Suami Kedua

Suami Kedua
Sah


__ADS_3

The Wedding


Hari bahagia Xander dan Silvia tiba. Pasangan mempelai pengantin itu kini sedang duduk bersanding untuk melaksanakan prosesi sakral pernikahan.


Ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya. Meski Xander terkenal orang yang mempunyai sifat tegas, namun tidak dipungkiri kalau saat ini ia dilanda kegugupan saat akan mengucapkan janji suci pernikahannya. Begitu juga dengan Silvia. Perempuan itu memilih lebih menundukkan kepalanya demi menghalau rasa gugup yang tengah ia rasakan.


Beberapa saat proses sakral itu berlangsung dengan khidmat. Dengan satu tarikan nafas, Xander mampu mengucapkan janji suci pernikahannya dengan lancar yang disaksikan oleh beberapa tamu undangan yang hadir.


Sah


Satu kata yang serentak diucapkan oleh semua orang itu membuat hati Xander dan Silvia lega seketika. Setelah itu keduanya saling bertukar cincin. Silvia mencium punggung tangan suaminya penuh haru, lalu dibalas oleh Xander dengan kecupan panjang pada kening Silvia.


Setelah acara sakral itu, mempelai pengantin dipersilakan naik ke pelaminan untuk menyambut tamu yang akan memberikannya ucapan selamat.


Silvia menangis haru saat adik laki-lakinya memeluknya dengan erat sambil memberikan doa terbaik untuk kakaknya tersayang. Bahkan Silvia enggan melepas pelukannya terhadap Vano. Rasanya Silvia tidak ingin jauh dari adik-adiknya setelah menikah. Namun bagaimanapun juga, sebagai seorang istri, dia harus menurut dengan semua perintah sang suami.


“Sayang, sudah! Nanti dilanjutkan lagi peluk-pelukannya.” Bisik Xander pelan. Karena melihat beberapa tamu yang sedang mengantri berdiri.


Silvia pun akhirnya melepas pelukannya. Kemudian Vano beralih memeluk Xander dangan mengucapkan selamat atas pernikahannya.


“Kak, tolong jaga dan sayangi Kak Silvia. Aku percayakan Kak Silvia padaa Kak Xander sekarang.” ucapnya tulus.


Xander mengangguk sambil menepuk punggung Vano.


Tak lupa dua adik Silvia Deva dan Angel juga ikut naik ke pelaminan. Mereka berdua kali ini hanya memeluk kakaknya sebentar dan tidak terlalu banyak membuat drama, karena sebelumnya Silvia sudah memberikan ultimatum.

__ADS_1


Setelah adik-adik Silvia, barulah Sean dan Lidia yang memberikan selamat pada pengantin baru itu itu. Sean sudah seperti saudara kandung bagi Xander. Karena selama ini pria itu hanya hidup sebatang kara.


“Selamat buat kalian berdua! Semoga bahagia selalu.” Ucap Sean lalu menyalami Silvia kemudian memeluk Xander.


Sean menyalami Xander sambil memberikan sesuatu pada genggaman tangannya. Xander melotot tajam pada sang sahabat. Lalu tangannya mengepal kuat dan meninju pelan perut Sean hingga pria itu meringis.


“Aku nggak membutuhkannya!” bisiknya pelan dengan nada sinis, lalu mengembalikan barang itu lagi pada Sean.


Sean hanya terkekeh pelan tak mempedulikan wajah Xander yang sedang kesal padanya. Silvia dan Lidia juga heran apa yang baru saja dilakukan oleh kedua pria dewasa itu.


Silvia ingin sekali menanyakan langsung pada suaminya, namun masih banyak tamu yang memberikan ucapan selamat padanya.


Leon dan Marsha ternyata juga turut diundang pleh Xander. Pasangan yang belum jelas statusnya itu juga sangat bahagia melihat Xander yang akhirnya bisa menikahi wanita pujaan hatinya.


Bahkan Kenzo dan istrinya juga hadir. Mengingat Xander pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan Kenzo, selain itu Silvia dulu juga pernah menjadi karyawan Kenzo.


“Kenapa kamu tadi kesal dengan Tuan Sean?” tanya Silvia saat keduanya sedang duduk.


“Hei, Sean bukan lagi atasan kamu. Kenapa kamu masih memanggilnya Tuan? Panggil Sean saja.” Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Xander justru mengoreksi panggilan Silvia terhadap Sean. Bahkan nada suaranya terkesan kesal, mengingat keusilan yang dilakukan Sean tadi.


“Maaf. Tapi kenapa kamu jadinya kesal sama aku?” jawab Silvia lalu membuang muka. Mendadak moodnya jelek.


Xander mengusap wajahnya dengan kasar. Dia baru sadar kalau ucapannya barusan membuat hati istrinya sakit. Dan semua itu karena teringat ulah Sean.


“Maaf. Maafkan aku. aku nggak bermaksud seperti itu.” Ucapnya pelan dengan nada lembut, sambil memegang tangan Silvia.

__ADS_1


Karena tidak ingin terlihat oleh tamu undangan kalau dirinya sedang kesal pada sang suami, Silvia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja. Xander pun merasa lega.


“Sean tadi memberiku kon**m.” ucap Xander dengan suara menahan kesal.


Silvia mengerutkan kening heran. “Buat apa dia memberikan itu?” tanyanya dengan polos. Karena menurut Silvia aneh saja kenapa Sean memberikan alat kontrasepsi pada suaminya.


“Nah, kamu sudah tahu bukan. Lagian kita nanti melakukannya tanpa memerlukan alat itu. Justru akan semakin nikmat.” Jawabnya sambil tersenyum smirk.


Aaawww


Xander mengaduh kesakitan saat perutnya tiba-tiba dicubit oleh Silvia. Untung saja ucapan Xander tidak didengar oleh orang lain. Bagaimana kalau ada yang mendengarnya. Pasti Silvia sangat malu.


“Kenapa kamu malah mencubitku?” protesnya.


“Karena kamu sangat mesum!”


“Aku tidak mesum. Tapi itu kenyataan kalau kita nanti malam melakukannya tanpa alat itu dan tanpa hen-“


Belum sempat Xander menyelesaikan kalimatnya, Silvia sudah membungkam mulut suaminya dengan telapak tangannya, hingga membuat sebagian tamu menoleh ke arah mereka berdua.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2