
Mirza seketika berlari mendekati ayahnya untuk menghindari amarah Mamanya. Sedangkan Kavi masih menunduk takut tidak berani menatap wajah Mamanya. Akhirnya Lidia meraih tangan Kavi dan mengajaknya berangkat.
“Maafkan Kavi, Ma!” ucapnya seraya berjalan menggandeng tangan Lidia.
Lidia hanya tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala anak ketiganya itu. Jujur saja Lidia sangat bangga terhadap semua anak-anaknya yang selalu meminta maaf dan bisa meredam emosinya sendiri, terlebih karena ulah Mirza yang selalu membuat onar.
Kini keluarga Sean sudah berangkat menuju bandara. Lidia duduk di kursi belakang bersama Mirza. Sedangkan Kavi memilih duduk sendiri di kursi paling belakang. Sedangkan Viana di depan di samping ayahnya yang sedang memegang kemudi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di bandara. Mereka segera menuju pintu kedatangan. Karena menurut jadwal, sekitar lima belas menit lagi pesawat yang ditumpangi Chandra akan landing.
Saat sedang menunggu kedatangan Chandra, lagi-lagi anak bungsu Lidia membuat ulah. Anak itu tidak bisa diam, dia berdiri di atas kursi tunggu sambil melompat-lompat. Akhirnya kakinya terpeleset dan jatuh. Lidia hanya meliriknya lalu berdiri menjauh dari Mirza. Daripada emosinya meluap-luap di tempat umum, Lidia menyerahkan semuanya pada sang suami. dan benar saja, Sean langsung menghampiri Mirza yang sedang menangis sambil memegangi kakinya yang sakit.
Rasanya Sean lah yang paling sabar menghadapi Mirza daripada Lidia. Entahlah, mungkin karena sejak awal mengandung Mirza, Sean sudah bertekat untuk selalu memenuhi kebutuhan istrinya dan anak bungsunya itu.
Tanpa terasa lima belas menit berlalu. Pesawat yang ditumpangi Chandra sudah landing. Tinggal menunggu penumpangnya saja turun.
Satu tahun terakhir ini Sean tidak bisa berkunjung ke luar negeri karena pekerjaannya sangat padat. jadi baik Sean maupun Lidia hanya bisa berkomunikasi dengan Chandra melalui sambungan video call.
Dari jauh tampak seorang pemuda tampan dengan postur tubuh tinggi dan badan atletis. Pemuda berkemeja hitam motif daun dan memakai kacamata hitam itu sedang berjalan sambil menarik kopernya dan mencari keberadaan keluarganya.
Bruk
Pyar
Karena sibuk mencari Mama dan Ayahnya, Chandra sampai tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang juga sedang menarik kopernya. Ditambah lagi begitu banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
__ADS_1
Mendengar suara sesuatu yang pecah di atas lantai, Chandra mengangkat kacamatanya lalu melihat ada sebuah ponsel yang sudah pecah.
“Maaf, maafkan aku Nona! Aku benar-benar tidak sengaja.” Ucap Chandra lalu duduk sambil memunguti pecahan ponsel itu.
“Maaf, tapi aku juga yang salah karena aku tadi sibuk dengan ponselku dan nggak sengaja nabrak koper kamu.” Ucap perempuan itu.
Chandra yang sedang berjongkok tadi seketika mendongak setelah mendengar ucapan minta maaf dari perempuan itu. Mata perempuan itu berembun. Sepertinya dia sedih karena ponselnya kini hancur di saat sedang menghubungi seseorang.
“Kak Chandra!!” teriak Kavi dari jauh.
Chandra berdiri kala mendengar suara adiknya. Lalu ia melihat Kavi dan Viana berlari ke arahnya. Namun laangkah Viana yang lebih cepat dari Kavi, dan Viana lah yang lebih dulu memeluk kakaknya.
Grep
Setelah memeluk Viana, Chandra bergantian memeluk Kavi. Mereka bertiga saling melepas rindu. Tangan Chandra juga masih menggenggam pecahan ponsel milik perempuan yang tidak ia kenal tadi.
Semantara itu di tempat yang sedikit jauh, tampak Sean dan Lidia yang sedang mengandeng Mirza hendak menghampiri Chandra namun langkahnya terhenti saat melihat seorang perempuan yang mereka kenal.
“Feby? Dari mana kamu, Sayang?” tanya Lidia antusias.
“Tante, Om! Feby baru saja pulang dari liburan. Feby duluan ya, Om Tante!” ucapnya dengan sopan lalu pergi meninggalkan Sean dan Lidia.
Chandra yang tadi berniat mengejar perempuan yang ternyata adalah Feby, ia urungkan saat melihat perempuan itu mengenal kedua orang tuanya. Lalu Chandra memasukkan ponsel yang sudah pecah itu ke dalam tasnya. Mungkin nanti dia akan menggantinya.
Sean dan Lidia sudah menghampiri anak-anaknya. Chandra memeluk mama dan ayahnya bergantian. Tak lupa dengan Mirza. Adik Chandra yang paling bungsu dan juga paling menggemaskan.
__ADS_1
“Ayo kita langsung pulang saja!” ajak Sean kemudian.
Mereka akhirnya pulang ke rumah, karena Lidia sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Chandra sekaligus pesta perayaan ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
Chandra duduk di samping ayahnya yang sedang memegang kemudi. Sedangkan Viana berpindah di jog paling belakang bersama Kavi. Mereka semua berbincang ringan, khususnya menanyakan kabar Chandra.
“Yah, siapa perempuan yang Ayah temui saat di bandara tadi?” tanya Chandra tiba-tiba.
Sean masih diam sambil mengingat siapa perempuan yang ia temui tadi.
“Oh, perempuan yang Ayah dan Mama temui tadi?” tanya Sean lalu Chandra menganggukkan kepalanya.
“Feby. Anak Om Kenzo dan Tante Pelangi. Teman masa kecil kamu dulu.” Jawab Sean kemudian.
.
.
.
*TBC
Guys sorry bgt buat besok jgn ditungguin up ya.. karena othor ada meeting ke luar kota gantiin Sean😂😂✌️. eh, tp beneran ada kerjaan luar kota.😁😁maaf ya🙏🙏 sampai jumpa lusa🤗😍
Happy Reading‼️
__ADS_1