Suami Kedua

Suami Kedua
Pelaku


__ADS_3

Saat ini Sean juga tengah lembur. Dia terkejut saat mendapat laporan dari sekretarisnya bahwa saham perusahaan anjlok. Setelah ia selidiki ternyata masalahnya bersumber dari kantor cabang yang saat ini dipimpin oleh Xander.


Sejak tadi Sean berusaha menghubungi Silvia karena menghubungi Xander tak kunjung mendapat balasan. Ternyata sama saja. Silvia tidak merespon panggilannya.


Sean berusaha keras mengatasi masalah yang ada di kantor pusat. Dan memilih mempercayakan kantor cabang pada Xander. Karena tidak mungkin dia terbang kesana di saat kantor pusat juga sama gentingnya.


“Sepertinya ada yang tidak beres. Ada orang dalam yang sengaja menghancurkan perusahaan, dan seperti ada yang mendalanginya.” Gumam Sean.


Drt drt drt


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. melihat nama istrinya yang sedang menghubunginya, Sean memilih menerima panggilan itu.


“Ya, Sayang?”


“…..”


“Aku lembur sebentar.”


“…..”


“Baiklah. Sebentar lagi aku akan pulang.”


Sean tahu kekhawatiran yang dirasakan istrinya saat ini. dia memilih menyelsaikan pekerjaannya di rumah saja. Setelah membereskan semua berkas-berkas penting itu, Sean beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kantor.


Saat keluar dari ruangannya, terlihat Erick sekretarisnya juga masih sibuk. “Pulanglah, Rick! Besok dilanjutkan lagi. Tadi aku sudah menghubungi Xander. Biar dia menyelesaikan masalah yang ada di kantor cabang dulu.” Ucap Sean.


“Baik, Tuan.” Jawab Erick.


***


Malam ini Xander lembur seorang diri. Dia masih terus mencari pelaku penyelewengan dana dalam perusahaan yang berdampak pada anjloknya saham. Tidak hanya itu, Xander juga berusaha memulihkan beberapa data yang salah akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.


Xander mendesahh pelan, lalu meregangkan ototnya. Dia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam. andai saja ada Silvia yang ikut menemani lembur, tentunya tidak akan semalam ini dia menyelesaikan pekerjaan yang sangat rumit. Dan memang ini juga tugas Silvia.


Mengingat nama Silvia, Xander kembali dihantui rasa bersalah akibat ulahnya pada Silvia beberapa jam yang lalu. Pria itu meraih ponselnya dan mendial no Silvia, berharap perempuan itu meresponnya. Ternyata ponselnya justru tidak aktif.

__ADS_1


Xander kembali menyibukkan diri mencari pelaku kejahatan di perusahaannya. Dia juga melihat rekaman cctv dari semua sudut kantor khususnya di ruangan bagian divisi keuangan. Cukup lama Xander melihat semua rekaman cctv. Matanya sangat jeli pada setiap detail orang yang menurutnya tampak mencurigakan.


Klik


Xander menghentikan video rekaman cctv itu saat melihat salah satu karyawannya sedang berinteraksi dengan pria asing yang terlihat mengenakan pakaian santai. Kedua pria itu seperti sedang membicarakan hal penting di sudut basement. Pria itu menengok ke kanan kiri melihat keberadaan cctv yang menurutnya tidak ada. Xander bersyukur cctv yang ada di basement ukurannya sangat kecil dan tidak bisa dilihat orang dengan jelas.


Xander menarik sudut bibirnya ke atas setelah mengetahui siapa pria yang merupakan karywannya itu. Dan untuk pria asing mencurigakan itu Xander masih belum bisa mengungkap identitasnya. Dan secepatnya dia akan meeting dengan semua karyawannya untuk mengungkap kasus ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Xander memutuskan untuk bermalam di kantor. karena besok pagi dia akan melakukan meeting.


Pagi pun tiba. Xander sudah bersiap rapid an wajahnya tampak segar meski semalaman begadang. Pria itu sudah siap menuju ruang meeting. Dan saat melintas di depan ruangan sekretaris, Xander melihat ruangan itu tampak sepi. Dia sangat yakin kalau Silvia tidak masuk kerja.


Xander memasuki ruangan meeting dengan aura wajah yang dingin. Semua karyawannya sudah tahu mengenai keadaan perusahaan saat ini. bahkan tak satupun dari mereka yang berani menatap wajah Xander.


“Saya disini tidak akan lama. Meeting pagi ini juga saya hanya ingin menyampaikan pada kalian semua bahwa siapaun yang mempunyai niat jahat atau berbuat curang, saya tidak akan melaporkannya pada polisi dan juga tidak meminta tersangka mengakui kesalahannya.” Ucap Xander panjang lebar.


Semua karyawan meeting tampak bingung dan tidak mengerti dengan penjelasan Xander. Mereka beranggapan Xander akan memaafkan pelaku begitu saja tanpa memberi hukuman. Pria yang duduk di kursi paling sudut merasa lega karena merasa aman.


“Namun saya yang akan bertindak sendiri. Tentunya saya tidak akan membiarkan orang itu bisa bernafas bebas di dunia ini.” lanjutnya dengan suara tegas.


“Tangkap dia!!” ucap Xander sambil menunjuk salah satu karyawan yang duduk di kursi paling sudut.


“Bawa di ke tempat yang sudah aku sediakan. Aku akan mengatasinya nanti.” Lanjutnya dan dua orang berbadan kekar itu segera menangkap tersangka.


“Meeting selesai. silakan kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing! Saya harap dengan kejadian seperti ini, kalian bisa bekerja dengan jujur.” Ucap Xander lalu bergegas meninggalkan ruang meeting.


Pria yang terduga sebagai tersangka itu tampak meronta ketakutan saat diseret dua pria berbadan kekar. Sementara semua orang yang mengenalnya hanya bisa diam dan tidak berani melakukan apapun.


Xander sudah bekerjasama dengan pihak bank untuk membekukan rekening karyawannya yang telah menyelewengkan dana perusahaan itu. Xander beruntung ternyata uang perusahaan belum ditransfer pada orang yang mendalangi kasus ini.


Sekarang tugas Xander memperbaiki kesalahan data-data dan menyampaikannya pada Sean bahwa masalahnya sudah teratasi. Belum sempat tangannya meraih ponsel, ternyata Sean terlebih dulu menghubunginya.


“Ya, Sean? Baru saja aku mau menghubungimu untuk menyam-“


“Xander, ada apa lagi ini? Silvia baru saja mengirim email padaku, dia resign dari pekerjaan.”

__ADS_1


Duarrr


Xander terkejut mendengar informasi dari Sean. Apakah karena kejadian kemarin, hingga menyebabkan Silvia mengundurkan diri.


“Xander, kamu masih disitu? Apakah masalah perusahaan ada kaitannya dengan Silvia? Walau aku tidak yakin dia tega berbuat jahat seperti itu.” Ucap Sean.


“Bukan. Silvia tidak ada hubungannya dengan masalah perusahaan. Ini murni masalah pribadi.” Jawab Xander.


“Astaga!! Aku harap kamu bisa bekerja dengan professional. Silvia itu sejak dulu sudah menjadi sekretaris kepercayaan Tuan Billal. Aku sudah menolak surat pengunduran dirinya.”


“Maaf, aku akan menyelesaikan semuanya.” Jawab Xander, lalu Sean menutup panggilannya secara sepihak.


Xander mengusap wajahnya dengan kasar. Baru kali ini dia mengalami masalah yang begitu rumit, terutama mengenai wanita. Harusnya dia tidak terlalu menggunakan persaannya saat mulai dekat dengan Silvia. Namun Xander juga menyadari kalau diam-diam hatinya juga mulai tertambat pada perempuan yang selalu mengenakan pakaian seksii itu.


Akhirnya Xander memutuskan untuk mendatangi rumah Silvia. Pekerjaanya sementara akan ia tunda dulu.


Sesampainya di rumah Silvia, Xander melihat mobil Vano terparkir disana. Itu tandanya adik Silvia tidak bekerja.


Cklek


Pintu rumah terbuka setelah Xander mengetuknya beberapa kali. Tampak Vano muncul dari balik pintu itu.


“Bisa bertemu dengan Silvia?” tanya Xander.


“Maaf, Tuan. Kak Silvia sedang tidak mau diganggu.” Jawabnya sopan lalu menutup lagi pintunya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2