
Glekk
Sean kesusahan menelan salivanya saat mendapat pertanyaan serangan balik dari istrinya. Semua yang dikatakan Lidia benar adanya. Istrinya itu selalu berada di rumah menjaga anak-anaknya dengan baik. Bahkan di rumah juga banyak orang. Jadi tidak sepantasnya dirinya mencurigai Fredy dan Lidia ada main.
“Biasanya orang yang selalu mencurigai orang lain tidak menutup kemungkinan bahwa orang itu pelaku yang sesungguhnya. hanya saja dia berusaha menutupi kesalahannya dengan cara seperti itu.” Ucap Lidia dengan tenang lalu masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya yang terkena tumpahan jus tadi.
“Sayang, maafkan aku!” dengan cepat Sean memeluk tubuh Lidia.
“Maaf, aku sudah berpikiran buruk. Aku terlalu mencintaimu jadi aku takut hal buruk itu terjadi. Dan untuk semua aktivitasku di luar rumah, aku murni hanya bekerja. Tolong percayalah!”
Lidia tak menanggapi ucapan Sean. Dia melepaskan pelukan Sean dan melanjutkan langkahnya masuk ruang ganti. Sean pun tidak menyerah. Dia merasa istrinya saat ini sedang marah, namun wanita itu selalu tampak tenang.
Lidia membuka bajunya begitu saja saat menyadari Sean ada di belakangnya. Lidia tidak peduli dengan tatapan mata Sean yang terlihat dari cermin yang ada di depannya. Perlahan Sean memeluk tubuh setengah telan-jang Lidia, namun dengan cepat Lidia menepisnya.
“Tubuhku kotor karena sentuhan Fred tadi!” sindirnya.
“Sayang, aku mohon maafkan aku. aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Sean memohon.
Lidia masih bergeming. Dia melanjutkan menggati bajunya dengan baju yang bersih. Kemudian dia keluar dari ruang ganti dan melewati Sean begitu saja.
“Minta maaflah pada Fredy!” ucap Lidia dan bergegas keluar kamar.
Sementara itu di luar kama tepatnya di lantai bawah, tampak Fredy masih menunggu Sean. Pria itu ingin meminta maaf atas kejadian tidak sengaja tadi. dia merasa bersalah hingga membuat pasangan suami istri terlibat pertengkaran.
“Tuan, maaf atas-“
“Sudah lupakan saja. Aku yang minta maaf.” Ucap Sean.
Fredy hanya mengangguk samar. Setelah itu dia berpamitan pulang. karena memang kegiatannya dengan Chandra sudah selesai.
“Apa kamu tidak ikut bergabung makan siang dulu, Fred?” tanya Lidia yang tiba-tiba muncul di belakang Sean.
Sean mengeram kesal mendengar suara istrinya mengajak Fredy makan siang. Namun dia tidak ingin terbawa emosi lagi yang semakin membuat istrinya bertambah marah. Sementara Fredy yang melihat situasi sedang tidak kondusif, pria itu menolak dengan halus dan segera berpamitan pulang.
Kini Sean, Lidia dan juga Chandra sudah duduk di meja makan. Lidia masih mendiamkan suaminya. namun dia juga melayani Sean dengan mengambilkan makanan. Sean tersenyum tipis melihat perhatian istrinya walau masih marah dengan dirinya.
“Ayah, kapan Ayah libur bekerja?” tanya Chandra tiba-tiba.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang? Besok weekend, ayah kerjanya libur.”
“Ayah, bolehkah jika Chan minta jalan-jalan? Sekalian Chan minta dibelikan buku cerita.”
“Boleh. Besok kita jalan-jalan ke mall bersama Mama dan adik juga.” jawab Sean sambil melirik istrinya yang sedang mengunyah makanan. Namun Lidia tidak melihat Sean sama sekali.
Chandra tampak kegirangan saat permintaannya disetujui. Bocah itu pun kembali melanjutkan makannya. Setelah selesai, Chandra lebih dulu meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian Lidia yang menyusul Chandra.
“Sayang, setelah ini aku akan kembali lagi ke kantor.”
“Lalu?”
“Apakah kamu nggak mau ikut ke kantor? agar tahu aktivitasku di luar rumah?”
“Buat apa? Aku tidak pernah mencurigai apapun dari kamu.”
Sean sudah kehilangan kata-kata. Akhirnya dia membiarkan istrinya pergi meninggalkan ruang makan. Begitu juga dirinya yang segera bersiap untuk kembali ke kantor.
Andai saja pekerjaan kantor tidak sesibuk sekarang, pasti Sean akan melanjutkan pekerjaannya di rumah saja setelah makan siang. Semenjak ada kasus di kantor cabang yang dipegang Xander, Sean menjadi sangat sibuk untuk memulihkan sahamnya yang sempat anjlok. Beruntungnya saat itu karyawan yang diduga sebagai tersangka dengan cepat ditangkap oleh Xander. Dan uang hasil rampasannya belum sempat ditransfer pada orang yang mendalangi kejahatannya itu.
***
Sementara di kota lain, Xander tampak bergegas meninggalkan ruang kerjanya hendak menuju suatu tempat dimana karyawannya yang berbuat curang diamankan oleh beberapa anak buahnya.
Xander melirik sekilas ruangan sekretaris dimana Silvia tampak sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu lega akhirnya Silvia masuk kembali ke kantor, meski sikapnya berubah dingin terhadapnya. Kembalinya Silvia ke kantor bukan karena ungkapan cinta Xander saat itu, namun karena surat pengunduran dirinya ditolak oleh Sean. Dan juga Sean langsung menghubungi Silvia agar kembali ke kantor.
Mungkin setelah masalah perusahaan beres, Xander akan memperbaiki hubungannya dengan Silvia. Maksudnya dia akan memperjelas ungkapan perasaannya kepada perempuan yang hampir saja ia lecehkan itu.
Mobil Xander kini sudah keluar dari area perkantoran menuju tempat dimana kaaryawannya disekap. Beberapa saat berkemudi, Xander sudah sampai di sebuah rumah tak berpenghuni. Di luar ada beberapa anak buahnya yang berjaga disana. Mereka menyambut kedatangan Xander dengan menunduk hormat, lalu mempersilakan Xander masuk.
Sesampainya di dalam rumah, Xander melihat salah satu karyawannya yang menjadi tersangka penyelewengan dana perusahaan. Pria itu tampak kusut dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya. Lalu dia duduk di kursi dalam keadaan tubuh terikat.
“Katakan, siapa yang meyuruhmu?” tanya Xander dengan suara tegas.
Pria itu tertunduk diam. Mulutnya tertutup rapat tidak menjawab pertanyaan Xander. Dia teringat dengan ancaman dari orang yang menyuruhnya agar tutup mulut kalau mau anak istrinya masih hidup. Dan setelah perbuatannya diketahui oleh Xander, pria itu mengkhawatirkan keadaan anak istrinya saat ini.
“Katakan!!!” bentak Xander dengan suara keras.
__ADS_1
Pria itu masih bergeming dengan posisi menunduk. Mungkin lebih baik dirinya saja yang mati, daripada anak istrinya. Sedangkan Xander sangat geram melihat sikap pria itu. Dia berteriak pada anak buahnya agar mengambil sesuatu untuknya.
“Ini Tuan!” ucap anak buah Xander sambil memberikan sebuah alat kejut listrik yang akan ia gunakan untuk menyetrum pelaku itu.
“Cepat katakan! Atau kamu mau mati dengan alat ini?” ancam Xander.
“Lebih baik saya yang mati daripada anak istri saya yang mati.” Akhirnya pria itu bersuara.
Xander bisa melihat raut wajah ketakutan pria itu yang sebenarnya takut mati. Akhirnya Xander mendektai pria itu dan mulai mendekatkan alat itu ke tubuhnya.
“Mungkin akan sangat menyenangkan jika aku bermain-main dulu dengan alat ini sebelum mengantarmu ke neraka.” Ucap Xander lalu menempelkan alat kejut listrik itu.
Arghhhhh
Teriakan keras keluar dari mulut pria itu saat Xander terus menempelkan alat kejut listriknya. Lalu Xander melepasnya dan memberi pertanyaan yang sama. Lagi-lagi Xander mengulangi perbuatannya sampai pria itu tampak pucat dan lemas.
“Sekali lagi alat ini menempel di tubuhmu, aku pastikan nyawamu melayang dan disusul oleh anak istrimu juga.”
“Cepat katakan, siapa orang yang menyuruhmu!!”
Arghhhh
“Bryan” ucapnya lirih sebelum kesadarannya hilang.
.
.
.
*TBC
Wah sadis amat tuh si Xander yak...
Happy Reading‼️
__ADS_1