
Xander menoleh ke sumber suara dimana ada seseorang sedang tertawa. Pria sebenarnya sangat malu pada sahabatnya karena terpergok sedang bicara dengan Silvia. Namun dia mencoba tetap cool dan cuek. seketika Xander langsung berdiri berjalan menuju mobil Sean berada. Sedangkan Sean hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lucu sahabatnya.
Dalam perjalanan mereka berdua sudah bersikap seperti biasa. Sean mencairkan suasana dengan mengajak Xander membicarakan masalah pekerjaan dan juga tentang Bryan.
“Biarlah baj****an itu menghilang. Aku yakin pasti David yang membawanya pergi ke luar negeri.” ucap Sean.
“Aku rasa juga seperti itu. Tapi kenapa harus dirahasiakan? Aku khawatir si tua bangka itu masih terus merencanakan kejahatan pada keluarga kamu.” Sahut Xander.
“Entahlah. Sekarang perusahaan cabang sudah ada dalam genggamannya. Lalu apalagi yang dia inginkan. Setahuku sejak dulu David lebih menginginkan perusahaan itu. Tapi aku juga tetap waspada.” Ucap Sean sambil tatapannya lurus ke depan.
Tak lama kemudian Sean sudah tiba di rumahnya. Mungkin sehari ini dia akan meminta Xander tinggal di rumahnya karena apartemen yang akan ia tempati masih dibersihkan. Xander juga tidak masalah.
Saat memasuki rumah, Xander langsung disambut oleh Chandra. Pria itu segera mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Chandra lalu menggendongnya.
“Om, turunin Chan. Chan nggak mau digendong!” teriak Chandra sambil meronta saat berada dalam gendongan Xander.
Xander pun langsung menurunkan Chandra. Dia juga merasa tidak enak karena disana juga ada Lidia. “Maaf, Om hanya kangen sama Chan. Jadi pengen gendong.” Ucapnya.
“Ish.. Om ini. Chan kan sudah besar. Bukan anak kecil lagi yang suka digendong seperti adik Viana.” Jawabnya sambil mengerucutkan bibir.
Xander seketika tertawa gemas lalu kembali menggendong Chandra. Tidak peduli anak itu teriak meronta minta turun. Lalu membawanya duduk di sofa. Diikuti dengan Sean.
“Bagaimana kabar kamu, Xander?” tanya Lidia basa-basi.
__ADS_1
“Baik.” Jawabnya singkat.
Mereka pun akhirnya duduk sambil berbincang-bincang di ruang tamu. Namun pembicaraan itu didominasi oleh Sean dan Xander saja karena membicarakan pekerjaan. Lidia hanya sebagai tim pendengar saja. Sean juga mengatakan pada istrinya kalau hari ini Xander akan menginap disini sementara waktu sampai apartemennya selesai dibersihkan. Lidia mengangguk mempersilakan dan menunjukkan kamar tamu.
Di perusahaannya nanti Sean meminta Xander menghandle beberapa proyek yang sedang ia kerjakan. Karena saat ini Sean sedang menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar. Dan dia berharap keuntungan yang ia dapatkan bisa digunakan untuk membangun perusahaan cabang. Karena sampai saat ini Sean masih menyesalkan perusahaan cabangnya yang sudah berpindah ke tangan David.
Selain meminta Xander menghandle beberapa proyek, Sean juga meminta sahabatnya untuk mencari tahu tentang keberadaan Ricky. Pasalanya sampai saat ini dia belum bisa menembus informasi menegnai pria misterius itu.
“Baiklah nanti aku juga akan mencari informasi tentang dia.” Ucap Xander saat sedang berada di ruang kerja Sean.
“Aku bahkan tidak tahu, Ricky itu suruhan Bryan atau David. Hilangnya pria itu hampir bersamaan dengan kepindahan Bryan dari rumah sakit.” Ucap Sean.
“Kamu tenang saja. Yang terpenting kamu tetap waspada.” Saran Xander.
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. Xander segera bersiap untuk pulang ke apartemennya. Sedangkan Sean juga pulang ke rumahnya.
Saat ini Sean tengah duduk di kursi kerjanya. Beberapa menit yang lalu dia baru saja selesai meeting dengan rekan bisnisnya. Sean sedang memegang sebuah undangan ke sebuah acara ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya tadi. Sean diharapkan datang bersama istrinya.
Sean pun jadi teringat pada istrinya kalau selama ini dia tidak pernah melibatkan urusan kantor dengan sang istri. Meski Lidia juga tidak keberatan. Namun Sean harusnya memperkenalkan istrinya kepada beberapa rekan bisnisnya. Dan undangan itu akan ia gunakan sebagai kesempatan memperkenalkan Lidia kepada khalayak umum.
Sean pulang kerja menunjukkan sebuah undangan tadi pada Lidia.
“Weekend lusa ikutlah denganku untuk menghadiri acara ini.” ucap Sean.
__ADS_1
“Kenapa harus denganku? Kamu bisa pergi bersama Xander saja.” Tolak Lidia.
“Sayang, rekan bisnisku memintaku datang bersama kamu. Selama ini aku tidak pernah melibatkan kamu atau memperkenalkan kamu di acara penting seperti ini. maafkan aku.” ucap Sean merasa bersalah.
“Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Tidak ikut pun aku juga tidak akan marah. Karena-“
“Sttt…. Aku nggak mau ada penolakan. Persiapkan diri kamu untuk weekend lusa.” Potong Sean cepat kemudian berjalan lebih dulu menuju kamarnya.
Lidia hanya menghela nafasnya pelan. Meski hatinya merasa tidak nyaman, namun dia juga tidak mau membuat suaminya marah hanya karena menolak pergi ke pesta nanti.
Hari itu pun tiba. Lidia kini sudah bersiap untuk pergi bersama Sean. Sejak tadi Sean sangat terpukau dengan dandanan istrinya yang menurutnya sangat cantik. Meski dengan dress yang sederhana. Namun Lidia justru terlihat sangat anggun.
“Sayang, rasanya aku enggan mengajak kamu pergi. Aku ingin mengungkungmu saja di dalam kamar.” ucap Sean dengan tatapan nakalnya.
“Ya sudah ayo. Lebih baik begitu daripada pergi.” Tantang Lidia.
“Aku hanya bercanda. Aku juga tidak enak jika tidak hadir di acara ini.” ucapnya lalu menggandeng tangan Lidia keluar dari kamar.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️