
Tok tok tok
“Silvia, buka pintunya!”
Xander terus mengetuk pintu kamar Silvia yang dikunci dari dalam. Perasaannya semakin kacau setelah mendengar kata-kata Silvia yang meminta mengakhiri hubungannya.
Sedangkan di dalam kamar, Silvia mulai mengemas baju-bajunya. Dia sudah bertekat akan pulang dan meninggalkan rumah ini. hatinya sakit jika sering disuguhi drama salah paham seperti ini. entah dirinya yang egois, terlalu cemburu atau apa. Yang pasti Silvia menaruh curiga pada hubungan Xander dan Lidia.
Ketukan pintu dari luar sejak tadi tidak ia pedulikan. Silvia masih menilik beberapa barang penting yang akan dia gunakan untuk pulang. setelah semua beres, Silvia bersiap mendorong kopernya dan keluar kamar.
Cklek
Dengan mata sembab Silvia keluar kamar dengan mendorong koper. Xander yang duduk tak jauh dari kamar Silvia segera beranjak saat melihat kekasihnya benar-benar serius dengan ucapannya.
“Silvia, please tetaplah disini! Jangan tinggalkan aku.”
“Maaf. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus berada di sini yang semakin membuatku sakit hati. Terima kasih atas semuanya. Selamat tinggal!” ucap Silvia lalu berjalan keluar rumah.
Lidia sejak tadi mendengar dan melihat pertengkaran pasangan kekasih itu. Dia juga merasa bersalah karena dirinyalah penyebab putusnya hubungan Xander dan Silvia. Sedangkan Xander benar-benar bingung. Tidak mungkin dia meninggalkan Lidia dan anak-anaknya begitu saja di saat usahanya menyelamatkan Sean sudah menemui titik terang. Namun jika dia membiarkan Silvia pergi begitu saja, hatinya juga semakin sakit karena tak ingin kehilangan perempuan yang sangat ia cintai.
“Xander, Silvia!!” panggil Lidia. Sontak menghentikan laangkah Silvia dan menoleh ke sumber suara. Begitu juga dengan Xander.
“Maafkan aku! Xander, lebih baik kamu pulang bersama Silvia. Perbaiki hubungan kalian. aku tidak apa-apa disini sendiri bersama anak-anakku.” Ucap Lidia berusaha tenang.
Xander menggelengkan kepalanya lemah. Sedangkan Silvia tak bereaksi apapun. Xander masih diam dengan keraguan yang mendominasi hatinya.
“Pergilah! Aku..aku akan tetap disini. Meskipun penantianku pada Sean tak mendapat kepastian.” Lirih Lidia lalu berbalik badan masuk kembali ke kamarnya sambil memegangi perutnya yang sejak tadi sangat sakit.
__ADS_1
Sshhhh…..
Lidia meringis memegangi perutnya. Ditambah dengan kepalanya terasa sangat berat. Silvia kembali melangkah keluar rumah.
Arggghhhh
Bruk
“Nyonyaaa!!!!!”
Silvia berbalik badan saat mendengar teriakan Lidia dan tak lama kemudian wanita itu jatuh terkulai. Sedangkan Xander hanya diam saja karena masih bingung dengan kejadian di hadapannya.
“Xander!!! Cepat bantu bawa Nyonya Lidia ke rumah sakit!” teriak Silvia dengan suara bergetar saat melihat darah keluar begitu banyak di sela-sela paha Lidia.
Seketika Xander tersadar. Lalu pandangannya menuju sang kekasih yang sedang memangku Lidia yang sedang pingsan.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Silvia duduk di bangu belakang sambil memapah Lidia. Lalu Xander melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di rumah sakit, Lidia segera mendapatkan penanganan dari dokter. Silvia dan Xander terlihat begitu panik dengan keadaan Lidia saat ini.
Dokter yang memeriksa Lidia baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Wajah dokter itu terlihat pias. Dan semakin membuat Xander dan Silvia khawatir.
“Dok, bagaimana keadaan Lidia?” tanya Xander.
“Nyonya sudah mengalami kontraksi dan sebentar lagi akan melahirkan. Namun keadaannya tidak baik-baik saja, karena Nyonya mengalami pendarahan hebat.”
“Tolong dok, lakukan terbaik untuk pasien!” mohon Xander.
__ADS_1
Belum sempat dokter menjawab, seorang perawat memanggilnya dan mengatakan kalau Lidia sudah mau melahirkan. Silvia pun menyerobot masuk untuk menemani Lidia melahirkan.
Di dalam ruangan bersalin itu Lidia sudah mengejan kuat karena bayinya sudah ingin keluar. Padahal dokter akan mengupayakan operasi caesar, karena Lidia mengalami pendarahan. Di samping itu tekanan darahnya juga tinggi.
Silvia berada di samping Lidia sambil menggenggam tangan wanita itu untuk memberi kekuatan. Silvia melihat jelas wajah kesakitan Lidia yang sedang melahirkan. Hatinya ngilu karena secara tidak langsung telah menyakiti Lidia tadi.
“Nyonya, anda pasti kuat. Ayo Nyonya, berjuanglah demi buah hati anda.” Gumam Silvia tepat di telinga Lidia.
“Terima kasih, Silvia!” balasnya dengan memaksakan senyum.
Selama kurang lebih satu jam setengah Lidia berjuang melahirkan anak ketiganya. Di tengah proses persalinannya, Lidia terus memanggil nama sang suami.
Silvia pun terus setia mendampingi Lidia hingga bayi tampan itu lahir ke dunia. Dokter dan beberapa perawat yang menanganinya merasa lega setelah Lidia berhasil melahirkan.
Tangisan bayi laki-laki itu menggema seisi ruangan. Silvia terus menitikan air matanya haru saat melihat bayi mungil itu diletakkan di atas da-da sang ibu untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini).
“Silvia, aku titipkan Kavindra padamu. Tolong jaga dia!” Lirih Lidia sebelum kesadarannya hilang.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1