
Damian terus mencecar Katie hingga, mereka jatuh bersamaan ke atas tempat tidur. Tubuh Damian yang masih nampak kekar di usianya yang tak lagi muda itu, telah mengukung raganya.
Katie, bukan baru kali ini melihat sang suami bersemangat seperti itu. Tetapi, sinar mata Damian hari ini nampak berbeda. Ada sesuatu yang sedang di tahan oleh pria itu. Katie dapat merasakannya.
Mereka adalah belahan jiwa. Apa yang tengah dirasakan oleh suaminya tentu Katie tau. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Damian. Pria itu langsung memejamkan mata dan Katie menyentuh kelopak itu.
"Kau tidak bisa menyembunyikan apapun, matamu telah mengatakan semuanya, Dami. Keresahan serta kerinduanmu itu ... tengah aku rasakan juga pada saat ini. Kemarilah singaku ...," ucap Katie seraya meraih kepala Damian agar masuk ke dalam pelukannya.
Pria itu menurut, dengan menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Katie. Tubuh gagah itu bergetar seketika. Katie langsung menurunkan tangannya untuk memeluk raga itu dengan seraya mengusap punggung yang telah polos tanpa sehelai benang.
Damian, menyalurkan perasaan yang ia tahan sejak beberapa hari yang lalu. Pria yang memiliki kesan dingin dan tegas itu, kini meleleh di dalam pelukan sang istri.
Katie memejamkan matanya menerima semua yang di limpahkan oleh Damian. Hingga pria itu mengangkat kepalanya, dan keduanya pun kembali saling menatap.
Katie, mengusap sisa air mata di ujung mata suaminya. Mengulas senyum dengan sebuah anggukan kecil. Damian pun tersenyum, karena resah dan gamangnya telah reda dan terhempas.
"Aku mencintaimu."
Damian mengutarakan perasaannya lalu, mengecup bibir Katie dalam. Wanita itu tidak tinggal diam, dia memutuskan untuk membuat rileks ketegangan yang dialami Damian beberapa hati ini. Ketakutan yang mereka rasakan tentu saja sama.
Terutama Katie. Belum lama mendapati kenyataan sang suami yang harus memasang ring pada jantungnya. Kini, ia harus kembali menerima kenyataan bahwa sang cucu kesayangan menderita penyakit yang mematikan. dan harus menjalani operasi di usia sekecil itu.
Masalah demi masalah itu tentunya menguras tenaga dan juga pikirannya. Keduanya butuh penyaluran dan juga pelepasan dari semua ketegangan itu.
__ADS_1
Katie menyambut Damian dengan hangat. Hingga penyatuan dari pasangan yang tak lagi muda itu mampu menggetarkan hati keduanya. Perasaan mereka semakin kuat untuk saling membutuhkan satu sama lain.
"Terimakasih sayang. Kau adalah satu-satunya tempatku berlabuh dan bersandar. Kau adalah obat dari segala macam obat, di saat dokter pun tak mampu menyembuhkannya. Aku selalu membutuhkanku, sampai kapanpun. Kau cintaku ... kau separuh napasku," tutur Damian, seraya melabuhkan ciumannya berkali-kali di wajah basah penuh keringat istrinya itu.
"Aku juga mencintaimu, Dami sayang. Kita harus saling mengusahakan. Anak kita telah memiliki rumah tangga dan kehidupannya sendiri. Kita pada akhirnya hanya saling memiliki satu sama lain. Selamanya hanya akan berdua. Saling berbagi keluh kesah bersama. Berbagi tangis dan tawa, risau dan juga rindu. Kita ... nyatanya adalah kesatuan, yang tidak akan bisa terpisahkan kecuali karena kematian," sahut Katie, dengan akhir kalimat yang membuat Damian menatap tajam ke arahnya.
"Jangan pernah membahas kematian di hadapanku," tegas Damian seraya menatap ke dalam mata wanita di hadapannya ini. Mereka kini telah duduk bersisian dengan bersandar di kepala ranjang mereka.
"Mau tidak mau, hal itu akan terjadi, Dami ... kita harus siap. Meksipun, aku tidak menginginkan itu terjadi dalam waktu dekat ini. Aku ... ingin menua bersamamu. Hingga, rambut ini memutih dan gigi kita habis tak tersisa," ucap Katie berusaha menenangkan keresahan yang seketika menguasai emosi suaminya itu.
Bagaimana pun tak ada yang mampu menolak takdir bukan?
"Jangan katakan itu sekarang. Kau merusak momen tau tidak," protes Damian. Pria itu memalingkan wajahnya yang mana langsung ditarik kembali oleh Katie.
"Singaku, sini!"
"Jangan marah, aku mencintaimu," ucap Katie seraya terkekeh setelahnya.
Mereka pun melanjutkan kembali momen bercinta penuh gelora, tanpa sadar dan memikirkan telah berada diangka berapa usia mereka saat ini.
Kita beralih dimana kini Angelina berada di kamar perawatan Adam. Pria itu telah siuman beberapa saat yang lalu. Ingin menemui sang putra namun dokter belum memberinya ijin turun dari hospital bed.
"Kamu, tidak ingin menengok putra kita, An?" tanya Adam untuk kesekian kalinya. Angelina yang sedang membersihkan wajahnya dengan air hangat itu pun seketika mengehentikan gerakannya.
__ADS_1
"Kan sudah kukatakan. Aku ingin melihatnya bersamamu," jawab Angelina untuk ketiga kalinya.
Adam lagi-lagi harus menghela napasnya. Ia terlupa, jika Angelina memiliki sifat keras kepala. Kemauannya tidak akan berubah, karena apapun.
Beberapa waktu kemudian, Angelina mendorong Adam yang berada di atas kursi roda. Mereka mengikuti arah sang suster yang membawa keduanya menuju kamar khusus perawatan bayi. Biasanya ruangan itu disebut juga dengan NICU.
Mereka berdua tidak dapat masuk. Hanya dapat melihat melalui jendela kaca saja. Tanpa terasa air mata menetes di pipi keduanya. Melihat sang anak yang masih sekecil itu, sudah merasakan rasa sakit yang tak mampu mereka bayangkan.
Beberapa alat medis tertancap di tubuh baby Argon. Bayi itu masih tenang tak bergerak. Suster mengatakan bahwa balita tampan itu baru saja minum susu melalui selang yang langsung tersambung ke lambungnya.
Angelina tak mampu menahan isaknya. Adam yang telah berdiri dari kursi rodanya itu pun langsung menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya. Mereka berharap sang putra akan segera sembuh dan kembali ceria seperti biasa. Bahkan, baby Ar sering membuat orang di sekitarnya tertawa bahagia melihat ulahnya yang lucu dan menggemaskan.
"Putra kita, Ad. Aku tidak sanggup melihatnya dalam keadaan seperti itu. Rasanya, aku ingin menggantikan posisinya," ucap Angelina sambil menangis.
"Tidak! Aku juga tidak akan sanggup melihat keadaanmu jika seperti itu. Jangan sembarangan bicara. Berkata-katalah hal yang baik. Semoga, putra kita sanggup dan kuat melewati semuanya. Cepat pulih, dna kembali ke dalam pelukan kita berdua," ucap Adam dengan pelukan yang dahgat erat.
Dirinya tentu tidak dapat membayangkan jika yang di kelilingi bermacam alat medis itu adalah Angelina.
Tentu saja Adam juga tidak akan sanggup menerima kenyataan itu. Kalau bisa ia ingin seluruh keluarganya baik-baik saja. Belum hilang rasa kagetnya ketika sang Daddy masuk rumah sakit mendadak ketika mereka liburan beberapa bulan lalu. Kini, ia harus menyaksikan putranya yang kini terbaring lemah dengan berbagai alat medis.
"Maaf, Ad. Maafkan aku. Bukan maksudku untuk membuatmu marah maupun sedih. Aku ... hanya tidak kuat melihat Argon-ku seperti itu," tutur Angelina lagi sembari terisak.
Adam mengerti, pria itu hanya bisa mengusap punggung sang istri dan sesekali mengecup pinggiran pelipisnya. Berusaha untuk saling menyalurkan kekuatan, satu sama lain.
__ADS_1
"Tuan dan Nyonya ...,"
...Bersambung ...