarang … Benar-benar berbanding terbalik."
“Apa yang bisa aku harapkan, kepada laki-laki yang tidak bisa membelaku di depan keluarganya. Jika aku bertahan, aku harus menerima semua cacian tanpa perlindungan suamiku, dengan di sisi lain … Aku pun harus melayani suamiku itu. Membayangkannya saja, sudah membuatku lelah.”
“Aku ingin melanjutkan hidup, tapi tidak seperti ini … Bermain api, harus siap terbakar. Tapi, jika hanya aku saja yang siap, itu akan membakarku sendiri nantinya.”
__ADS_1
Kila meraih tangan Rama, lalu menempelkannya di pipinya, “kau menikahiku. Kau menikmati tubuhku. Kau mendapatkan pelayananku, tapi tidak berniat mengenalkanku kepada keluargamu … Lalu, apa bedanya aku dengan perempuan murahan yang diucapkan Istrimu itu,” ucap Kila, dengan kembali membuka matanya menatap Rama.
“Aku bahkan, sudah sangat menyukai aroma tubuhmu saat menemaniku tidur. Aku, ingin melanjutkan hidup seperti yang kakak perintahkan,” sambung Kila, dia sedikit menyingkap handuk kimono yang Rama pakai, lalu mengecup beberapa kali dada bidang suaminya itu, “aku ingin melanjutkan hidup bersamamu. Hanya itu yang ingin aku katakan,” ucap Kila dengan kembali menatap Rama. Kila kembali memejamkan matanya, saat wajah Rama sendiri pun semakin bergerak mendekatinya.