Suami Kedua

Suami Kedua
99%


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Sean dan David sudah tiba di rumah. begitu juga dengan Bryan. Sean mengira kalau perawat yang membantu Bryan tadi lah yang akan disewa oleh David untuk merawat Bryan. Ternyata tidak. Dan orang yang merawat Bryan sudah tiba di rumah lebih dulu.


Sean mengepalkan kuat tangannya setelah melihat seorang wanita yang sangat ia kenal. Dia adalah Bu Dewi. Wanita yang dulu menjadi baby sitter sekaligus wanita yang bersekongkol menculik Viana, kini berada di rumah besar David dan akan tinggal disitu juga untuk merawat Bryan.


Entah sejak kapan Bu Dewi bekerja pada David. Sean juga tidak tahu. Dan meskipun wanita itu akan tinggal di rumah yang sama dengannya, Sean juga tidak bisa berbuat sesuatu.


Terlihat wajah Bu Dewi yang terus menunduk saat melihat Sean berdiri di belakang David. Kemudian dia segera menyambut Bryan dan membawanya masuk ke kamar.


“Pasti kamu bertanya-tanya kenapa Dewi ada disini?” ucap David. Namun Sean hanya diam saja.


“Mantan suami Dewi punya banyak hutang padaku. jadi dia lah yang harus membayarnya.” Lanjut David dan segera berlalu.


Kini Sean tahu alasan kenapa Bu Dewi ada di rumah David terlebih sekarang menjadi perawat Bryan. Seingat Sean dulu saat dirinya menyewa jasa wanita itu dari sebuah yayasan, wanita itu sudah lama bekerja menjadi baby sitter dan berganti-ganti tempat. Tidak ada yang mencurigakan. apakah mungkin, di saat pertama kali dia mengambil Bu Dewi, di saat itu juga David menemukan keberadaan wanita itu. Entahlah.


Sean memulai pekerjaannya seperti biasanya. Dia tidak peduli dengan keberadaan Bryan ataupun Bu Dewi. Karena selama itu Sean hampir tidak pernah bertemu secara tatap muka baik dengan Bryan ataupun Bu Dewi. Namun satu hal yang Sean tahu. Keadaan Bryan masih sama. Tidak bisa bicara apapun. Dan tidak bisa melakukan apapun.


***


Waktu yang diminta Fredy untuk mengerjakan tugas yang diperintah sudah hampir selesai. Fredy benar-benar mengerjakan tugas itu dengan sangat teliti dan bisa memastikan keberhasilannya mencapai 99%.


Fredy bahkan bisa mengetahui kalau alat pengendali bom yang ditanam pada tubuh Sean juga dikendalikan oleh bom lain selain remote. Jadi ada dua bom yang ditanam. Satu di tubuh Sean. Satu lagi di tubuh seseorang yang ia yakini adalah David.


Namun untuk menonaktifkan bom yang ada dalam tubuh Sean, Fredy harus bertemu langsung dengan Sean, sesuai jarak yang telah diatur. Fredy hanya bisa memperkirakan jarak yang biasa digunakan oleh si pengendali atau si pemilik remote sekitar tiga ratus sampai lima ratus meter. Jadi Fredy juga harus berada dalam jarak yang sesuai dengan pengaturan itu, agar bisa menonaktifkannya.

__ADS_1


“Kapan kamu bisa melakukannya?” tanya Xander setelah mendengar penjelasan Fredy.


“Tiga hari lagi alat ini siap digunakan.” Jawab Fredy.


Xander mengangguk. Setelah itu Xander, Leon, dan Marsha mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk alat persenjataan yang akan digunakan untuk melawan anak buah David.


Marsha yang sudah mengantongi alamat keberadaan Sean melalui surat yang dititipkannya saat itu, segera memberitahukan pada Leon untuk melacak dan melihat seberapa kuat pertahanan yang ada di sekitar lokasi rumah David.


“Apa perlu kita menambah personil?” tanya Xander memastikan.


“Aku rasa tidak. Cukup kita berempat saja sudah cukup. Kamu bisa menembak bukan?” tanya Marsha dan diangguki oleh Xander.


“Tapi aku yang belum pandai nembak, Sha! Bahkan nembak kamu saja sering kamu tolak.” Sahut Leon mendrama.


“Baiklah. Mulai sekarang aku akan mempersiapkan semuanya.” Ucap Xander.


Perjalanan dari negara dimana Xander tinggal untuk menuju keberadaan rumah David membutuhkan waktu lima jam. Xander juga sudah memperhitungkan waktunya dengan tepat dan matang.


Setelah berunding, mereka berempat sudah kembali ke kamar masing-masing. Namun tidak dengan Xander. Saat dia akan memasuki kamarnya, tidak sengaja dia melihat Silvia yang sedang duduk sendiri di taman belakang rumah. Xander pun menghampirinya.


“Disini sangat dingin. Kenapa kamu tidak masuk?” tanyanya.


“Nggak apa-apa. Aku hanya ingin menghirup udara malam saja.”

__ADS_1


“Silvia, maafkan aku selama ini telah membuatmu ikut masuk dalam masalahku. Aku janji setelah semua ini selesai, aku akan membahagiakan kamu.” Ucap Xander dengan tulus.


Silvia menoleh. Menatap dalam mata Xander yang penuh dengan cinta. Walau benar yang dikatakan oleh Xander, namun Silvia sama sekali tidak keberatan.


“Aku tidak masalah dengan hal itu, Xander. Aku percaya denganmu.”


“Terima kasih, Silvia. Dua hari lagi aku akan pergi untuk menyelamatkan Sean. Tolong doakan semoga usaha kami semua berhasil dan bisa membawa Sean pulang.”


“Aku akan selalu mendoakan kamu dan teman-temanmu. Termasuk Tuan Sean.”


Setelah itu Xander memeluk Silvia dengan erat.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2