
Keadaan Lidia masih sama. Keseharian wanita itu hanya berbaring di atas brankar rumah sakit. Seringkali orang terdekatnya menjenguk dan mengajaknya berkomunikasi, bahkan membawa Kavi pun tak membuat Lidia menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari komanya. Beberapa tim dokter pun tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya membiarkannya namun masih dalam pantauan. Beberapa dari mereka merasa kalau Lidia seperti memiliki ikatan kuat dengan seseorang. Dia akan bangun jika orang itu lah yang memintanya. Ataupun mengajaknya berkomunikasi.
Xander dan teman-temannya yang lain pun bisa memastikan bahwa Lidia memang menunggu kedatangan sang suami.
Hari ini, sebelum Xander dan teman-temannya akan terbang ke negara dimana Sean berada dalam kekuasaan David, mereka menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Lidia sekaligus berpamitan kalau ingin menyelamatkan Sean.
“Lidia, aku tahu kamu pasti menunggu suamimu. Tunggulah! kami semua akan menjemput Sean.” Ucap Xander sambil menahan kesedihannya.
Marsha dan Leon yang ada di samping brankar Lidia juga tak kuat menahan kesediahannya. Mereka bahkan sudah memikirkan hal buruk jika gagal membawa Sean pulang dengan selamat. Namun setelah itu, mereka menepisnya. Dengan optimis mereka akan menyelamatkan nyawa Sean.
“Kami berangkat dulu, Lidia!” pamitnya kemudian.
“Aku telah berjanji padamu, Sean. Aku akan selalu menunggumu.”
***
Xander, Leon, Fredy, dan Marsha sudah bersiap menuju landasan. Setengah jam lagi helicopter yang mereka tumpangi akan terbang menuju lokasi dimana David tinggal. Ya, mereka berempat terbang menggunakan helicopter pribadi milik Tuan Nugraha yang tak lain Papa Marsha. Karena mereka membawa beberapa senjata api yang menurutnya aman dibandingkan naik pesawat komersil.
Berdasarkan hasil pemantauan Leon, pertahanan di sekitar tempat tinggal David cukup ketat. Beberapa anak buahnya sebagian ada yang menyebar untuk menghalau jika ada sesuatu yang membahayakan. Namun Leon cukup yakin, kalau dirinya dan ketiga temannya cukup kuat untuk menghadapi semua anak buah David.
Kini mereka berempat sudah berada di dalam helicopter yang sudah siap lepas landas. Mereka sama-sama terdiam dengan berbagai macam pikiran dalam benak masing-masing. namun yang pasti tujuan mereka adalah membawa Sean pulang dalam keadaan selamat.
__ADS_1
Lima jam sudah dilalui. Mereka turun di landasan yang aman. Satu box berisi senjata api itu sedang dibawa oleh Leon. Ada sebuah mobil yang menjemput mereka menuju tempat persinggahan sementara. Sesampainya disana, mereka berkumpul sejenak untuk menyiapkan diri masing-masing.
“Sebentar lagi akan ada dua mobil yang dikirim kesini. Kita tidak bisa berangkat dalam satu mobil. Kak Leon kamu sama Fredy, sedangkan aku sama Xander.” Ucap Marsha.
“Baiklah. Terserah kamu saja.” Jawab Xander.
Leon hanya pasrah karena tidak bersama Marsha. Sedangkan Fredy tak menunjukkan penolakan apapun. Pria itu sangat fleeksibel, namun memang sedikit tidak suka jika harus bersama Xander yang menurutnya sangat keras kepala dan mudah emosi.
Tak lama kemudian ada dua mobil yang datang. Mereka masuk ke mobil tanpa memakai jasa sopir. Setelah itu segera berangkat menuju lokasi.
Tujuan mereka adalah ke rumah David dan juga perusahaan David. Dan tugas sudah dibagi. Leon dan Fredy menuju rumah David, sedangkan Marsha dan Xander menuju perusahaan David.
Saat ini waktu menunjukkan pukul Sembilan pagi. dan dapat dipastikan kalau Sean sedang berada di kantor bersama David. Meskipun demikian, Marsha dan Xander hanya bisa memantau dan mengikuti Sean dan David saja. Karena remote pengendalinya dalam genggaman Fredy.
Sudah tiga puluh menit mobil yang dikendarai Xander berhenti tidak jauh dari kantor David. Namun sejak tadi dia tidak melihat tanda-tanda Sean keluar kantor bersama David.
“Apakah mereka ada di kantor?” tanya Marsha.
“Aku juga tidak tahu. Kalau kita nekat masuk akan sangat membahayakan. Bagaimana dengan Leon? Apakah dia tidak memberi kabar?”
“Mereka saat ini sedang berada tak jauh dari rumah David. Dan kata mereka, penjagaan disana sangat ketat dan-“
__ADS_1
“Xander, itu mobil David!” pekik Marsha saat mengetahui mobil David keluar kantor.
Marsha sudah mengetahui dengan detail mobil David saat beberapa hari yang lalu mendapat bantuan dari salah satu temannya.
Xander segera melajukan mobilnya mengikuti kemana mobil David pergi. Dia sangat yakin kalau Sean juga berada dalam mobil itu.
Sedangkan Sean yang kini bersama David sedang dalam perjalanan menuju rumah. karena menurut kabar yang ia dengar, Bu Dewi memberi kabar baik tentang keadaan Bryan. Sean semakin was-was.
Saat Sean sibuk memikirkan keadaan Bryan, tiba-tiba dia melihat sebuah mobil yang sedang mengikutinya. Menurut instingnya, dalam mobil itu ada orang-orang yang akan membantunya kabur.
“Tuan, sepertinya ada yang sedang mengikuti mobil kita.”
.
.
.
*TBC
Dag dig dug😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️