
Sean berjalan menuju dapur setelah mendapatkan peringatan waktu dari istrinya. Dirinya merasa seperti sedang mengikuti audisi masterchef yang sering ditayangkan dalam acara televisi.
Sean memasuki dapur dan termenung. Dia sama sekali tidak mengenal dengan nama bahan makanan yang ada disana. Apalagi bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat masakan itu.
“Apa yang sedang anda lakukan, Tuan?” tanya Jonathan saat pria itu tiba-tiba saja masuk dapur untuk mengambil air minum.
Sean masih diam. Haruskah ia meminta bantuan Jonathan untuk memenuhi ngidam istrinya. Tak ingin membuat waktunya semakin habis, akhirnya Sean menceritakan semuanya pada pria paruh baya itu. Lalu Jonathan mengangguk paham. Dia segera membangunkan istrinya untuk membantu Sean.
Kini Bibi Anne sudah berada di dapur. Karena Bibi Anne juga tidak tahu resep untuk membuat masakan itu, akhirnya Sean mencari resep melalui ponsel pintarnya dengan menunjukkan pada Bibi Anne. Dengan bahan yang ada, akhirnya Bibi Anne membuat rendang saja. Namun untuk bahan pempeknya, kebetulan di dapur tidak ada. Dan Sean masih beruntung karena tak jauh dari kompleks perumahannya ada supermarket yang buka selama dua puluh empat jam. Akhirnya Sean segera pergi untuk berbelanja bahan pembuat pempek.
Selagi menunggu Sean berbelanja, Bibi Anne sibuk memasak rendang dengan dibantu suaminya. wanita paruh baya itu memaklumi dengan ngidam yang sedang dialami oleh Lidia. Jadi Bibi Anne juga sangat sabar menghadapinya.
Setelah bertempur dengan waktu yang sesuai diberikan oleh Lidia, masakan itu akhirnya selesai tepat waktu. Bahkan Sean sudah menyajikan di atas meja makan dan segera memanggil istrinya.
“Terima kasih banyak, Bi, Uncle!” ucap Sean pada pasangan suamin istri itu.
Bibi Anne dan Uncle Jo hanya mengangguk samar lalu kembali ke kamar mereka. Setelah itu Sean pergi ke kamarnya untuk memanggil istrinya.
Belum sempat Sean membuka pintu kamar, ternyata Lidia sudah lebih dulu membukanya. Wajah wanita itu menyorot tak ramah pada suaminya.
“Apa sudah selesai? waktu kamu sudah satu jam lebih tujuh menit.” Ucapnya sengit.
Sean tersenyum namun dalam hatinya sangat dongkol. “Sudah, Sayang. Ayo! Aku sudah menyiapkannya di meja makan.” Jawab Sean lalu menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan.
__ADS_1
Dari jauh Lidia sudah bisa mencium harum aroma masakan itu. Ludahnya kembali hampir menetes dan sudah tidak sabar untuk menyantap makanan itu. Namun sebelum Lidia duduk, Sean terlebih dulu menahannya.
“Bolehkah aku mencium anakku dulu?” tanyanya lembut.
Lidia mengangguk. Dan kini wajahnya sudah tampak sumringah.
Sean menundukkan badannya, mensejajarkan badan dengan perut istrinya yang masih rata. Lalu menciumnya dengan durasi cukup lama seolah sedang membisikkan sesuatu pada janin itu.
“Apakah kamu memarahinya agar aku tak meminta yang aneh-aneh?” tanya Lidia lalu memundurkan langkahnya.
Deg
Sean sangat terkejut. Bagaiman bisa istrinya tahu apa yang sedang dalam pikirannya kalau dirinya benar-benar memberikan ultimatum pada calon buah hatinya agar tak menyusahkan ayahnya.
“Tidak, Sayang. Mana mungkin aku seperti itu. Baiklah, kamu bisa makan sekarang!” jawab Sean berusaha tetap tenang.
Sean lagi-lagi dibuat terkejut saat melihat istrinya menghabiskan semua masakan yang telah dibuat oleh Bibi Anne, bahkan dirinya sejak tadi ingin mencicipinya dia tahan dan menunggu sisa dari istrinya. Namun kenayataannya makanan itu habis tak bersisa. Tapi Sean senang, jika istrinya menghabiskan semua makanannya. Itu tandanya istri dan calon buah hatinya tumbuh dengan sehat.
Lidia mengusap perutnya yang sudah kenyang. Lalu menuju kamar untuk kembali tidur. Sean pun berjalan mengekor di belakang istrinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sean mungkin akan sulit tidur jika sudah terbangun lama seperti ini.
“Sayang, apakah tidak ada imbalannya setelah aku memasak semua makanan tadi?” tanya Sean sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
“Harusnya aku memberi imbalan pada Bibi Anne, karena beliau yang telah memasak.” Jawab Lidia.
Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata istrinya tahu kalau yang memasak adalah Bibi Anne.
“Baiklah, aku akan tetap memberikan imbalan padamu. Kemarilah!” panggil Lidia sambil melepas kancing piyamanya.
Darah Sean berdesir setelah mendapat lampu hijau dari istrinya. Dengan semangat empat lima, Sean segera maniki ranjang dan bersiap tempur dengan wanitanya.
**
Sean mulai terbiasa menghadapi ngidam istrinya yang semakin aneh-aneh. Semenjak kejadian tengah malam minta makan masakan padang, semenjak saat itu Sean selalu memenuhi kebutuhan dapur lengkap dengan berbagai bahan makanan. Ya buat antisipasi jika Lidia kembali menginginkan masakan padang.
Kini usia kandungan Lidia sudah tujuh bulan. Janin yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu juga tumbuh sehat dalam rahim mamanya. Meski Lidia merasa kehamilannya ini berbeda dari ketiga anaknya, namun dia bisa menjalaninya dengan baik.
“Sayang, aku ke bandara dulu ya?” pamit Sean yang akan ke bandara menjemput Xander beserta istri anaknya yang akan berkunjung.
“Kamu ajak Viana. Biar nanti ada yang mengawasi kamu agar nggak jelalatan sama cewek bule.”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️