Suami Kedua

Suami Kedua
Energi Positif


__ADS_3

“Oh, aku hanya ingin memberikan ini.” jawab Kenzo sambil menyodorkan sebuah undangan pada Sean.


Sean menerimanya tanpa melihat dulu isinya. “Apa tidak sebaiknya kita masuk dulu? Nggak enak, masa berdiri saja di sini.” ucap Sean.


“Maaf. Aku sangat buru-buru. Jangan lupa kalian datang ya, meskipun acaranya masih lama. Dua minggu lagi. baiklah. Aku pamit dulu.”


“Tunggu, Ken! Lalu bagaimana kasus penusukan itu?” Sean menahan langkah Kenzo.


“Semuanya sudah beres. Aku sudah menemukan siapa pelakunya. Maaf aku buru-buru sekali. Chan, cepat sembuh, ya? Lain kali Om akan datang kesini.” Pamitnya lalu pergi.


Setelah itu Lidia menggandeng Chandra memasuki rumah. Sean pun demikian. Dengan tangan yang masih memegang sebuah undangan pemberian Kenzo baru saja.


Keadaan rumah tampak sepi. Ketiga adik Chandra juga sedang berada di sekolah masing-masing. Chandra memilih istirahat sejenak di ruang tengah dengan ditemani oleh Lidia dan Sean.


Sean duduk lalu membaca isi undangan itu. Lidia dan Chandra juga ikut penasaran.


“Undangan apa sih itu? Memangnya Kenzo mengadakan acara apa di perusahaan?” tanya Lidia.


“Oh, ini bukan undangan acara perusahaan. Tapi undangan pertunangan Fe..by” jawab Sean dengan memelankan suaranya saat menyebut nama Feby.


Lidia juga terkejut namun berusaha bersikap biasa saja. Sedangkan Chandra, seketika hatinya mencelos. Sakit. Itu lah yang ia rasakan saat ini. ternyata benar dugaannya saat dulu dirinya mengungkapkan perasaannya pada Feby, perempuan itu mengabaikannya karena memang Feby menginginkan sebuah pernikahan. Pantas saja tidak mau dengan dirinya yang masih belum cukup umur dan belum memiliki segalanya. Berbeda dengan calon suami Feby yang menurutnya sudah sangat matang dan mapan dalam segala hal.


“Ma, Chandra mau istirahat ke kamar dulu.” Pamit Chandra kemudian.


“Biar Mama bantu. Kamu kan masih belum sembuh beneran.” Lidia ikut beranjak dan hendak membantu Chandra.

__ADS_1


“Nggak perlu, Ma. Biar Chandra juga latihan agar cepat sehat.” Tolak Chandra.


Lidia mengangguk samar dan membiarkan anaknya menaiki tangga menuju kamarnya.


Sean dan Lidia mengerti bagaimana suasana hati Chandra saat ini. namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Biarlah Chandra sakit hati sekarang. setidaknya rasa sakit itu akan menjadikannya sosok laki-laki yang lebih kuat. Lagi pula usia Feby juga sudah pantas untuk menikah. Kalau Chandra, lebih baik mementingkan pendidikannya saja.


“Sudah, jangan dipikirkan. Aku yakin Chandra mampu menghadapi ini semua.” Sean menenangkan hati istrinya yang tampak gundah.


“Tapi aku kasihan melihat Chandra yang baru saja sembuh harus mendapatkan kabar seperti ini. meskipun dia tidak pernah menceritakan tentang perasaannya, tapi aku tidak tega melihatnya terpuruk.” Jawab Lidia.


“Sayang, aku yakin rasa sakit hati Chandra perlahan akan menghilang seiring berjalannya waktu. Dia pasti bisa mengambil hikmahnya kalau Feby bukan jodohnya. Sekarang lebih baik kita masuk kamar saja.” Ajak Sean sambil mengerlingkan matanya nakal.


Lidia mendadak awas mendapati tatapan seperti itu dari suaminya. sudah bisa dipastikan kalau itu adalah sebuah kode rahasia yang hanya dirinya saja yang tahu. Lidia pun dnegan cepat berdiri dan menghindar dari suaminya. karena wanita itu merasa badannya lelah setelah berhari-hari di rumah sakit.


Lidia merasa tubuhnya melayang saat Sean tiba-tiba membopongnya dan membawanya masuk ke kamar.


“Sean, Please! Aku benar-benar lelah.” Ucap Lidia.


“Iya aku tahu itu. Kamu cukup diam saja dan menikmati pelayananku yang akan membuatmu melayang ke angkasa.” Jawab Sean yang kini sudah masuk ke dalam kamar.


Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu masih saja menunjukkan kemesraan mereka. Dan untuk hal-hal intim seperti itu tenaga Sean sampai saat ini masih sangat kuat seperti dulu. Tak jarang Lidia juga sering terbuai dengan perlakuan lembut suaminya.


Akhirnya siang itu mereka berdua menghilangkan rasa lelah di tubuh masing-masing dengan cara melakukan kegiatan intim. Memang selama seminggu semenjak menjaga Chandra di rumah sakit, Sean absen dari kegiatan rutinan itu. Meskipun bada lelah, namun dengan melakukan kegiatan itu rasanya mendapat energi positif.


Lidia yang awalnya tidak berminat karena badannya benar-benar lelah, nyatanya itu hanya terucap dari bibir saja. Wanita itu juga sangat menikmati pergumulannya dengan sang suami yang menurutnya semakin menggairahkan.

__ADS_1


Tubuh mereka sudah dipenuhi peluh keringat namun Sean masih tetap bersemangat mencapai puncaknya untuk yang ke sekian kalinya.


Lenguhan panjang akhirnya lolos dari bibir masing-masing saat mereka mengalami pelepasannya yang terakhir.


Cup


“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Sean dengn tulus.


“Aku lebih mencintaimu.” Jawab Lidia dengan memaksakan senyum di tengah-tengah deru nafasnya yang masih tersengal.


“Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkan air hangat dulu setelah itu kita mandi bersama dan beristirahat.”


“Hmmm”


.


.


.


*TBC


Penyegaran dikit yee yg kangen Sean ama Lidia anu..😂😂✌️


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2