
“Kak, kakak bangun!”
Rama dengan perlahan membuka matanya, matanya beberapa kali berkedip sekedar untuk menghilangkan bayangan Kila yang mengabur di depannya, “apa ini sudah pagi?” tanya Rama sambil mengusap matanya.
“Seperti yang kakak pinta semalam, ayo bangun! Aku akan menyiapkan sarapan, apa ada yang ingin kakak makan?” Kila balas bertanya, dia pun beranjak saat Rama juga telah beranjak.
“Aku akan memakan apa pun yang kau persiapkan,” saut Rama, dia berdiri di samping ranjang, mengenakan sandal lalu berjalan ke luar kamar.
Rama terus berjalan, dengan sesekali memukul-mukul pelan lehernya sendiri. Tangan Rama mengepal kuat, saat dia sudah berjalan semakin dekat ke kamar yang ditempatinya dan juga Citra. Rama berhenti di depan kamar, dia berusaha untuk membuka pintu kamar. Namun, pintu yang dikunci dari dalam itu tak kunjung terbuka walau Rama menggerakan beberapa kali gagang pintu tersebut dengan kuat.
“Citra! Buka pintunya!” perintah Rama sambil mengetuk pintu tersebut.
“Citra!” Rama meninggikan suaranya, saat panggilannya tak kunjung ditanggapi.
“Jangan pedulikan aku! Bersenang-senang saja dengan perempuan murahan itu!”
“Aku harus menghadiri rapat!”
“Rapat apa? Rapat membahagiakan perempuan itu! Aku jauh lebih cantik darinya! Aku tidak akan membuka pintu, aku tidak akan membuka pintu sebelum kau mengusirnya!”
“Cit-”
Rama yang hendak membentak, terhenti oleh genggaman lembut pada tangannya, “ini masih pagi, jangan menghabiskan tenagamu, kak. Ayo ke kamarku, aku sudah meminta Bi Mainun memberikan baju bersih milikmu yang belum sempat diletakan di lemarimu,” ucap Kila lembut, sambil menarik tangan Rama mengikutinya.
“Kakak ingin ke mana hari ini? Apa ponsel kakak tertinggal di dalam kamar?”
“Malaysia, menghadiri rapat dengan klien, setelah rapat akan langsung kembali lagi. Aku belum sempat membeli ponsel baru,” jawab Rama yang mengikuti langkah Kila di sampingnya.
“Aku mengerti. Jangan marah-marah seperti itu, aku mengerti perasaannya, dia pasti terpukul karena seorang perempuan asing tiba-tiba menjadi orang ketiga di pernikahannya … Tidak perlu khawatir, serahkan semuanya kepadaku, fokuslah bekerja,” ucap Kila, dia mengusap punggung Rama sambil membukakan pintu kamar untuknya.
“Aku akan membantu kakak menyiapkan semuanya di dalam, bersiap-siaplah!” sambung Kila dengan tersenyum manis kepadanya.
Mata Kila terpejam saat menerima kecupan Rama di keningnya, dia kembali berjalan menjauhi kamar saat Rama sudah kembali masuk ke dalam, ‘sikap perempuan itu, membuatku semakin mudah merebut suaminya. Menjadi Nyonya di rumah besar ini, siapa yang ingin menolak? Lalu kenapa jika dia lebih cantik? Kalau dia tidak bisa memuaskan atau mengurus suaminya dengan benar,’ Kila membatin dengan terus melangkahkan kakinya mendekati dapur.
__ADS_1
_______________.
Kila membawa seprai kotor dengan noda darah, ke bagian belakang rumah. “Nyonya, apa yang Nyonya lakukan di sini?”
“Bi Mainun juga di sini? Aku ingin mencuci seprai kotor ini, Bi. Apa noda darah dua hari yang lalu dapat hilang?” Kila sengaja bergumam di depan beberapa asisten rumah tangga yang ada di sana.
“Apa Nyonya atau Tuan terluka?”
Kila mengangkat pandangan dengan melambaikan tangan ke arah mereka yang terlihat khawatir, “tidak ada yang terluka … Ini, noda darah, bagaimana aku menjelaskannya,” ungkap Kila, dia membuang pandangan matanya sambil menggigit kuat bibir.
“Bibi paham, bibi paham … Mengingatkan Bibi di saat-saat masih muda. Biarkan kami yang membersihkannya Nyonya, serahkan saja semuanya kepada kami-”
“Tapi,” ucap Kila memotong perkataannya, “baiklah, tapi bisakah kalian menganggap ini tidak terjadi … Aku malu.”
“Untuk apa malu, wajar jika suami-istri melakukannya,” saut Mainun sambil meraih seprai putih yang diberikan Kila, “kami akan memasang seprai baru di kamar Nyonya,” sambungnya dengan memberikan seprai tadi ke salah seorang perempuan di belakangnya.
Kila berbalik saat suara tangisan perempuan terdengar di telinganya, “bibi, aku tidak sanggup lagi, bibi,” rengek salah seorang asisten rumah tangga yang berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dia berhenti saat menjatuhkan pandangannya kepada Kila, “Nyonya Kila?” ucapnya yang dengan cepat menghapus tangisannya.
“Tidak apa-apa, Nyonya-”
“Aku tidak bisa menolongmu jika kau tidak bisa mempercayaiku,” ungkap Kila memotong perkataannya.
“Sa … Saya diperintahkan untuk mengantar makanan untuk Nyonya. Tapi dia justru menumpahkan sup yang masih panas hingga mengenai tanganku,” tangis perempuan itu kembali, diikuti tangannya yang gemetar.
Kila menghela napas, “salah satu di antara kalian, temani dia ke dokter. Bi, aku pinjam dulu uang untuk keperluan bulanan, nanti aku ganti … Asalkan tangannya terobati dahulu,” ucap Kila kepada Mainun yang mengangguk pelan menanggapi ucapannya.
“Nyonya-”
“Aku sudah katakan, kan? Aku telah menganggap kalian semua seperti keluarga, jadi jangan sungkan kepadaku. Bersiap-siaplah untuk ke dokter agar tidak semakin parah,” ucap Kila, dengan mengusap lengan perempuan tadi.
“Nyonya, terima-”
__ADS_1
“Iya, iya, tidak perlu berterima kasih. Cepatlah pergi untuk mengobatinya,”
“Dan untuk kalian, jika Nyonya Citra memanggil kalian dan melakukan hal ini lagi … Beri laporan terlebih dahulu kepadaku, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Apa kalian mengerti?” tanya Kila, mereka mengangguk saat Kila melirik ke arah mereka bergantian.
______________.
“Gilang, apa kau tidak bisa mencari perempuan yang lebih baik? Kenapa kau harus hancur oleh perempuan sepertinya?” gumam Kila sambil menatap foto Gilang di ponselnya.
“Apa semua orang kaya selalu sewenang-wenang seperti itu? Aku ingin sekali mencabut habis rambut Citra, jika saja aku sedang tidak berusaha berpura-pura menjadi malaikat di sini,” Kila kembali bergumam lirih sembari membaringkan tubuhnya di ranjang.
Kila melirik ke arah pintu saat suara ketukan terdengar, “siapa?” tanya Kila kepada ketukan pintu itu.
“Ini aku, buka pintunya!” ucap suara laki-laki dari balik pintu.
Dengan cepat Kila beranjak, lalu berlari membukakan pintu untuknya, “kak Rama sudah pulang, apa rapatnya telah selesai?” tanya Kila sambil mengikuti langkah Rama yang berjalan melewatinya.
“Sudah, aku pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaan.”
“Seharusnya kakak menghubungiku, jadi aku bisa lebih baik untuk menyam-”
“Aku baru membeli ponsel saat di perjalanan pulang, Oleh-oleh untukmu,” ucap Rama sambil meletakan beberapa tas kertas dengan berbagai merk tercetak di sana ke atas ranjang.
“Apa kakak yakin semuanya untukku?” tanya Kila dengan berjalan mendekatinya.
“Jika kau mengkhawatirkan Citra, dia bisa membelinya sendiri. Itu semua untukmu,” ungkap Rama seraya meletakan jas yang ia tanggalkan ke meja kecil di samping ranjang.
“Bagaimana keadaan di rumah? Kau berkata ingin mengawasi mereka semua.”
“Kak, bisa aku mendapatkan uang? Aku meminjam uang keperluan bulanan untuk rumah-”
“Apa terjadi sesuatu?”
Kila menghentikan langkah di depannya, lalu menggerakan jari-jemarinya membuka satu per satu kancing di kemeja suaminya, “kak Citra, menumpahkan sup panas ke tangan salah seorang pelayan hingga tangannya melepuh. Jadi, aku meminjam uang tersebut untuk biaya pengobatannya.”
__ADS_1
“Baiklah, hanya berikan saja nomor rekeningmu nanti kepadaku,” ucap Rama menarik tangannya, saat Kila membantu melepaskan kemeja yang ia kenakan.
“Terima kasih, kak … Dan syukurlah, kakak pulang dengan keadaan baik-baik saja,” ungkap Kila, sambil mengecup lama pundak Rama, sebelum akhirnya dia memeluk lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rama.