
“Maaf. Aku hanya rindu sama Om Billal.” Jawabnya sambil mengusap air matanya.
Mendengar jawaban Jenny, Lidia hanya diam saja. Dia bersikap biasa saja seolah hatinya baik-baik saja. Walau sebenarnya dia juga tiba-tiba teringat dengan sosok mantan suaminya. Lidia melirik Sean yang kini sedang sibuk dengan gadgetnya. Mungkin pria itu hanya mengalihkan perhatiannya setelah mendengar nama mantan bosnya disebut.
“Sudahlah, Sayang. Kamu jangan bersedih. Aku yakin Om Billal sudah bahagia disana. Anak-anaknya juga tumbuh dengan sangat baik.” Iqbal mencoba menenangkan istrinya.
Bagiamanapun juga Jenny tidak bisa melupakan sosok Omnya yang sudah menunggal itu. Karena Billal sudah berbuat baik terhadap Jenny selama hidupnya.
Waktu sudah malam. Iqbal mengajak istrinya masuk ke kamar terlebih dulu, sedangkan anak-anak mereka sudah memasuki kamar masing-masing. Begitu juga dengan Lidia. Karena Kavi sudah tidur sejak tadi dalam gendongannya.
“Aku ke kamar dulu ya? Kavi sudah tidur.” Pamit Lidia pada Sean yang sejak taadi sibuk dengan gadgetnya.
Sean hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipisnya pada sang istri.
Selepas kepergian Lidia, Sean memasukkan ponselnya ke dalam saku. Jujur saja, ponsel tadi hanya pengalihan dari rasa tak nyamannya saat mendengar nama mantan bosnya kembali disinggung. Entah kenapa hati Sean begitu resah. Dia takut istrinya kembali mengingat sosok mantan suaminya yang telah lama meninggal itu.
Setelah lama terdiam di ruang keluarga seorang diri, Sean pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar menyusul istrinya yang mungkin sudah tidur.
Cklek
Sean membuka pintu kamar dengan hati-hati karena takut membangunkan Kavi.
“Sayang, kenapa kamu belum tidur?” tanya Sean saat melihat Lidia duduk di bibir ranjang.
“Aku menunggumu.” Jawabnya singkat.
__ADS_1
Sean segera menghampiri istrinya lalu mengajaknya tidur.
“Maaf. Ayo kita tidur. Ini sudah malam. besok pagi kita akan pergi berlibur bukan?”
“Sean, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu pasti memikirkan mendiang Papa Chandra, bukan?” tanya Lidia sambil menatap dalam mata suaminya.
“Apa kamu berpikir kalau aku juga merasakan hal yang sama dengan Jenny, yaitu merindukannya? Kamu jangan berburuk sangka. Hati ini sudah terpaut dengan hatimu. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku untuk mengingat atau mengenang dirinya. Tapi satu hal yang pasti. Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandung Chandra dan Viana. Jadi kamu jangan berpikir seolah aku masih terus mengingatnya.” Lanjut Lidia.
Sean kemudian memeluk istrinya dengan erat. “Maafkan aku, Sayang! Aku percaya sama kamu. Aku sangat mencintaimu.” Ujarnya lalu mengecup kening Lidia.
Keesokan harinya Sean, Lidia dan juga anak-anaknya sudah bersiap untuk pergi dari rumah Jenny. Chandra selalu membuat drama. Anak itu enggan berpisah dengan sepupunya karena sudah lama tidak pernah bertemu. Beruntungnya dengan bujukan Sean, Chandra akhirnya mau diajak pulang dengan dijanjikan akan terus melakukan panggilan video dengan Gita dan juga Daniel.
Kini mereka sudah berada di dalam peswat yang akan membawanya pergi berlibur menuju pulau yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya.
Sean menghabiskan waktu berliburnya selama kurang lebih empat hari. Dia akan kembali lagi ke kota B di saat Xander dan Silvia juga pulang dari bulan madunya.
Waktu berlalu begitu cepat. Empat hari menghabiskan waktu untuk berlibur sudah membuat Lidia dan anak-anaknya bahagia. Chandra dan Viana juga sangat puas dengan liburannya kali ini.
Kini Sean sudah kembali berada di kota B. dia hanya singgah sebentar saja sebelum kembali ke luar negeri. karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada sahabatnya.
Sekarang Sean sedang duduk di restaurant hotel tempat ia menginap. Dia hanya berdua saja dengan Xander.
“Bagaimana bulan madu kalian? apakah sukses?” tanya Sean.
Xander hanya mencebik. Dia teringat dengan aksi ekstrim sahabatnya yang memberikan kejutan bulan madunya. Namun akhirnya dia juga sangat bahagia bisa menghabisi istrinya. Eh ralat. Menghabiskan waktunya bersama sang istri.
__ADS_1
Lalu Xander teringat dengan dokumen peralihan nama perusahaan Sean yang berganti dengan namanya.
“Rasanya kamu sangat berlebihan, Sean. Aku tidak pantas menerima semua itu.”
“Kamu tahu betul, kalau aku tidak suka penolakan. Aku memberikan itu karena kamu pantas mendapatkannya. Dan ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Hal lain apa?” tanya Xander penasaran.
“Setelah ini aku akan kembali ke luar negeri. aku memutuskan untuk tinggal menetap disana. Tepatnya dimana perusahaan baruku berada. Aku juga mengajak Fredy ikut tinggal disana. Selain dia masih bertugas membimbing Chandra, Fredy juga akan membantuku mengurus perusahaan.”
“Jadi, ini hari terakhir kita bertemu?” tanyanya sendu.
“Kamu jangan mellow kayak perawan gitu. Memangnya kalau kita tinggal berjauhan komunikasikita terputus begitu saja? Jangan khawatir! Aku akan tetap merepotimu, terutama tentang urusan peerusahaan.” Jawab Sean dengan senyum jail.
“Baiklah. Aku sama sekali tidak keberatan.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1