
Sean saat ini sedang melihat Chandra yang sedang berlatih bela diri bersama Fredy. Pria itu sangat bangga melihat usaha dan semangat belajar Chandra. Setelah masalah yang ia alami, Sean bertekat akan menjadikan Chandra sosok yang sangat tangguh jika suatu saat nanti menghadapi masalah yang lebih berat dari yang pernah ia hadapi. Tidak hanya pandai di otaknya namun juga ototnya. Sean yakin, Chandra sangat mudah dibentuk menjadi sosok yang kuat terutama pelindung bagi adik-adiknya nanti.
Setelah cukup memantau kegiatan Chandra, Sean keluar dari ruangan itu untuk menemui sang istri yang kini sedang duduk sambil menimang Kavi. Sedangkan Viana sedang asyik bermain boneka di lantai yang tak jauh dari posisi duduk Lidia.
“Sayang, kalau Kavi tidur kenapa nggak kamu tidurkan di kamar saja?”
“Aku sengaja melakukan seperti ini. aku ingin menebus waktuku yang selama ini terlewatkan karena tidak bisa menemani Kavi.” Jawab Lidia dengan tatapan sendu.
“Sayang, sudahlah! Kamu jangan merasa bersalah seperti ini. semua masalah ini juga terjadi karena ketidak sengajaan. Kamu juga sakit, dan sakitnya karena aku. aku berharap dengan masalah yang telah menimpa keluarga kita ini, dapat menjadikan rumah tangga kita semakin kuat dan saling melindungi.”
“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Jawab Lidia lalu bersandar pada bahu Sean.
Tak lama kemudian Viana berlari sambil membawa bonekanya. Dia segera naik ke pangkuan ayahnya karena melihat kemesaraan ayah dan mamanya yang sambil menggendong Kavi. Jadi seolah Viana merasa diacuhkan. Sean pun memeluk Viana dan menciumi bocah kecil itu dengan gemas.
Mereka berempat asyik menikmati waktunya hingga tidak sadar kalau Chandra baru saja selesai belajar. Anak sulung Lidia itu tersenyum melihat kebersamaan kedua orang tua dan adik-adiknya. Lalu dia ikut bergabung. Namun Chandra memilih duduk sendiri.
“Sini, Sayang. Gabung sama adik-adik.” Panggil Lidia.
Chandra menggeleng lalu tersenyum simpul. “Mama lupa kalau Chan sudah besar?” tanyanya.
Sean dan Lidia saling melirik dan menahan senyum. Anak sulungnya ini benar-benar sangat dewasa. Bahkan bisa dikatakan bijaksana. Lidia teringat saat Sean belum kembali, Chandra lah yang menjadi sosok penyemangat mamanya. Dia juga yang sering menenangkan mamanya saat sedang bersedih.
“Sayang, apa keadaan kamu sudah baik-baik saja?”
__ADS_1
“Kamu bisa lihat sendiri? Aku sangat baik.”
“Baiklah. Bagaimana kalau weekend lusa kita jalan-jalan bersama?”
“Horeeee!!!!! Yeay kita jalan-jalan!” teriak Chandra dengan antusias. Begitu juga dengan Viana. Meskipun dia tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tuanya, namun melihat kakaknya bersorak seperti itu, membuat dia juga ikut lompat-lompat sambil teriak.
***
Selama melakukan perjalanan udara kurang lebih enambelas jam, akhirnya pasangan kekasih Xander dan Silvia tiba di tanah air. Lebih tepatnya di kota tempat tinggal Silvia.
Kini mereka sedang berjalan menuju taksi yang akan mengantarnya pulang. Xander menarik koper sambil menggandeng tangan Silvia. Pria itu menawarkan pada Silvia untuk beristirahat sejenak sebelum pulang, namun Silvia menolaknya.
“Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik-adikku.” Jawab Silvia.
Mereka kini sudah berada di dalam taksi. Xander akan ikut pulang ke rumah Silvia terlebih dulu sebelum ia menuju apartemennya.
Mereka berdua tiba sore hari. Jadi Silvia sangat yakin kalau adik-adiknya sekarang sedang berada di rumah. bahkan mobil Vano juga terlihat ada di depan rumah. jadi bisa dipastikan kalau Vano juga sudah ada di rumah.
Silvia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik-adiknya. Dia sangat semangat mengetuk pintu rumahnya yang tampak tertutup itu.
Cklek
Pintu dibuka oleh sosok gadis mungil berusia sekitar sembilan tahun. Silvia segera memeluk adiknya yang paling paling bungsu sebelum Angel sempat berteriak.
__ADS_1
“Kak Silvia??” panggilnya setelah Silvia mengurai pelukannya.
Tak lama kemudian gadis kecil itu menangis dengan cukup keras, dan kembali memeluk sang kakak yang sudah lama ia rindukan. Xander yang melihatnya juga ikut terharu.
Mendengar suara Angel menangis sambil berteriak, membuat Deva yang usianya satu tahun di atas Angel keluar. Gadis itu juga sama terkejutnya saat melihat kakaknya sudah kembali. Lalu Vano juga ikut menyusul.
Mereka berempat berpelukan melepas rindu pada sosok Silvia yang selama ini sangat berarti dalam hati mereka. Bahkan mereka masih berada di depan pintu rumah dan mengacuhkan Xander yang sejak tadi berdiri di belakang mereka.
Vano yang lebih dulu melepas pelukannya dengan sang kakak sadar kalau ada orang lain selain dia dan adik-adiknya. Lalu Vano mengangguk ramah pada Xander dan mempersilakan Xander masuk.
“Maaf, Xander. Ayo masuk dulu!” ajak Silvia setelah mengurai pelukannya dengan Deva dan Angel.
“Bapak jahat!!! Bapak yang memisahkan kami dengan Kak Silvia!!!” teriak Angel sambil memukul-mukul badan Xander.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1