
Dugaan Xander benar kalau dalang di balik semua kekacauan di perusahaan adalah Bryan. Pria itu memanggil anak buahnya untuk mengurus pria yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Entah pria itu masih hidup atau sedang sekarat, Xander tidak peduli. Namun akan lebih baik jika pria itu mati saja daripada kembali berulah dengan menghubungi Bryan.
Xander memasuki mobilnya dan meninggalkan bangunan tersebut. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman sinis. Setelah ini dia akan menyusun rencana untuk membalas perbuatan Bryan yang telah berani bermain-main dengannya.
“Kamu salah pilih lawan, Bryan! Ternyata ancamanku saat itu tak berarti apapun padamu. Tunggu saja balasan yang kamu terima sebentar lagi.” Gumamnya sambil menatap fokus jalanan.
Sesampainya di kantor, Xander kembali melanjutkan pekerjaannya. Mungkin nanti malam dia akan membahas Bryan dengan Sean. Karena saat ini bukan yang tepat. Sean juga pasti sedang sibuk disana.
Tok tok tok
Tak lama setelah Xander duduk, pintunya ada yang mengetuk. Ternyata yang datang adalah Silvia. Xander tertegun melihat wajah cantik Silvia dari jarak dekat seperti ini. karena semenjak kejadian saat itu, Xander sudah tidak pernah lagi berdekatan dengan Silvia.
Setelah itu wajah Xander berubah kesal saat melihat pakaian yang dikenakan Silvia masih memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang seksii. Harusnya kalau dia benar-benar cinta, Xander bisa mengubah penampilan Silvia. Namun Silvia sendirilah yang menganggap ungkapan cinta Xander saat itu hanya bualan semata agar dirinya kembali ke kantor.
Sementara Silvia juga enggan menatap Xander. Bukan dia benci dengan pria yang hampir saja melecehkannya. Karena memang kejadian itu bukan salah Xander sepenuhnya. Dia juga bersalah karena telah memancing amarah Xander.
“Tuan, ini data-data yang sudah saya perbaiki!” ucap Silvia sambil menyodorkan map berwarna merah.
“Duduklah! Aku akan memeriksanya sebentar.”
Silvia duduk, lalu Xander mulai memeriksa data-data tersebut dan mecocokkan dengan data yang asli yang tersimpan di laptopnya. Xander benar-benar puas dengan kinerja Silvia. Ternyata benar yang diucapkan Sean saat itu, bahwa Silvia sejak dulu sudah menjadi sekretaris kepercayaan Tuan Billal.
Selesai memeriksa data dari Silvia, Xander tak langsung menanggapi cara kerja Silvia. Dia masih pura-pura fokus dengan mengerutkan kening seperti menemukan kesalahan dari data tersebut. Dan hal itu berhasil menarik simpati Silvia untuk bertanya.
“Maaf, Tuan. Apakah masih ada kesalahan? Kalau ada, biarkan saya koreksi lagi.” Tanya Silvia.
“Sudah benar. Hanya saja ini aku sedikit bingung dengan tanggal yang ada pada data kamu berbeda dengan yang ada di file aslinya. Tapi jumlah nominalnya sama.” Jawab Xander.
Pria itu mengulum senyum saat merasa pancingannya berhasil. Kini Silvia berdiri dan berjalan menuju meja Xander, mendekatinya sambil melihat data yang ada di laptop milik Xander.
Grep
__ADS_1
Silvia benar-benar merutuki kebodohannya yang mudah terpancing ucapan Xander. Harusnya dia tinggal memutar laptop milik Xander hingga menghadap ke arah posisinya duduk. Bukan malah mendekati pria itu.
Silvia masih diam dalam pelukan Xander. Bahkan posisinya saat ini sedang duduk dalam pangkuan pria itu. Sedangkan Xander masih menikmati aroma wangi pada tubuh wanita yang entah sejak kapan membuatnya jatuh hati.
“Silvia. Apakah kamu meragukan persaanku?” tanyanya dengan suara lembut.
Silvia masih diam. Dia tidak ingin terpancing lagi dengan Xander yang ujung-ujungnya akan mendapatkan hinaan seperti dulu. Walau dirinya sudah kebal dengan berbagai macam hinaan. Namun jika yang menghina Xander, rasanya Silvia sangat sakit hati mendengarnya.
“Silvia, aku benar-benar mencintaimu.” Xander kembali berucap sambil meraih kepala wanita itu agar bisa menatap wajahnya.
“Maafkan perbuatanku yang selalu merendahkan harga dirimu. Aku sangat marah saat ada pria yang terang-terangan ingin membayarmu hanya untuk menikmati tubuhmu.”
“Saya sudah terbiasa, Tuan.” Jawab Silvia datar.
“Tapi aku yang nggak rela dan nggak terima, Silvia. Aku nggak mau semua orang menghinamu karena penampilanmu. Aku mencintaimu, Silvia. Maukah kamu mengubah penampilanmu untukku?”
Deg
Ucapan Xander yang lembut dengan sorot mata yang menatap mata Silvia begitu dalam membuat wanita itu berusaha keras mencari kebohongan atas ucapan Xander. Ternyata tidak ada. Antara percaya dan tidak, Silvia tidak menyangka jika Xander lah pria yang mampu mengatakan agar mengubah penampilannya. Apakah Xander adalah cinta sejatinya.
Xander menempelkan bibirnya pada bibir Silvia. Dia menyangka kalau Silvia akan mendorong tubuhnya dan menolaknya. Ternyata salah. Reaksi Silvia justru dia menutup matanya menyambut ciuman Xander.
Xander mulai menggerakkan bibirnya untuk menyapu lembut bibir manis Silvia. Bahkan lidahnya kini sudah menerobos masuk ke dalam mulut Silvia untuk mereguk kenikmatan yang ada di dalamnya. Silvia hanya diam namun mempersilakan Xander berbuat sesuka hatinya. Jujur saja Silvia akui kalau ciuman lembut yang Xander berikan itu telah sukses membuatnya terbuai.
Kring…kring…kring…
Pagutann mereka terlepas setelah terdengar suara deringan telepon yang ada di meja kerja Xander. Silvia segera berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Xander. Sedangkan Xander tidak dapat mencegah Silvia karena telepon itu terus berdering.
“Ya halo?” sapanya pada seseorang yang menghubunginya.
“Kamu kemana saja? Ponsel kamu sejak tadi tidak bisa dihubungi.” Teriak seseorang yang tak lain si pemilik perusahaan.
__ADS_1
Xander menjauhkan telepon kabel itu lalu memerika ponselnya yang ternyata kehabisan daya. Pantas saja Sean marah-marah. Karena tidak biasanya pria itu menghubunginya ke no kantor.
“Sorry ponselku kehabisan daya.” Jawabnya.
Mereka berdua pun melanjutkan pembicaraannya mengenai perusahaan. Xander juga mengatakan telah menemukan dalang di balik kekacauan di perusahaan. Sean juga sudah menduga kalau semua itu adalah perbuatan Bryan. Mereka berdua sepakat akan membahas balasan apa yang cocok untuk memberi peringatan pada Bryan agar tak berulah lagi.
“Kalau urusan kantor sudah selesai, aku minta kamu datanglah ke ke kota J.”
“Baiklah. Nanti akan aku kabari secepatnya.” Ucap Xander sebelum mengakhiri panggilannya.
Xander melihat jam tangannya. sebentar lagi jam pulang kantor. dia segera memberekan berkas-berkasnya terlebih dulu seblum pulang. sesaat dia teringat dengan kegiatannya dengan Silvia tadi. pria itu memegangi bibirnya yang masih menyisakan rasa manis bekas bibir Silvia.
Xander bergegas keluar dari ruangannya menuju ruangan Silvia. Untung saja wanita itu belum pulang. jadi masih ada kesempatan untuk melanjutkan obrolannya tadi.
“Silvia, ayo aku antar kamu pulang.”
“Maaf Tuan, adik saya sebentar lagi menjemput.” Tolaknya secara halus.
Xander meraih ponsel Silvia dengan cepat dan menghubungi no Vano agar tidak menjemput kakaknya. Dan dia yang akan mengantarnya pulang. Silvia terkejut dengan tindakan Xander yang menurutnya sangat lancang. Namun sebelum dia protes, Xander sudah membungkam mulutnya dengan ciuman lembut.
“Ayo, aku nggak mau bertindak kelewatan lagi. Aku sangat lapar, temani aku makan dulu sebelum aku antar kamu pulang.” ucap Xander sambil menarik tangan Silvia.
.
.
.
*TBC
Cie cie ehmm ehmm....😂😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️