Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 59. Pernikahan Leon dan Karen.


__ADS_3

Adam menoleh ke arah istrinya dan mengernyit.


"Aku bukan lagi menantu kesayangan mommy. Sekarang, Karen mengambil semua perhatian dari mommy," adu Angelina ketika mereka berdua berada di dalam kamar. Wanita ini baru saja menyusui balita tampannya.


"An, itu hanya perasaanmu saja. Mommy hanya mengajar Karen memasak. Kau ikutlah bergabung dengan mereka," saran Adam mendinginkan hari Angelina.


"Jadi, menurutmu begitu ya. Baiklah, Ad," sahut Angelina menurut.


Adam tersenyum seraya mengacak gemas rambut coklat bergelombang Angelina. Lalu ia memajukan wajahnya. Hampir saja bibir keduanya bertemu. Tiba-tiba ...


"Mama ... Papa ...," oceh Argon yang belum juga mau memejamkan matanya. Justru balita itu tersenyum seakan mengajak kedua orangtuanya bercanda. Adam dan Angelina tertawa karena mereka sempat melupakan keberadaan balita tampan itu.


"Kau semakin pintar. Bisa panggil kami dengan benar. Sini cium ketek dulu." Adam pun mengangkat satu lengan putranya itu dan menciumi ketiak Argon hingga balita itu terkekeh geli. Adam sangat menyukai hal itu.


"Mama ikutan dong. Mau cium juga," timpal Angelina.


"Mama di cium sama Papa aja deh sini!" Giliran Angelina yang direbahkan di kasur oleh Adam dan dihujani dengan ciuman bertubi-tubi olehnya.


Melihat kedua orangtuanya asik tertawa, Argon merangkak menghampiri. Jadilah, ketiganya bercanda hingga seprai berantakan.


Sungguh penampakan dari kebahagiaan keluarga kecil yang penuh kehangatan.


Hal yang menjadi dambaan bagi semua orang.


Pintu kamar yang sedikit terbuka, membuat Damian dapat melihat kebersamaan itu.


Seketika, kristal bening membendung di ujung matanya. Damian segera menghempaskan dengan ujung ibu jarinya.


"Kalian berhak bahagia." Batin Damian. Pria dengan rambut yang sudah putih di bagian pinggirnya itu, melenggang pergi. Tadinya ia ingin bicara dengan Adam pasal renovasi makam. Meskipun, ada kecurigaan jika yang di dalam sana bukanlah putranya.


Damian telah putus asa, tak mau lagi membuang tenaga dan waktu demi mencari keberadaan putranya itu. Karena hanya akan membuat seluruh anggota keluarganya kerepotan dengan keadaan fisiknya yang tiba-tiba drop seperti beberapa waktu lalu.


"Daddy, sudah mengikhlaskan kepergianmu. Jika kau masih hidup, semoga kau selamat dan bahagia dimanapun dan bersama siapapun. Jika kau sudah tiada, semoga semesta menerimamu." Damian berkata di depan foto mendiang Alan yang hanya tersimpan di dalam laci meja kerjanya.


Bahkan, demi menjaga kestabilan mental Angelina ia menyimpan semua foto dan apapun mengenai putranya itu.


Damian memejamkan matanya. Di balik diam dan sikap seakan tak peduli. Nyatanya pria itu menyimpan setumpuk rasa bersalah dan juga kerinduan di dalam hatinya.


Tok tok tok.

__ADS_1


Pintu di ketuk.


Pasti hanya Katie yang berani mengganggunya.


Pria itu memasukkan kembali foto di tangannya dan merubah ekspresinya seketika.


"Masuklah, dewiku!"


"Dami. Sudah kukatakan jangan bekerja terlalu keras. Ingat kau sudah tua." Katie meletakkan cangkir susu ke atas meja.


"Kau pikir aku bayi, harus minum susu setiap hari pagi dan sore," dengus Damian sesaat memandang benda yang baru saja Katie lepas dari tangannya.


"Bayi itu menyusu setiap saat. Bukan dua kali sehari. Minumlah, agar usiamu panjang dan bisa menyaksikan cucu kita tumbuh besar," titah Katie. Sekeras apapun sifat bawaan Damian. Pria itu takkan bisa menentang perintah dari kanjeng ratu.


"Good Hubby!" puji Katie lalu mencium pipi Damian. Ketika pria itu telah menghabiskan susunya dengan cepat. Bahkan Katie menarik wajah Damian mendekat untuk membersihkan sisa susu di ujung bibir suaminya itu.


Katie tersenyum, melihat wajah cemberut Damian. Ketika ia hendak menjauh, justru Damian menarik pinggang dan menahan ceruk lehernya.


Pria paruh baya yang masih nampak gagah ini, mencium dengan ganas bibir seksi istrinya itu. Pasangan yang tak lagi muda ini selalu saja bergairah jika sudah bertemu dan berduaan.


"Haih, kakek tua. Kita teruskan di kamar saja kalau sudah begini," goda Katie.


Kita beralih ke pergelaran sakral pernikahan kedua insan yang sama-sama tidak memiliki keluarga.


Tetapi, kawan sejawat dari Karen yang cukup banyak membuat suasana pesta itu sangat ramai. Katie baru tau jika Leon sebatang kara.


"Kenapa tidak katakan pada kami. Setidaknya, kami bisa menjadi keluarga pendampingmu." Katie berkata ketika ia bersalaman dengan pengantin pria yang sangat menawan ini.


Leon semakin tampan dengan balutan pakaian pengantin berwarna putih gading.


"Setelah ini, kau bisa bekerja di perusahaanku." Damian pun menawarkan pekerjaan pada Leon. Setidaknya, pria itu kini memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan di hadapan Karen. Meksipun, wanita itu sama sekali tak menuntut apapun darinya.


"Terimakasih, Tuan. Sebenarnya saya tidak-"


"Bekerja saja, jangan pikirkan apapun," bisik Damian. Pria itu tau, dari Karen jika Leon sebatang kara dan tidak memiliki apapun kecuali nyawanya. Karena sebuah tragedi yang menghancurkan segala miliknya. Termasuk identitas.


Karen bercerita bahwa pertemuannya dengan Leon terjadi di sebuah pedalaman desa ketika, ia tengah berlibur bersama kawannya. Wanita itu mengarang cerita untuk kenyamanan Leon.


Karen mengenakan gaun pengantin yang tak begitu mewah tapi sangat elegan dan pas di tubuh rampingnya.

__ADS_1


Adam dan Angelina naik ke atas panggung dengan Argon yang setia berada di gendongan sang papa.


Mereka bertiga mengenakan busana couple yang sangat manis. Hingga kesan family goals itu memancar dari ketiganya. Warna abu-abu kelam yang di padu dengan sedikit warna pink sungguh menambah kesan sweet end smooth.


"Hadiahku untuk kalian. Terimalah, dan selamat berbahagia!" ucap Adam seraya memberi sebuah amplop berisi tiket perjalanan bulan madu ke salah satu negara Eropa kedalam genggaman Leon.


Seraya tersenyum senang, sang pengantin pun memberi rangkulan pada Adam . Seketika, keduanya terkesiap. Ketika perasaan hangat dan familiar itu terasa nyata. Mereka seperti pernah berpelukan sebelumnya.


Adam berusaha melupakan perasaan anehnya itu. Mungkin, ini semua karena mereka memiliki perasaan peduli satu sama lain. Leon peduli dengan putranya dan hal itu menjadikan Adam peduli juga dengan Leon.


Angelina memeluk Karen. Tadinya wanita ini sempat cemburu terhadap pengantin wanita ini lantaran selama beberapa hari kebelakang Katie sempat sibuk dengannya. Tetapi, kini Angelina mengerti jika Karen hanya ingin merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Kau boleh menganggap mommy sebagai ibumu. Aku tidak akan cemburu lagi," bisik Angelina jujur. Hal itu membuat, Karen tertawa dan memeluk Angelina semakin erat.


"Terimakasih, Kak. Bolehkan, aku memanggilmu begitu?" tanya Karen menatap dalam mata wanita cantik nan anggun si hadapannya ini.


"Boleh saja, tapi usiamu nampak lebih tua di banding aku," jawab Angelina jujur. Ya dia memang tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya ataupun menyaring ucapannya semenjak mengalami gangguan mental.


Angelina menjadi pribadi yang to the point alias frontal ketika berbicara maupun mengungkap perasaannya.


"Tidak, juga. Aku masih pantas menjadi adikmu, Kak," elak Karen, yang memang memiliki usia lebih tua dari Angelina tiga tahun.


"Baiklah terserah kau saja. Aku akan melindungimu sebagai seorang kakak mulai sekarang. Katakan dan ceritakan apapun padaku, mulai sekarang," ucap Angelina. Mereka berdua pun berpelukan. Angelina merasa ia pernah memiliki tautan dan perasaan seperti ini sebelumnya.


"Jadi kau akan bekerja, pada perusahaan besar tuan Damian?" tanya Karen ketika mereka telah berada di dalam kamar hotel.


"Hemm." Leon hanya menjawab singkat. Karena pria itu tengah menikmati wajah cantik Karen yang kini berada di depannya.


"Jika hal itu membuatmu nyaman dan senang ... aku akan mendukungmu. Apapun nanti pekerjaannya," ucap Karen lagi. Wanita itu semakin mendekat pada Leon. Membuat Leon menahan napasnya seketika.


"Tolong buka resleting pada gaunku ya." Karen pun berbalik hingga menampilkan punggung polosnya. Karena cardigan pada gaunnya telah ia lepas.


Glek!


Sambil menahan napas. Leon menurunkan resleting hingga ke ujung punggung mulus bagian bawah.


"Oh, sial! Belum apa-apa dia sudah berdiri."


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2