Suami Kedua

Suami Kedua
Sangat Kritis


__ADS_3

Feby yang hampir saja membuka pintu mobilnya tiba-tiba mendengar suara teriakan Chandra. Dan beberapa detik setelah itu dia merasakan tubuhnya terhempas cukup keras hingga terjatuh dan kedua sikunya menggesek lantai bertekstur kasar nan keras.


Aww..


Feby melihat sikunya mengeluarkan darah dan kulitnya terasa panas. Lalu tak jauh dari tempatnya ada seorang pria bermasker baru saja berlari terburu-buru. Dan betapa terkejutnya Feby saat melihat Chandra tergeletak dengan memegangi pisau yang menancap pada perutnya. Tidak hanya itu, darah segar tampak mengalir dari perut laki-laki itu.


Seketika Feby melupakan rasa sakit pada kedua sikunya. Dia mendekati Chandra yang wajahnya sudah memucat. Tak lama kemudian ada beberapa pengunjung restaurant yang melihat, kemudian Feby meminta bantuan agar membawa Chandra ke rumah sakit.


Feby meminta salah satu pengunjung restaurant membawa Chandra ke rumah sakit dengan menaiki mobilnya. Dia duduk di jog belakang dengan mendampingi Chandra yang keadaannya semakin lemah. Darah itu juga terus mengalir.


Tubuh Feby ikut bergetar melihat keadaan Chandra. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Chandra mendapat luka tusukan seperti ini. tidak hanya itu, tadi dirinya juga ikut terjatuh. Apakah pria bermasker tadi niatnya ingin melukai dirinya dan digagalkan oleh Chandra? Air mata Feby mengalir deras.


“Chan, kumohon bertahanlah!" Lirih Feby.


Chandra yang sedang berbaring di atas pangkuan Feby hanya menatap wajah perempuan itu dengan sayu. Mulutnya sudah tidak mampu lagi berbicara. dia juga merasakan detak jantungnya semakin melemah.


“Mas, bisa tolong lebih cepat lagi?” pinta Feby pada si pengendara mobilnya.


“Iya, Mbak. Ini juga sudah cepat.” Jawabnya.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai rumah sakit. Pria yang mengemudikan mobil Feby itu berlari cepat meminta bantuan pada petugas rumah sakit untuk segera menolong Chandra.


Tepat saat petugas datang dengan membawa brankar lalu meletakkan Chandra di sana, kesadaran Chandra sudah hilang. Matanya sudah tertutup rapat.


Feby menguatkan pijakannya yang hampir saja tumbang saat melihat Chandra sudah tidak sadarkan diri. Perempuan itu ikut berlari mengikuti tim medis membawa Chandra ke ruangan IGD.

__ADS_1


“Nona, mohon tunggu di luar dulu. Biar dokter memeriksanya.” Cegah salah satu perawat saat Feby berusaha ikut masuk.


Feby akhirnya menurut lalu duduk di ruang tunggu.


“Mbak, bagaimana keadaan teman anda?” tanya pria yang menolongnya tadi.


“Masih diperiksa dokter, Mas. Terima kasih banyak ya sudah menolong saya. Mas boleh meninggalkan rumah sakit kalau masih ada pekerjaan. Maaf sudah merepotkan.” Ucap Feby.


“Baiklah, Mbak. Jangan lupa hubungi keluarga terdekat. Oh iya, tadi kata teman saya sudah ada pihak kepolisian yang datang ke TKP. Mungkin nanti Mbak akan mendapatkan sedikit interogasi tentang kejadian ini. dan ini kunci mobilnya.” Ucap pria itu sambil memberikan kunci mobil Feby.


Setelah pria itu pergi, keadaan Feby sudah cukup tenang. Lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Papanya yang saat ini sedang berada di kantor.


Kenzo sangat terkejut mendengar kabar buruk dari anak perempuannya. Terlebih Chandra juga ikut terluka parah. kemudian Kenzo juga segera menghubungi Sean.


Feby meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Dia melihat ruangan IGD masih tertutup dan belum ada tanda-tanda perawat keluar dari ruangan itu. Feby meringis saat merasakan kedua sikunya terasa panas.


Pintu ruangan dimana Chandra diperiksa tampak terbuka. Dokter keluar dengan satu perawat yang menemaninya.


“Dok bagaimana keadaan teman saya?” tanya Feby dengan wajah cemas.


“Lebih baik anda segera menandatangani surat persetujuan tindakan opersai sekarang, karena teman anda sangat kritis. Luka tusuk itu sangat dalam hingga menembus ususnya.” Ucap dokter.


Tanpa menjawab lagi, Feby segera mengikuti perawat yang akan mengantarnya ke ruangan dimana ia harus menandatangani surat persetujuan itu. Meskipun tidak ada hubungan keluarga, Feby akan menjamin operasi Chandra.


Tak lama setelah Feby menanda tangani surat itu, Papanya datang bersama Sean. Dua pria paruh baya itu tampak khawatir dengan keadaan anak-anaknya.

__ADS_1


“Pa, Chandra terluka parah, Pa!” Feby memeluk Papanya sambil terisak.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Feb?” tanya Sean.


Feby mengurai pelukannya. Dia lalu menatap Sean yang sedang menunjukkan wajah khawatir. Kemudian Feby menceritakan semua kejadiannya. Hingga luka Chandra harus segera dioperasi.


“Maafkan Feby, Om. Semua ini gara-gara Feby.”


“Sudah! Nggak apa-apa. Lebih baik kita tunggu saja operasinya.” ucap Sean menenangkan.


Kemudian tatapan mata Kenzo beralih pada kedua siku Feby yang tampak berdarah. Bahkan darah itu sudah mongering. Lalu Kenzo meminta petugas rumah sakit untuk mengobati luka Feby.


*


Tiga jam lebih Sean duduk di depan ruang operasi. Sampai saat ini lampu dalam ruangan itu belum menunjukkan tanda bahwa operasi akan selesai.


Sean yang niatnya tidak ingin memberitahu kabar ini pada istrinya, akhirnya ia memberitahu yang sebenarnya. Dan setengah jam kemudian Lidia datang dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


“Sean, Ada apa dengan anakku?” tanya Lidia lalu berhambur ke pelukan suaminya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2