
Dua bulan kemudian.
Lidia kini sedang berbaring di atas brankar ruangan bersalin. Disampingnya juga sudah ada Sean yang selalu setia mendampinginya. Bahkan sejak tadi malam istrinya sudah merasakan kontraksi, pria itu tak sekalipun meninggalkan istrinya.
Ini adalah kedua kalinya bagi Sean mendampingi Lidia melahirkan. Pertama dulu ia mendampingi Lidia saat sedang melahirkan Viana. Dan saat itu statusnya masih menjadi calon suami Lidia. Tapi kali ini berbeda. Ia mendampingi istrinya yang akan berjuang melahirkan darah dagingnya.
Sesekali Sean ikut merasakan nyeri hatinya saat melihat kesakitan istrinya yang berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya. Lidia sendiri merasakan sakit luar biasa saat melahirkan anaknya yang keempat ini. bahkan setelah melalui kontraksi yang sangat lama, janinnya juga tak kunjung keluar, membuat ia hampir menyerah dan meminta untuk dilakukan operasi Caesar saja. Namun tak semudah itu dokter mengijinkan, karena saat ini pembukaannya sudah sempurna.
“Sayang, bertahanlah. Aku percaya padamu, kamu adalah wanita yang sangat kuat.” Bisik Sean di tengah-tengah perjuangan Lidia.
Bibir Lidia terasa kelu, tak sanggup lagi membalas ucapan suaminya. tubuhnya terasa sangat lelah dan tenaganya juga terkuras habis. Rasa takut perlahan mulai menghantuinya jika saja bayinya tidak bisa terselamatkan, ataupun nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya.
“Ingat, ada anak-anak kita di rumah yang sedang menunggu kepulangan Mama dan adiknya.” Bisik Sean sekali lagi.
Seperti mendapat kekuatan lagi, tenaga Lidia pun bertambah. Dengan penuh perjuangan akhirnya ia bisa melahirkan anaknya dengan lancar dan selamat. Tangisan bayi mungil itu menggema seisi ruangan bersalin. Hati Sean merasa lega seketika. Terlebih melihat senyum manis dari bibir istrinya yang dapat ia pastikan kalau Lidia baik-baik saja.
“Terima kasih, Sayang! Kamu istri dan ibu yang sangat hebat.” Ucap Sean sambil mengecup kening istrinya.
*
Tiga hari kemudain Lidia dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. menurut pemeriksaan dokter, keadaan Lidia dan bayinya sudah dinyatakan sehat. Sean pun sangat senang.
__ADS_1
Ketiga anak Lidia sangat senang mendengar kalau mama dan adiknya sudah diperbolehkan pulang. mereka bertiga sudah tidak sabar menanti kedatangan mamanya.
Bayi mungil anak keempat Lidia yang diberi nama Mirza itu kedatangannya disambut hangat oleh kakak-kakaknya. Bahkan bayi yang masih berusia beberapa hari itu sudah diperlakukan seperti raja oleh semua penghuni rumah. walau menurut Lidia itu sangat berlebihan, namun jujur ia sangat senang. Itu tandanya Mirza sangat disayangi oleh semua orang.
**
Waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa usia Mirza sudah dua tahun. Bocah kecil itu tumbuh dengan kasih sayang melimpah dari kedua orang tuanya dan juga kakak-kakanya. Walau Sean dan Lidia tidak pernah pilih kasih dengan semua anaknya.
Mungkin efek selalu dimanja oleh ketiga kakaknya dan diperlakukan istimewa, hal itu menjadikan Mirza sebagai anak yang sangat manja. Meski usianya masih kecil, namun anak itu sudah menunjukkan sifat aslinya. Bahkan tak jarang anak itu selalu merengek jika ditinggal ayahnya ke kantor. terkadang sampai ikut Sean bekerja.
Sean berpikir Mirza cukup dalam kandungan mamanya saja menyusahkan dirinya. Ternyata setelah lahir pun bocah itu selalu menguji kesabarannya. Mau marah juga itu anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri. Akhirnya Sean hanya bisa menekan rasa sabar dalam hatinya.
Setelah melahirkan Mirza, Sean juga meminta istrinya untuk memasang alat kontrasepsi agar tidak lagi hamil. Selain usia Lidia yang sudah tidak dianjurkan untuk mengandung, Sean juga tidak ingin melihat istrinya kesakitan lagi saat melahirkan.
*
Saat tengah memeriksa beberapa dokumen penting, tiba-tiba Sean mendapat panggilan dari perusahaannya yang ada di Indonesia. Dan kebetulan saat ini mirza sudah tertidur pulas di atas pangkuannya.
Sean menerima panggilan itu dan berbicara cukup serius. Sesekali wajahnya berubah merah padam seperti sedang menahan amarah yang ingin ia luapkan begitu saja.
Selesai melakukan panggilan itu, Sean keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamar untuk menidurkan Mirza.
__ADS_1
“Apakah badannya masih panas?” tanya Lidia yang baru saja memasuki kamar.
“Tidak. Dia sudah berkeringat, demamnya sudah turun.” Jawabnya.
Setelah meletakkan Mirza, Sean menarik tangan istrinya sedikit menjauh dari tempat tidur. Dia ingin menyampaikan kabar penting pada Lidia.
“Ada apa?” tanya Lidia saat melihat raut wajah suaminya tampak berbeda.
“Sayang, perusahaan yang ada di Indonesia saat ini sedang tertimpa masalah besar. Mau tidak mau secepatnya kita harus pulang. karena aku tidak mungkin meninggalkan kalian disini dalam waktu yang cukup lama. Atau bahkan akan tinggal menetap kembali disana.” Jawab Sean.
“Baiklah. Aku dan anak-anak pasti akan ikut kemanapun kamu pergi. Lalu kapan kita akan pulang?”
“Secepatnya. Dalam minggu ini. aku akan selesaikan dulu urusan kantor yang ada di sini.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️