
Feby merasa lega setelah mendengar kabar dari Papanya tentang kepulangan Chandra. Bukan tidak ingin menjenguk laki-laki itu, hanya saja Feby tidak ingin membuat haati Chandra terluka setelah mengetahui bahwa dirinya akan bertunangan.
Entah bagaimana Feby nanti akan bersikap saat bertemu dengan Chandra di pesta pertunangannya. Bahkan Feby berharap kalau Chandra tidak datang, agar ia tak terlalu merasa bersalah karena melukai perasaan Chandra.
Setelah cukup lama memikirkan Chandra, Feby kembali melanjutkan pekerjaannya. Akhir-akhir ini memang dirinya sangat sibuk membantu pekerjaan Papanya. Kenzo juga sedang disibukkan dengan proyek barunya yang bekerjasama dengan Tuan Ibra, calon besannya.
***
Sementara itu sorenya, Lidia terbangun dari tidurnya setelah siang tadi kelelahan habis bertempur dalam kenikmatan bersama sang suami tercinta.
Usai mandi, Lidia masih tampak berdiam di balkon kamar. lagi pula jam segini anak-anaknya pasti sedang sibuk bermain setelah pulang dari sekolah.
Lidia cukup lama berdiam di sana. Wanita itu masih memikirkan anak sulungnya yang mungkin sedang patah hati karena perempuan yang dikaguminya akan bertunangan.
“Ada apa, hem?” Sean tiba-tiba saja memeluk istrinya dari belakang.
Harum aroma tubuh Sean yang baru saja mandi menyeruak memenuhi indra penciuman Lidia. Aroma yang sejak dulu sangat menenangkan.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Sean kembali bertanya saat istrinya tak lekas menjawab pertanyaannya.
“Aku hanya memikirkan Chandra.” Jawabnya sambil memandang langit sore yang tampak cerah.
“Sudah aku katakan bukan, biarkan dengan kejadian ini akan membuatnya banyak belajar. Lagi pula masa depan Chandra masih panjang.”
__ADS_1
“Kamu merasa aneh nggak sih sama Kenzo? Kasus yang menimpa Feby hingga menjadikan anak kita korban, sepertinya dia menganggapnya sepele. Bahkan semenjak saat itu Feby juga tak lagi menjenguk Chandra.”
“Sudah, kamu jangan berburuk sangka. Mungkin memang Kenzo benar-benar sudah mengatasinya. Yang terpenting sekarang Chandra sudah baik-baik saja. Untuk Feby, mungkin dia sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangannya.” Jawab Sean menenangkan. Walau sebenarnya dirinya juga merasa aneh dengan sikap sahabatnya. Mungkin nanti akan ia selidiki sendiri bagaimana kasus penusukan terhadap Feby hingga menyebabkan Chandra terluka.
“Ayo kita turun. Pasti Mirza nggak tahu kalau kita sudah pulang.” ajaknya kemudian.
Belum sempat Sean dan Lidia meraih handle pintu, sudah terdengar ketukan pintu yang cukup nyaring. Selain itu diiringi suara teriakan anak kecil. Siapa lagi kalau bukan Mirza.
Cklek
Sean membuka pintu kamar. seketika itu Mirza langsung berlari dan memeluk Ayahnya. Wajar saja anak itu langsung memeluk Ayahnya. Karena selama beberapa hari ini Mirza tidak bisa bermanja dengan Ayahnya lantaran menunggu kakaknya yang sedang di rawat di rumah sakit. Meskipun sesekali Mirza, Kavi, dan Viana menjenguk kakaknya di rumah sakit, namun ruang gerak anak bungsu Lidia itu kurang leluasa.
Sean pun menggendong Mirza lalu mengajaknya turun. Dengan Lidia yang berjalan mengekor di belakangnya.
*
Chandra senang dijenguk oleh Fico. Salah satu dan satu-satunya teman yang akrab dengannya. Sebenarnya Chandra berharap dijenguk Feby. Tapi itu semua tidak mungkin karena Fico mengatakan kalau kakaknya sedang sibuk. Dan sudah dipastikan kalau Feby sedang sibuk dengan acara pertunangannya.
Cukup lama menjenguk Chandra, akhirnya Fico berpamitan pulang. lagi pula seseorang yang dia cari juga sedang tidak ada di rumah. siapa lagi kalau bukan Viana. Tadi saat Fico berbasa-basi menanyakan keberadaan Viana, Chandra justru menjawab kalau adik perempuannya sudah tidak tinggal lagi di rumah ini, karena Viana diadopsi oleh pria kaya raya. Meskipun hanya bercanda, namun hal itu sukses membuat Fico kesal. Dan menjadi hiburan tersendiri bagi Chandra.
“Sudahlah, aku pulang dulu. Kamu cepat sembuh ya? Nanti kalau sudah sembuh aku ajak hang out deh.”
“Ok. Terima kasih banyak atas kedatangan kamu.”
__ADS_1
“Tapi hang out-nya jangan lupa ajak Viana ya?” lanjut Fico sambil mengerlingkan matanya.
Bugh
Chandra langsung memukul Fico dengan bantal sofa. Sedangkan Fico hanya meringis sambil mengusap pundaknya. Setelah itu dia berpamitan pada Sean dan Lidia.
Setelah kepulangan Fico, Chandra bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang tengah. Sean dan Lidia merasa sedikit lega saat melihat wajah anaknya yang sudah tampak ceria dari sebelumnya.
“Yah, Ma, ada yang ingin Chan katakan.” Ucap Chandra dengan mode serius.
Sean dan Lidia saling lirik. “Ada apa, katakan saja!” jawab Sean.
“Yah, Ma, Chan memutuskan kalau nanti Chan akan kuliah di kota B saja.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1