
Rama membalas pelukan yang dilakukan Kila, “apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Rama yang membuat kening Kila mengerut membalas tatapannya.
“Aku? Memang ada apa denganku?” Kila balas bertanya, diikuti tangannya yang merapikan dasi di kemeja Rama.
“Aku dengar, jika kau membeli obat untuk sakit kepala?”
Kening Kila kembali mengernyit, ‘apa dia, mengawasiku? Kenapa dia bisa mengetahui semuanya? Apa supir itu yang memberitahukannya?’ batin Kila dengan hampir tak berkedip menatap Rama.
“Ah, aku memang sedikit sakit kepala pagi tadi. Tapi sekarang sudah baik-baik saja,” ucap Kila, sambil berjalan mundur menjauhi Rama.
Dia masih terdiam dengan melirik ke arah Rama yang berjalan melewatinya, “kemarilah!” perintah Rama seraya melambaikan tangannya ke arah Kila.
Kila melangkah mendekatinya, dia bergerak duduk di pangkuan Rama saat Rama melirik ke arah pahanya. Kila hanya menutup rapat bibirnya sambil melirik ke tangan Rama yang mengusap pahanya, “kak,” ucap Kila lirih sembari memeluk dirinya.
“Apa aku, boleh bekerja? Aku mengambil cuti saat menikah dengan Gilang kemarin, dan lusa aku harus mulai bekerja kembali,” sambung Kila, menunggu respon dari Rama.
“Aku, bisa memberikanmu uang yang lebih banyak dari gaji yang kau dapatkan.”
Bibir Kila terlipat sambil membuang pandangannya dari Rama, “aku, hanya mencoba untuk mandiri. Entah kapan, kakak akan membuangku,” saut Kila, dia mencoba untuk beranjak, tapi tangan Rama yang melingkar di pinggangnya, menahan pergerakan Kila.
“Kau, tidak mempercayaiku?”
“Hal yang sama, aku tanyakan kepadamu, kak,” balas Kila, dengan sekuat mungkin mencoba untuk menahan diri saat tangan Rama semakin menelusup ke dalam rok gaun yang ia kenakan.
“Jadi, apa aku-”
__ADS_1
“Aku tidak menyetujuinya. Aku masih sanggup dan sangat sanggup untuk membelikanmu apa pun. Mulai besok, kau akan mendapatkan uang bulanan pribadi … Hanya katakan saja kepadaku, jika uang yang aku berikan habis,” ucap Rama memotong perkataan Kila yang belum habis terucap.
‘Aku memang menunggu, kata-kata ini keluar darimu. Dengan seperti ini, aku bisa mengumpulkan banyak uang untuk aku pergi dari sini, setelah semuanya selesai,’ batin Kila, dia menundukan kepalanya dengan memperlihatkan wajah bersalah.
“Baiklah, jika itu memang keputusan kakak,” ungkap Kila, dia mengeluarkan lirihan sambil menyandarkan wajahnya di dada Rama.
Kila menarik tangan Rama menjauhinya, saat dia merasakan sesuatu yang keras, menekan bokongnya yang menduduki Rama, “makanannya mungkin sudah siap. Kita, makan siang dulu,” Kila berkilah setelah dia sudah beranjak dari pangkuan Rama.
Rama tak berbicara, dia hanya melirik ke arah Kila yang telah berjalan meninggalkannya. Helaan napas Rama keluarkan, sebelum dia beranjak menyusul Kila. Kila sendiri, terus berjalan tanpa memedulikan Rama yang mengikutinya di belakang.
Langkah Kila berhenti di ruang makan, dia menarik salah satu kursi dengan menatap ke arah Rama, “duduklah, kak!” pintanya, sambil melirik ke arah kursi yang ia pegang.
Rama mengikuti permintaannya tanpa banyak berbicara. Dia pun, hanya diam seribu bahasa, tatkala Kila juga telah duduk di kursi yang ada di seberangnya. “Mungkin, sebentar lagi mereka baru akan mengantarkan makanannya,” sambung Kila sembari membuang pandangannya dari Rama yang hampir tak berkedip menatapnya.
“Kenapa kau justru duduk di sana?”
Kila yang membatin, mengusap tengkuknya sendiri, “karena menurutku, kak Citra yang lebih pantas duduk di sebelahmu, kak. Jadi, aku memilih duduk di sini saja,” ucap Kila, dia menggigit bibirnya sendiri sembari terus membuang pandangannya dari Rama.
“Kemarilah! Dan duduk di sebelahku!”
“Tapi-”
“Bagaimana kau akan mengambilkan makanan yang nanti dihidangkan untukku. Kalau kau sendiri pun, jauh di sana,” potong Rama yang menghentikan perkataan Kila.
Kila menghela napas, walau di dalam hatinya, dia sangatlah bahagia mendengar apa yang Rama katakan, “baiklah. Tapi, jika kak Citra marah, kak Rama yang harus bertanggung jawab,” ucap Kila, seraya beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati kursi yang ada di sebelah Rama.
__ADS_1
Dia duduk di kursi tersebut, saat Rama menarik kursi itu untuknya. Kila hanya terdiam, dia semakin menutup bibirnya saat beberapa pelayan, menyusun semua hidangan dengan rapi di atas meja, “bi, apa Bibi bisa memanggil kak Citra? Katakan kepadanya, makan siang sudah siap,” ucap Kila ke arah Mainun yang mengawasi para pelayan bekerja.
Mainun mengalihkan pandangannya kepada Kila, “baik, Nyonya,” ucapnya sambil membungkuk sebelum berjalan meninggalkan ruangan.
“Terima kasih, kalian bisa kembali bekerja,” tukas Kila yang dibalas oleh anggukan kepala mereka.
Kila beranjak berdiri setelah mereka semua meninggalkan ruangan, dia membalik piring yang ada di depan Rama lalu mengisi piring tersebut dengan nasi dan beberapa lauk yang terhidang. “Kenapa kau harus memanggilnya? Dia, bisa memesan makanannya sendiri kalau lapar,” tanya Rama, sambil menatap Kila yang tengah menuangkan air di gelas miliknya.
“Aku, memasak makanan ini bukan untuk kakak seorang saja. Aku, memasak makanan ini juga untuknya-”
“Kau mengatakan apa?”
Kila lagi-lagi menghela napas sembari meletakan gelas berisi penuh air di dekat Rama, “mau bagaimana pun, dia juga Istrimu. Dia, bagian dari keluarga ini … Dan kakak, masih bertanggung jawab untuk hidupnya. Seharusnya, kakak lebih memperhatikannya, karena dia yang paling terluka dari pernikahan kita,” Kila kembali membual sebelum dia mengisi piring miliknya dengan berbagai lauk yang ada di atas meja.
“Ada apa, kak?” tanya Kila, saat Rama hanya diam menatapnya.
Kila mengikuti arah pandangan Rama, ‘aku tidak menyangka, jika dia akan datang secepat ini,’ batin Kila saat matanya itu terjatuh ke arah Citra yang berjalan masuk ke dalam ruangan.
Rama menahan tangan Kila yang hendak beranjak berdiri saat Citra telah berdiri di sampingnya, “duduklah di kursimu, Kila!” perintah Rama, yang dengan cepat membuang pandangannya kembali pada makanan yang ada di depannya.
“Kak, tapi ini kursinya kak Citra. Kak Citra, duduklah di sini,” tukas Kila, sambil berusaha melepaskan tangan Rama yang mencengkeram kuat lengannya.
“Saat aku mengatakan, tetaplah duduk di sini! Kau jangan membantahnya, Kila! Masih ada banyak kursi yang bisa dia duduki!”
Kila melirik ke arah Citra yang sontak terkejut saat Rama meninggikan suaranya. Matanya yang memerah itu, mengarah ke arah Kila yang sempat tersenyum kecil ke arahnya. “Itu kursiku, Rama. Selama ini, aku duduk di sana … Berdampingan denganmu,” Citra mengucapkannya dengan suaranya yang parau.
__ADS_1
Kila tertunduk dengan menggigit kuat bibirnya, saat Rama sama sekali tak menggubris perkataan Citra, ‘kesalahan terbesarmu, karena kau tidak bisa jujur kepadanya. Kesalahan terbesarmu itu juga, yang memberikan keuntungan untukku,’ Kila membatin sambil mengangkat wajahnya kembali menatapi Citra.
“Kak Citra, hanya kali ini saja … Biarkan aku duduk di sini, karena kak Rama akan lanjut bekerja setelah makan siang,” ungkap Kila, matanya melirik ke arah kursi yang ada di seberang mereka, seakan meminta Citra untuk melakukan apa yang ia pinta.