Suami Kedua

Suami Kedua
Ulang Tahun Kavi


__ADS_3

Waktu sudah malam. satu per satu tamu undangan pulang. begitu juga dengan Sean dan Lidia yang memilih untuk pamit terlebih dulu dan tidak ikut makan malam bersama Leon dan Marsha. Karena dia sangat kasihan dengan Lidia yang sepertinya kelelahan. Kavi juga yang sudah tidur sejak tadi.


Malam ini Sean dan Lidia memutuskan langsung beristirahat. Karena besok pagi dia juga harus segera bertolak pulang ke luar negeri. Lidia terus kepikiran dengan kedua anaknya yang sejak kemarin ia tinggalkan. Sedangkan Sean, dia memiliki banyak jadwal meeting dengan beberapa kliennya.


*


Pagi ini Sean dan Lidia sudah bersiap menuju bandara. Keduanya sudah berpamitan pada pasanagn pengantin baru, juga pada pasanag Xander dan Silvia semalam saat di pesta kalau hari ini akan kembali ke luar negeri.


Sean memilih naik taksi saja, karena dia tidak ingin merepotkan Xander. Tak lama kemudian, taksi yang mereka pesan sudah tiba di hotel dan akan mengantar mereka ke bandara.


Saat taksi itu melaju keluar hotel, ada seorang pria yang tengah duduk di pinggi jalan dekat hotel. Pria itu sejak tadi melihat Sean dan istrinya saat memasuki taksi. Pakaian pria itu jauh dari kata rapi. Bahkan tubuhnya tidak terawat seperti dulu saat masih mempunyai pekerjaan.


“Tunggu saatnya tiba. Semuanya ini gara-gara kamu.” Gumamnya sambil tersenyum sinis melihat taksi yang ditumpangi Sean semakin jauh dari pandangannya.


***


Hari-hari Sean dilalui dengan baik. Meskipun pekerjaan kantor bagitu banyak. Namun dia berusaha sebaik mungkin membagi waktunya buat keluarga tercintanya. Karena bagi Sean, kebahagiaan keluarga yang paling penting. Terutama anak-anaknya.


Meski Chandra dan Viana bukan darah dagingnya, namun Sean memperlakukan kedua anak itu sudah seperti anak kandungnya sendiri. Dia tidak membeda-bedakan kasih sayangnya. Semuanya mendapat kasih sayang yang sama.


Lidia sangat bersyukur memiliki sosok suami seperti Sean, yang sangat sayang dengan keluarga terutama terhadap anak-anaknya.


Waktu bergulir begitu cepat. Perusahaan Sean semakin berkembang pesat. Dan hal itu tak lepas dari bantuan Fredy. Pria itu sampai saat ini masih setia mengabdi pada Sean. Dan Sean sudah menganggap Fredy layaknya saudara sendiri.


Meskipun Fredy sangat sibuk dengan urusan kantor, namun pria itu masih terus memberikan bimbingan belajar pada Chandra. Bahkan Viana juga sudah mulai diberikan bimbingan olehnya. Walau usianya masih lima tahun.

__ADS_1


Sebenarnya Lidia keberatan dengan ide suaminya yang menginginkan Viana melakukan pembelajaran homeschooling. Namun lagi-lagi kalau urusan pendidikan anak, Lidia pasti kalah dengan suaminya.


Hari ini keluarga Sean tampak sibuk. Karena besok adalah hari ulang tahun Kavi yang sudah genap dua tahun.


Sean dibantu seluruh penghuni rumah untuk mendekor rumahnya demi menyambut pesta ulang tahun Kavi besok. Sedangkan Lidia dibantu oleh Bibi Anne untuk menyiapkan beberapa kue dan aneka makanan ringan.


Saat sedang sibuk membuat kue, tiba-tiba saja Lidia merasakan kepalanya pusing. bahkan hampir saja wanita itu jatuh pingsan kalau saja Bibi Anne tidak menahannya.


“Nyonya, sebaiknya anda duduk saja. Biar Bibi yang melanjutkannya.” Ucap Bibi Anne khawatir.


“Maaf, Bi. Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba  kepalaku pusing sekali.” Jawab Lidia sambil duduk dan memijit pelipisnya.


“Mungkin anda sedang kelelahan. Lebih baik anda istirahat di kamar saja. Lagipula kue ini juga hampir selesai.” ucap Bibi Anne.


Setelah rasa pusingnya sedikit mereda, Lidia memilih masuk ke kamar untuk beristirahat.


Beberapa saat kemudian kegiatan mendekor itu selesai. mereka beristirahat sejenak. Sedangkan Sean mencari keberadaan sang istri yang sejak tadi tidak terlihat. Dia sangat terkejut saat Bibi Anne mengatakan kalau Lidia tadi sempat merasakan pusing dan hampir jatuh pingsan. Pria itu bergegas masuk ke kamar untuk melihat keadaan istrinya.


“Sayang, kamu sakit?” tanya Sean dengan cemas.


Lidia berbaik badan menghadap suaminya.


“Iya, tadi aku hanya merasa pusing. tapi sekarang sudah membaik setelah aku minum obat dan istirahat. Maaf, tidak ikut membantu.” Jawabnya.


“Aku sama sekali tidak masalah. Bagaimana sebaiknya kalau aku antar kamu ke rumah sakit untuk periksa?” ajaknya.

__ADS_1


“Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Tolong kamu jaga Kavi dulu, ya?”


“Ya sudah kalau tidak mau. Kamun istirahat saja. Jangan khawatir dengan Kavi. Aku akan menjaganya.”


Ternyata benar. Setelah istirahat, keadaan Lidia perlahan membaik. Kepalanya sudah tidak pusing lagi. ditambah lagi dia terus mengkonsumsi vitamin agar badannya tetap fit.


Keesokan harinya pesta ulang tahun Kavi digelar. Pesta itu hanya dirayakan oleh penghuni rumah saja. Karena Lidia tidak ingin mengadakan pesta mewah. Dia masih sedikit trauma dengan kejadian saat pesta ulang tahun Chandra dulu.


Meskipun acar pesta itu sangat sederhana. Namun Kavi sangat senang dengan penyambutan hari jadinya yang kedua itu.


Semua orang memberikan kado pada bocah tampan yang berusia dua tahun itu. Begitu juga dengan orang tuanya. Sean dan Lidia sengaja memberikan kado secara terpisah, biar terkesan mendapat banyak kado. Begitu juga dengan kakak-kakaknya.


Lidia adalah orang yang terakhir memberikan kado pada putra ketiganya itu. Namun tiba-tiba saja Lidia kembali merasa pusing. dan dia tidak bisa lagi menahannya.


Bruk


Lidia jatuh pingsan di depan Kavi dan kadonya ikut terjatuh juga.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2