
“Tapi itu sangat penting bagiku, Feb. karena aku menyukaimu.”
Feby tergelak mendengar ucapan Chandra baru saja. Menurutnya, Chandra adalah sosok laki-laki yang pemberani dan penuh percaya diri.
“Kenapa kamu tertawa? Kamu tidak percaya denganku?” tanya Chandra sedikit kesal.
“Sorry, Chan. Bukan aku tidak percaya. Ya terserah kamu saja kalau kamu menyukaiku, itu hak kamu. Hanya suka kan? Nggak ada kewajiban untuk membalas atau menolak. Lebih baik kamu fokus belajar aja deh, Chan. Kamu juga akan kuliah kan? Nanti pasti kamu akan menemukan macam-macam cewek yang akan membuatmu menyukainya.”
Chandra terdiam. Rasanya memang tidak pas momennya untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi mendengar jawaban Feby, sepertinya perempuan itu tidak menganggapnya serius.
“Tapi aku benar-benar menyukaimu, Feb. bukankah sudah cukup buktinya saat kita cium-“
“Please, Chan! Jangan ungkit lagi kejadian itu. Aku sudah melupakannya. Aku anggap kejadian itu hanya kesalahan kita.” Jawab Feby lalu dia segera berdiri meninggalkan Chandra seorang diri.
Tak lama kemudian Chandra juga masuk untuk segera bergabung makan malam bersama. Terlihat Feby menghindari tatapannya dan sibuk mengambil makanan. Sedangkan Chandra berusaha bersikap biasa saja dan memilih duduk tepat di antara Viana dan Kavi.
Lidia melihat sikap Chandra cenderung diam dan tampak berbeda dari sebelumnya. Lalu beralih melihat Feby yang sedang menundukkan kepala sambil menikmati makanannya.
Usai makan malam, keluarga Kenzo berpamitan pulang. Kenzo dan Sean berharap hubungan pertemanannya akan awet sampai tua nanti. Begitu juga dengan anak-anak mereka.
***
Semenjak kejadian malam itu, Chandra dan Feby sudah tidak lagi saling berkomunikasi. Mungkin mereka akan bertegur sapa saja jika kebetulan bertemu di luar. Selebihnya tidak akan ada lagi komunikasi yang terjalin.
Chandra berpikir mungkin ada benarnya ucapan Feby saat itu. Dirinya harus fokus dengan pendidikan. Masalah jodoh memang tidak ada yang tahu. Lagi pula saat itu Chandra mengungkapkan perasaannya bukan berarti dia ingin menjadi suami Feby dan akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Chandra juga masih ingin melanjutkan pendidikannya. Jadi tidak ada salahnya kan jika dia hanya ingin mengungkapkan perasaan pada seseorang yang ia kagumi. Mungkin Feby salah mengartikannya.
__ADS_1
Hari ini Chandra bersiap akan terbang ke kota B. dia ingin berkunjung ke rumah sepupunya, karena sudah lama sangat merindukan Gita dan juga Daniel.
Chandra berencana akan menghabiskan waktunya di sana selama seminggu. Setelah itu dia akan mencoba fokus untuk membantu pekerjaan ayahnya di kantor. sebelum disibukkan dengan kegiatan perkuliahannya juga nantinya.
“Hati-hati, Mama titip salam saja sama Onty Jenny dan keluarga.” Ucap Lidia sebelum Chandra pergi ke bandara.
“Baiklah, Ma. Chan pergi dulu!” ucap Chandra lalu memeluk Mamanya.
Setelah itu Chandra berangkat ke bandara diantar oleh Ayahnya.
***
Di rumah Kenzo. saat ini Kenzo, Pelangi dan kedua anaknya sedang bercengkrama di ruang keluarga usai makan malam. namun Fico hanya bergabung sebentar setelah itu berpamitan karena alasan tugas sekolah. Padahal dia hanya ingin berbalas pesan dengan Viana.
“Feb, kamu masih ingat yang pernah Papa katakan dulu?” tanya Kenzo mengawali obrolan.
“Yang mana, Pa?”
“Tentang perjodohan kamu dan Reza, putra tunggal Tuan Ibra, rekan kerja Papa.”
Feby tersentak. Ternyata ucapan Papanya saat itu serius.
“Papa tahu kan kalau Feby baru saja menikmati rasanya dunia kerja. Feby masih belum ingin membahas pernikahan, Pa.”
“Sayang, kalau pun kamu masih ingin bekerja sepertinya Reza akan tetap mengijinkan. Papa kamu juga sudah sepakat menjodohkan kalian.” kali ini Pelangi yang berbicara.
__ADS_1
Feby sungguh sulit menghadapi situasi seperti ini. mau menolak juga pasti akan membuat Papanya marah. Tapi saat ini Feby benar-benar belum ingin menjalani hidup berumah tangga. Apalagi dengan laki-laki yang tidak ia kenal dan hanya satu kali saja bertemu.
“Bagaimana, Sayang? Minggu depan Tuan Ibra akan datang karena kebetulan Reza baru pulang dari luar negeri. Mama hanya ingin kalian saling kenal dekat dulu.”
Entah kenapa kini justru yang ada dalam benak Feby adalah Chandra. Laki-laki yang pernah mengungkapkan perasaannya, namun ia abaikan begitu saja. Bahkan semenjak saat itu Feby tak lagi mendengar kabar tentang Chandra.
Kalau benar yang dikatakan oleh Mamanya bahwa Reza nanti akan mengijinkannya bekerja pasca menikah, apakah ia terima saja perjodohan itu. Lalu bagaimana dengan Chandra.
“Ehm, apakah Reza setuju dengan perjodohan itu, Pa?” tanya Feby.
“Kamu jangan khawatir, Tuan Ibra sudah meyakinkan Papa kalau Reza setuju dengan rencana perjodohan itu. Makanya beliau akan datang kesini minggu depan.” Jawab Kenzo.
Feby benar-benar bimbang. Memang sudah tidak jaman dengan yang namanya perjodohan. Tapi kalau pilihan orang tuanya adalah yang terbaik, apa bisa Feby menolaknya. Lagi pula selama ini Feby juga tidak pernah dekat dengan laki-laki lain.
“Terserah Papa dan Mama saja.” Jawab Feby pasrah.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1