Suami Kedua

Suami Kedua
Kedatangan Leon dan Marsha


__ADS_3

Sudah satu bulan Lidia dirawat di rumah sakit. Dan sampai sekarang pun wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda sadar dari komanya. Walau setiap hari orang terdekatnya datang silih berganti mengajaknya berkomunikasi.


Dan tepat hari ini, Kavindra sudah diperbolehkan pulang setelah berat badannya sudah normal. Silvia dan Xander bertekat membawa Kavindra pulang dan merawatnya. Untuk Lidia, mereka membiarkannya agar tetap mendapatkan perawatan di rumah sakit. Xander juga akan datang berkunjung setiap hari.


Chandra dan Viana sangat senang saat melihat kepulangan adiknya. Walau dalam hati Chandra sangat merindukan sang Mama.


Silvia pun dengan senang hati dan penuh kasih sayang merawat Kavi, anak ketiga Lidia. Beruntungnya bayi itu sangat pintar dan tidak rewel seperti bayi pada umumnya. Dan terpaksa Kavi harus diberi susu formula, karena Lidia tidak bisa memberikannya asi.


Waktu bergulir begitu cepat. Sudah tiga bulan Lidia masih enggan membuka matanya. Xander sangat yakin bahwa wanita itu sedang menunggu kedatangan sang suami untuk membangunkan tidur panjangnya. Dan tepat hari ini Leon dan Marsha akan datang kesini untuk membahas perkembangan kasus yang sedang dialami oleh Sean. Janji Marsha pada Xander yang dulu akan datang menemuinya secepatnya terpaksa ia tunda karena ada beberapa kendala yang Marsha alami dalam merakit remote pengendali bom tanam itu.


Leon dan Marsha berjalan tergesa-gesa setelah turun dari pesawat. Tujuan mereka saat ini bukanlah rumah yang ditempati Xander, melainkan rumah sakit. Mereka berdua sungguh terkejut dengan kabar buruk yang menimpa Lidia. Hingga memutuskan untuk singgah dulu ke rumah sakit.


Leon menatap nanar pada Lidia yang sedang terbaring dan terlelap damai di atas brankar rumah sakit. Sedangkan Marsha terisak lirih dan merasa tak sanggup lagi untuk bertahan lama disana.


“Kakak ipar, aku berjanji akan menjemput suami. setelah itu akan aku ajak dia kesini untuk menemuimu dan membangunkanmu.” Ucap Leon lalu keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, Leon da Marsha meninggalkan rumah sakit dan menuju rumah yang ditempati Xander. Lagi-lagi Leon dan Marsha dibuat sedih saat melihat bayi Lidia yang begitu menggemaskan namun tidak ada sang Mama disampingnya.


“Kalian istirahatlah dulu, pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh.” Ucap Xander.


Silvia pun mengantar Marsha untuk beristirahat di kamarnya, sedangkan Leon beristirahat di kamar Xander.

__ADS_1


Malam harinya setelah makan malam, Xander meminta Silvia agar menemani Kavi di kamar. begitu juga dengan Viana, yang ditemani oleh Bibi Anne. Sedangkan Chandra masuk sendiri ke kamarnya tanpa ada yang menemani.


Kini di ruang tamu itu sudah ada Xander, Leon, Marsha, dan juga Fredy. Marsha yang mengawali pembicaraan itu tentang kendala yang ia alami saat membuat remote pengendali. Bahkan orang suruhannya sudah berulang kali melakukan penelitian dan observasi lebih lanjut untuk menyambungkan beberapa elemen agar mampu berkoordinasi dengan sempurna. Namun, lagi-lagi menunjukkan kesalahan system.


“Lalu, apa yang kamu butuhkan?” tanya Xander.


Marsha menghembuskan nafasnya pelan, lalu melirik Fredy yang sejak tadi diam seolah tidak mengerti dengan pembahasan yang dibicarakan. Padahal pria itu sungguh tahu banyak tentang kendala yang dialami Marsha.


Xander mengikuti arah pandang Marsha pada Fredy. Dia semakin tak mengerti, apa hubungannya dengan Fredy. Karena jujur saja Xander sama sekali tidak paham dengan hal tersebut.


“Maaf, aku ijin masuk ke dalam dulu!” pamit Fredy tiba-tiba.


Mengerti ada sesuatu yang berhubungan dengan Fredy, Xander dengan kasar menghadang pria itu.


“Kamu mau kemana? Jangan coba-coba menghindar!” ancamnya penuh intimidasi.


“Xander, please jangan membuat keadaan semakin kacau. Aku hanya butuh bicara baik-baik dengan Fredy. Kamu tidak tahu apa-apa.” Cegah Marsha.


Perlahan Xander mundur. Kemudian Marsha mengajak Fredy duduk kembali. Leon yang tidak mengerti hanya bisa menyimak.


“Fred, aku yakin kamu bisa melakukannya.” Mohon Marsha.

__ADS_1


“Maaf, Sha. Aku tidak ingin jadi pembunuh untuk kedua kalinya.” Tolak Fredy dengan wajah dinginnya.


Xander dan Leon sangat terkejut mendengar pengakuan Fredy yang menjadi seorang pembunuh. Apa maksud semua itu? Ternyata sikap diamnya Fredy selama ini sangat berbahaya.


“Marsha, coba kamu jelaskan! Apa maksud ucapan Fredy tadi?” tanya Xander.


Fredy memilih membuang muka dan tidak ingin ikut menimpali pertanyaan Xander. Kemudian Marsha menjelaskan bahwa beberapa tahun yang lalu Fredy pernah mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami oleh Sean. Saat itu Papanya yang disekap oleh lawan bisnisnya dan ditanamkan bom ke dalam tubuhnya. Hingga Fredy berusaha sekuat tenaga menyelamatkan sang Papa, orang tua satu-satunya.


Fredy membuat remote pengendali sendiri seperti yang dilakukan oleh Marsha saat ini. bahkan dia sudah bekerja cukup teliti dan perhitungannya sudah tepat. Namun pada saat dia menyelamatkan sang Papa menggunakan remote itu, yang fungsinya untuk menonaktifkan bom yang tertanam dalam tubuh Papanya, dan ternyata bom itu justru meledak dan menghancurkan tubuh Papanya hingga berkeping-keping.


“Aku yakin kalau saat itu kamu sedang emosi, hingga kamu tidak menyadari ada sedikit kesalahan, Fred. Please, kumohon!” ucap Marsha.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2