Suami Kedua

Suami Kedua
17 Tahun


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban ayahnya, Chandra terdiam. Mengingat nama seseorang yang katanya dulu pernah menjadi teman masa kecilnya. Pantas saja Chandra tadi merasa tidak asing saat melihat mata perempuan tadi. yang ternyata adalah teman masa kecilnya. dan mereka berdua dulu hampir menjadi korban penculikan.


Lama terdiam, Chandra sampai tidak menyadari kalau mobil yang dikendarai ayahnya sudah sampai depan rumah. meski sudah lama Chandra tidak menginjakkan kakinya di rumah ini, namun dia masih ingat beberapa potong kenangan dengan rumah ini sewaktu masih kecil dulu.


Lidia beserta ketiga anaknya turun lebih dulu dari mobil. Sedangkan Sean dan Chandra turun belakangan sambil membawa barang bawaan Chandra.


Sesampainya di ruang tengah, Chandra dikejutkan dengan suara nyanyian adik-adiknya yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Sedangkan mamanya membawakan sebuah kue tart yang terpasang lilin bersimbol angka 17.


Chandra terharu dengan kejutan yang diberikan keluarganyaa. Setelah nyanyian itu selesai, Chandra menutup mata sambil memanjatkan doa dan harapan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Setelah itu barulah ia meniup lilin.


Lidia membawa kue itu dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia membiarkan Chandra memotong kuenya. Potongan pertama Chandra suapkan pada mamanya. Setelah itu ayahnya. Lidia memeluk haru pada anak bungsunya yang sudah tumbuh dewasa itu. Dia sungguh bangga dengan Chandra yang selama ini menjadi anak yang sangat penurut dan juga penyayang keluarga.


Setelah merayakan pesta kejutan kecil-kecilan itu, Chandra memilih masuk ke kamarnya untuk istirahat sejenak sebelum makan siang bersama.


Chandra meletakkan kopernya di dekat ranjang. Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Fredy kalau dirinya sudah sampai rumah. namun saat Chandra mengambil ponsel itu, tidak sengaja dia mengambil serpihan ponsel milik seseorang yang ia temui secara tak sengaja tadi waktu di bandara.


Setelah menghubungi Fredy, Chandra meletakkan ponselnya dan beralih melihat-lihat ponsel milik perempuan yang bernama Feby. Ponsel itu pecah menjadi dua bagian. Tapi yang paling parah bagian lcd-nya. Chandra membolak-balikkan ponsel itu, lalu hatinya terusik rasa penasaran untuk melihat isinya.


“Ah nanti sajalah. Sepertinya butuh waktu lama untuk memperbaiki ponsel ini.” gumamnya seraya menyimpan ponsel itu ke dalam laci nakas.


Setelah itu Chandra berganti baju. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dariluar kamarnya. Ternyata Kavi yang memanggilnya untuk segera bergabung makan siang.


Chandra sudah berpakaian santai ala rumahan. Dia bergabung dengan semua anggota keluarganya untuk makan siang bersama. Lidia sudah menyiapkan menu makanan yang sangat banyak termasuk makanan kesukaaan Chnadra.


“Apa keinginan kamu setelah ini, Chan? Apakah kamu langsung kuliah?” tanya Sean di sela-sela kegiatan makannya.

__ADS_1


“Belum tahu, Yah. Sepertinya Chan akan menunda kuliah dulu satu tahun. Nanti tahun depan saja Chan akan kuliah.” Jawabnya.


“Ya sudah, terserah Chan saja. Yang penting Mama nggak mau kalau Chan tinggal jauh lagi. jadi kuliahnya harus di kota ini.” ucap Lidia.


“Mama jangan khawatir.”


***


Sementara itu seorang perempuan cantik yang beberapa waktu lalu sudah sampai rumah setelah pulang dari liburan tampaak sedih karena ponselnya pecah. Bahkan Feby sampai melupakan kalau ponselnya tidak ada bersamanya.


Feby baru sadar saat sudah berada dalam taksi kalau ponselnya yang pecah tadi ia tinggalkan begitu saja. Feby ingat kalau pnselnya tadi sempat dipungut oleh pemuda yang ia tabrak, namun Feby juga tidak yakin kalau pemuda tadi membawa ponselnya. Laagian sudah russak, palingan juga dibunag. Tapi dia sangat membutuhkan ponsel itu, karena di dalamnya banyak data penting dan banyak foto hasil liburannya.


Tok tok tok


“Ya, Ma? Ada apa?” tanyanya dengan suara lesu.


“Ayo makan siang. Papa dan Fico sudah menunggu dari tadi. kenapa sih mukanya kok kusut begitu?” tanya Pelangi heran.


“Nggak apa-apa, Ma. Ya udah sebentar lagi Feby turun. Feby ganti baju dulu.” Jawabnya lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.


Kini Feby sudah turun dan bergabung untuk makan siang bersama keluarganya. Feby berusaha menyembunyikan kegalauannya lantaran ponselnya yang pecah dan juga hilang. Bisa saja Feby mengakses kembali data-data dalam ponsel itu, hanya saja ia lupa dengan password emailnya. Karena akun yang tersimpan di dalam laptopnya sudah log out.


“Bagaimana liburan kamu?” tanya Kenzo tiba-tiba.


“Ah, ehm… menyenangkan Pa.” jawabnya sambil gelagapan.

__ADS_1


“Lalu apa rencana kamu setelah lulus kuliah ini?” lanjutnya.


“Memangnya Papa mengijinkan Feby kerja di luar atau ke luar kota?” Feby bertanya dengan malas karena percuma saja Papanya bertanya kalau sudah tahu jawabannya. Dan Kenzo memang tidak memperbolehkan Feby kerja di luar perusahaannya.


“Ya, kamu tahu sendiri. Papa hanya ingin tahu, posisi apa yang kamu inginkan nanti?”


“Ya kalau bisa Feby langsung gantiin Papa saja, jadi Boss.” Jawabnya asal.


Aww


Tiba-tiba saja kepala Feby terasa ada yang menjitak. Siapa lagi kalau bukan Fico, adiknya yang selalu jail.


“Enak saja, baru juga mau kerja udah mau jadi Boss.” Gerutu Fico.


“Sudah, sudah, jangan berdebat saat sedang makan!” ucap Pelangi.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2