
Lidia menghentikan tangannya yang sejak tadi mengusap rambut Chandra setelah mendengar kalimat pujian yang terlontar dari mulut Chandra. Bukan kalimat pujian yang menjadi masalah buat Lidia, namun seseorang yang dipuji lah yang membuat Lidia sedikit terkejut.
“Maksud kamu apa?” tanya Lidia dengan mode serius.
“Nggak ada maksud apa-apa, Ma. Memangnya salah jika Chan bilang kalau Feby cantik?”
“Chan, kamu tahu kan kalau dia lebih tua dari kamu? Dia pantas jadi kakak kamu?”
“Apa hubungannya sih, Ma? Chan hanya bilang kalau Feby itu cantik.” Suara Chandra sedikit kesal karena mamanya seperti menangkap hal lain.
Belum sempat Lidia menjawab, Chandra bangkit dari tidurnya lalu duduk sedikit menjauhi mamanya. “Kue buatan Mama awas gosong! Chan mau ke kamar dulu.” Pamitnya lalu meninggalkan Lidia.
Lidia seketika teringat dengan kue buatannya barusan. Wanita itu segera menuju dapur untuk melihat kuenya sudah matang atau justru gosong.
Setelah memastikan bahwa kuenya sudah matang tepat waktu, Lidia segera mengangkatnya lalu meletakkannya di atas meja dan siap dipotong setelah dingin.
Lidia teringat dengan percakapannya baru saja dengan Chandra. Dia dapat merasakan nada kesal yang terlontar dari mulut Chandra saat tanpa sengaja dia membahas Feby. Memang Feby adalah gadis yang cantik. Namun dari sorot mata Chandra, sepertinya Lidia bisa melihat kalau ada sesuatu yang disembunyikan dari Chandra.
“Apa Chandra menyukai Feby?” gumamnya.
***
Sore harinya saat Sean akan bersiap pulang setelah pekerjaan kantornya selesai, pria itu melihat ponselnya terlebih dulu. Sean terkejut saat mendapat banyak panggilan yang ia abaikan dari Kenzo. Sean takut terjadi sesuatu atau ada hal penting yang ingin Kenzo sampaikan, hingga pria itu menghubungi kembali no Kenzo.
“Sorry, aku tadi sedang di luar. Ada meeting. Ada apa, Ken?” tanya Sean setelah panggilannya suag tersambung.
__ADS_1
“…..”
“Hal penting apa?”
“…..”
“Baiklah. Sampai ketemu di rumahku. Aku tunggu.”
Sean segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Setelah itu dia pulang.
Sesampainya di rumah, kedatangan Sean sudah disambut oleh anak bungsunya. Siapa lagi kalau bukan Mirza. Bocah itu selalu menempel pada ayahnya. Tidak bertemu beberapa jam saja membuatnya kelabakan. Sedangkan Sean langsung menggendong anak itu walau badannya sudah besar dan tidak pantas lagi untuk digendong layaknya anak kecil.
Sean membawa Mirza ikut masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Lidia baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Mirza turun dari gendongan ayahnya, lalu duduk sambil bermain di atas tempat tidur. Sedangkan Lidia membantu suaminya melepas jas dan juga kemejanya. Lidia selalu melakukan itu, dia selalu melayani suaminya dengan sangat baik.
“Sudah, mandilah dulu! Air hangatnya sudah aku siapkan.” Ucap Lidia.
Cup
Sean mengecup bibir istrinya sekilas sebelum masuk ke kamar mandi. Lidia menengok ke arah Mirz takut jika anak kecil itu melihat Sean yang baru saja mengecup bibirnya. beruntungnya Mirza tampak asyik dengan mainannya.
Sean tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya saat melihat kekhawatiran istrinya kalau ia baru saja menciumnya. Ya, walaupun mereka berdua sejak dulu terkenal romantis, apalagi di hadapan anak-anaknya, namun Lidia dan Sean tidak pernah mengumbar kemesraannya di depan anak-anak. Seperti yang dilakukannya barusan.
Malam harinya semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Lidia melihat tingkah Chandra yang sedikit berbeda dari biasanya. Wanita itu merasa sangat bersalah atas ucapannya tadi siang. Namun ia juga tak ingin membahasnya di meja makan.
__ADS_1
“Bagaimana tadi urusan di kantor Om Kenzo, Chan?” tanya Sean tiba-tiba.
“Nanti setelah makan malam, Chan ingin membicarakannya langsung pada Ayah.” Jawabnya tenang lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Ya. Om Kenzo sepertinya akan datang kesini nanti.” Sahut Sean.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara mereka. Mereka semua menikmati makanannya dengan khidmat. Ketiga adik Chandra juga tampak fokus dengan menu makanan yang ada di hadapannya.
Usai makan malam, Sean mengajak Chandra masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia ingin tahu apa yang akan Chandra sampaikan sebelum Kenzo datang. Sementara itu Lidia semakin gusar dan bersalah saat melihat Chandra tampak cuek terhadapnya. Padahal Chandra biasa saja. Dia justru tengah fokus dengan pekerjaannya.
Kini Sean dan Chandra sudah duduk berhadapan di ruang kerja. Chandra sudah menjelaskan semua masalah yang terjadi di perusahaan Kenzo sekaligus solusi untuk mengatasi masalah itu.
“Tapi masih ada kendalanya, Yah. Sepertinya Om Kenzo tidak bisa dengan mudah memberitahukan kata sandi data penting perusahaannya. Ya, Chan akui memang Chan adalah orang baru. Begini saja, Yah. Kalau Om Kenzo tidak mau memberikan sandi itu, lebih baik Ayah saja sendiri yang mengerjalan itu semua. Dan malam ini juga harus dilakukan penggantian sandi baru itu.”
“Akan Ayah bicarakan nanti dengan Om Kenzo.” ucap Sean.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1