Suami Kedua

Suami Kedua
Tua


__ADS_3

“Ngel, kamu jangan beregerak terus dan jangan mencoba membuka mata kamu. Aku juga masih merem nih.”


Meski di luar sedang hujan deras, namun kedua manusia yang saling bercumbu itu masih mendengar jelas jika di dalam ruangan terdengar suara aanak kecil yang sangat tidak asing bagi Silvia. Lalu Silvia tersadar lebih dulu untuk membuka matanya, sedangkan Xander merasa sedikitp terusik akan tindakan Silvia yang hendak melepas pagutannya. Dan dengan cepat Xander menahan tengkuk Silvia.


Xander membuka matanya saat Silvia sudah melepas pagutannya. Lalu dia mengikuti arah pandang Silvia yang sedang terkejut. Disana ada dua anak kecil berseragam sekolah dasar dengan baju yang basah kuyup. Deva menutup matanya rapat sambil kedua tangannya menutup mata sang adik lalu berjalan pelan memasuki kamar. Silvia yakin kalau kedua adiknya itu melihat kegiatannya yang sedang asyik bercumbu dengan Xander.


Perlahan Silvia beranjak dari duduknya lalu mendekati Deva dan Angel. “Kenapa baju kalian bisa basah kuyup seperti ini?”


Kedua bocah itu sontak membuka matanya. bukannya menjawab, malah menatap Xander yang sedang duduk santai tanpa dosa. “Kakak kok mau sih dicium sama bos kakak yang tua itu?” celetuk Angel.


Xander membelalakkan matanya terkejut mendengar ucapan adik Silvia. Dulu dipanggil “Pak”, sekarang malah lebih parah lagi, dikatain Tua.


“Sudah kalian cepat masuk kamar setelah itu ganti baju. Kakak akan menyiapkan makan siang kalian.” ucap Silvia dan segera menggiring adik-adiknya masuk kamar.


Silvia yang masih terkejut akbiat kepergok adiknya, dia masih belum siap berdekatan lagi dengan Xander. Dia memilih masuk dapur untuk menyiapkan makan siang. Sedangkan Xander yang merasa diacuhkan pun mengikuti Silvia.


“Tuan!!” pekiknya saat Xander sudah berada di belakangnya sambil memeluk.


“Kenapa panggil Tuan lagi, hmmm?” tanyanya sambil mengencangkan pelukannya.


“Maaf. Xander kamu jangan seperti ini. nanti Deva dan Angel lihat.” Silvia berusaha melepaskan diri dari pelukan posesif Xander.


Xander akhirnya melepasnya lalu duduk di kursi meja makan. “Adik-adik kamu sungguh menyebalkan. Dulu manggil aku “Pak”, sekarang malah ngatain aku tua.” Gerutunya.

__ADS_1


“Namanya anak kecil. Mereka tidak bisa berbohong. Mereka bicara sesuai apa yang dilihat.” Jawab Silvia tanpa dosa.


“Jadi kamu juga mengatai aku seperti itu?”


“Bukan mengatai, tapi kenyataannya usia kamu dengan aku berbeda jauh. Jadi ya wajar saja jika Deva dan Angel bilang kamu tua, seperti bapak-bapak beranak tiga.” Jawab Silvia santai.


Ya memang benar usia Xander dan Silvia terpaut tujuh tahun. Usia Xander 35 tahun, sedangkan Silvia 28 tahun. Tapi menurut Xander dirinya sangat tidak pantas disebut tua. Apalagi anak kecil memanggilnya dengan sebutan “Pak”.


“Kamu itu bukannya membela, malah menjatuhkan. Sudahlah, aku juga mau makan. Ada nggak jatah buat aku?” ucapnya mengalihkan kekesalannya.


Silvia tidak menjawab. Dia segera mengambilkan makan untuk Xander. Dan tak lama kemudian kedua adiknya datang, lalu mereka makan siang bersama.


***


Hari berlalu. Sean mulai beraktivitas kembali di kantor. Ini adalah pertama kalinya Sean datang lagi ke kantor setelah beberapa waktu lalu bekerja dari rumah, lantaran demi menjaga keamanan istrinya. Lidia juga mengijinkan sang suami pergi ke kantor lagi.


Saat ini Sean tengah duduk di kursi kebesarannya. Meski perusahaan cabang sudah lepas dari tangannya, namun tak membuat Sean patah semangat. Dengan memimpin perusahaan pusat, Sean bertekat akan mendirikan cabang baru lagi dengan tangannya sendiri. Tak lupa juga karena semangat dan dukungan dari istri tercintanya.


Sean teringat ucapan Lidia di saat dirinya sedang terpuruk kemarin.


“Aku sangat mencintaimu, seluruh hidupku sudah aku gantungkan padamu, Suamiku. Berjanjilah untuk terus berada di sisiku, melindungiku dan anak-anak kita.”


Kalimat Lidia terus terngiang di benak Sean. Dan semakin membuat semangatnya berkobar demi membahagiakan istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah perusahaan cabang berada dalam kekuasaan David, Sean tak lagi mau mengetahui kabar apapun tentang itu. Biarlah pria itu tertawa bahagia atas kemenangannya. Karena memang sejak dulu David lebih mengincar perusahaan cabang. Dan mengenai Bryan, setelah mendapat kabar terakhir dari Xander, dia merasa lega karena selama ini pria itulah yang mengancam nyawanya dan anak istrinya.


Sean tidak bisa meremehkan Dvid begitu saja. Namun setidaknya keluarganya masih aman dan nyawanya tidak terancam. Seperti saat ini saja, di sela-sela pekerjaannya, Sean masih mencari keberadaan Jeff dan juga seseorang yang bernama Ricky.


Drt..drt..drt…


Getaran ponsel Sean di atas meja membuatnya harus berhenti sejenak dari pekerjaannya. Sean melihat id pemanggilnya ternyata dari Tuan Kenzo. dia teringat kalau Tuan Kenzo sedang menjalin kerjasama dengan perusahaannya.


“Selamat siang, Tuan Kenzo!”


“…..”


“Bisakah kita bahas kerjasama ini saat makan siang nanti?”


“…..”


“Oh baiklah, Tuan. Justru saya akan sangat senang. Saya akan menunggu kehadiran anda di rumah nanti malam.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2