
Sean dan Kenzo saling lirik setelah mendengar ucapan Chandra. Mereka berdua juga tidak keberatan dengan saran Chandra.
“Baiklah, Papa setuju. Biar nanti Papa saja yang menghubungi Reza.” Ucap Kenzo.
“Kalau begitu aku akan mencari informasi dulu dimana keberadaan Ibra saat ini. dan dengan siapa dia berlindung. Karena aku sangat yakin kalau si tua bangka itu tidak bekerja sendiri.” Ucap Sean.
“Aku setuju dengan Ayah. Ya sudah nanti Chan juga akan membantu mencari informasi tentang Tuan Ibra. Sekarang Chan ijin dulu untuk beristirahat.” Pamit Chan pada Ayah dan Papa mertuanya.
“Tak perlu kamu mencari alasan untuk istirahat. Bilang saja kamu ingin berduaan dengan istri kamu.” Sahut Sean dengan kesal.
Chandra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena memang yang dikatakan oleh Ayahnya benar. Tapi dia tidak peduli. Lagi pula selama dirawat di rumah sakit, Chandra sama sekali tidak bisa bermanjaan dengan Feby.
“Ya sudah kamu istirahatlah dulu, Chan! Biar Ayah kamu bermanjaan dengan Papa.” Ucap Kenzo dan seketika membuat Sean bergidik ngeri. Sedangkan Chandra hanya terkekeh geli.
**
Kini Chandra sudah berada di dalam kamar. dia melihat istrinya sedang duduk di kursi balkon. Feby seperti sangat asyik dengan lamunannya, hingga tidak menyadari bahwa suaminya sedang berdiri di beelakangnya sambil bersedekap.
Chandra mengulas senyum saat melihat istrinya sedang mengusap perutnya yang masih rata. Bahkan Feby juga terdengar sedang mengajak calon buah hatinya berbicara.
“Tumbuhlah sehat, Sayang. Mama dan Papa akan selalu menjaga dan menyayangi kamu. Terima kasih sudah hadir di tengah-tengah kita.” Ucap Feby sambil tersenyum.
Chandra yang tidak tahan untuk memeluk istrinya, akhirnya dia mendekat lalu mengalungkan tangannya ke Pundak Feby yang sedang duduk membelakanginya.
“Sayang! Aku sangat bahagia memiliki kalian. maafkan atas keegoisanku selama ini.” ucap Chandra yang masih menyesali perbuatannya beberapa waktu lalu yang mengacuhkan istrinya.
Feby mengusap lembut tangan suaminya, “Sudah, jangan dibahas lagi! yang terpenting saat ini sudah tidak ada lagi kesalah pahaman diantara kita.” Ucap Feby.
__ADS_1
Chandra membungkukkan badannya dengan posisi yang masih sama. Dia mengendus wangi rambut istrinya. Lalu mencium pipi Feby hingga turun ke leher jenjangnya.
“Aku sangat merindukanmu.” Ucap Chandra dengan suara yang berbeda.
Feby yang mendengarnya juga ikut meremang. Dia cukup paham apa yang dimaksud ucapan suaminya baru saja. Jujur saja dia juga sangat merindukan Chandra. Namun setelah itu ada rasa takut dalam dirinya jika suaminya meminta jatahnya. Bagaimana dengan janinnya.
Chandra berdiri lalu menarik lembut tangan istrinya dan membimbingnya masuk ke dalam kamar. Chandra masih belum menyadari ketakutan yang dirasakan istrinya. Dia pun segera menggendong Feby lalu merebahkannya di atas tempat tidur.
Kini posisi Feby sudah berada dalam kungkungan Chandra. Kedua pasang mata itu saling menatap dalam hingga jaraknya semakin terkikis. Chandra mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Bibir yang lama sangat ia rindukan. Feby pun akhirnya membalas ciuman itu begitu dalam menumpahkan kerinduan yang selama ini ia rasakan.
Puas dengan pagutan bibir, Chandra kini mulai menciumi leher jenjang istrinya dan tak lupa selalu meninggalkan jejak cintanya di sana.
“Sayang, aku menginginkannya.” Ucap Chandra dengan suara parau.
“Tapi aku takut akan melukai anak kita.” Ucap Feby dengan cemas.
“Sayang, aku berjanji akan melakukannya dengan pelan dan lembut.” Ucap Chandra mengiba.
Feby pun tidak tega melihat wajah melas suaminya yang sudah menahan gairahnya. Dia juga sebenarnya juga sangat menginginkannya. Kemudian Feby menganggukkan kepalanya tanda memberi ijin pada suaminya.
“Aku akan pelan-pelan. Jika kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa bilang, Sayang!” ucap Chandra dan Feby mengangguk paham.
Akhirnya siang itu terjadilah pergulatan panjang antara pasangan Chandra dan Feby yang setelah beberapa hari absen dari aktivitas panas itu. Chandra membuktikan ucapannya. Dia bermain cukup pelan dan lembut hingga membuat istrinya benar-benar nyaman dan puas.
Cukup lama mereka berdua bergelut dalam kenikmatan surga dunia. Hingga akhirnya keduanya sama-sama melewati puncak kenikmatan.
“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.”
__ADS_1
“Aku lebih mencintaimu.” Balas Feby dengan memeluk erat suaminya.
***
Sementara itu tampak Tuan Ibra sedang berada dalam kamarnya. Di sampingnya terlihat seorang dokter yang sedang memeriksa luka di tangannya. Peluru yang menembus tangannya ternyata cukup dalam. Hingga dia membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhannya.
“Lukanya perlahan sudah pulih, Tuan. Apakah anda masih merasakan sakit?” tanya dokter.
“Aku masih merasa sedikit nyeri. Tolong beri obat yang paling bagus agar aku tak merasakan nyeri lagi.” ucapnya dengan tegas.
Dokter itu hanya mengangguk dan tidak berani menimpali. Pasalnya sejak terkena luka tembak, Tuannya selalu meminta pengobatan terbaik. Dan dokter itu juga sudah mengupayakan. Tapi memang butuh proses yang lama.
Selepas kepergian dokter, Tuan Ibra menghubungi seseorang dan memintanya untuk datang ke rumah.
“Dasar, anak tak tahu diuntung! Sudah susah payah dibesarkan, dan ini balasanmu. Sepertinya aku juga harus melenyapkanmu.” Gumam Tuan Ibra.
.
.
.
*TBC
Ayo guys jangan lupa tinggalkan jejaknya untuk terus dukung author. Karena nanti di akhir cerita, author akan bagi-bagi pulsa gratis berdasarkan urutan poin terbanyak. Yuk kencengin vote dan giftnya!!😂😂✌
Happy Reading‼️
__ADS_1