Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 47. Siapa pria yang bersama dokter Karen?


__ADS_3

"Yuk! Kita keluar saja, jalan-jalan di taman dekat sini. Biarkan, Mereka menikmati kemesraan tanpa terganggu," ajak Adam pada Angelina.


"Kau benar, Ad. Setidaknya kita masih di sini, berada tak jauh dari mereka, seandainya memang nanti di butuhkan," timpal Angelina, menanggapi ajakan suaminya itu.


Adam merangkul sang istri, untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit tersebut.


Ketika mereka hendak keluar dari dalam lift, secara bersamaan sosok pria tampan dengan wajah ketimuran, yang tak lain adalah Leon hendak masuk kedalamnya.


Sing!


Tanpa di komando, tatapan Angelina dan Leon kembali beradu dalam sekejap. Hingga, sebuah tangan kekar menarik Angelina. Kini, tatapan tajam dari Adam yang mengarah pada Leon. Hingga, pintu lift kembali menutup sempurna.


'Sial! Kenapa harus ketemu lagi! Kenapa dia bagaikan bayangan setan!' kesal Adam, namun pria itu hanya bisa membatin saja.


Sementara, Angelina nampak memegangi dadanya yang semakin sering bertemu debaran itu semakin kencang. Aneh, itulah lah yang tengah wanita itu rasakan. Hingga, ia berpikir apakah harus mengatakan ini kepada suaminya. Apakah Adam akan menerima semua cerita gak masuk akal ini? Bagaimana jika pria itu justru malah dan kesal padanya?


Ah, berbagai pertanyaan mampir di benak Angelina. Wanita itu, selalu ingin menjadi wanita sempurna yang membuat suaminya bahagia.Oa tak mau, Adam kecewa maupun terluka karenanya. Maka itu, Angelina memilih menyembunyikan perasaannya yang aneh. Berharap, takkan lagi bertemu dengan pria aneh itu.


Pria itu juga, dimana setiap mereka bertemu maka akan sama dengannya. Yaitu, menatap dengan intens. Seakan mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Maaf."


"Tidak perlu di bahas."


"Apa kau marah?"


"Tidak!"


"Ih, nada tinggi ... berarti kan marah."


"Tidak, sayang ....."


Cup!


"Hei, jangan disini." Adam memegangi pipinya yang di kecup sekilas oleh Angelina.

__ADS_1


"Terus dimana?" tanya Angelina polos.


"Ke hotel sebentar yuk!"


Ajakan dari Adam tentu saja diangguki oleh Angelina. Karena wanita itu tau jika suasana hati suaminya sedang tak baik-baik saja. Ia perlu meredakan amarah akibat kekhawatiran Adam yang tak beralasan itu.


Mereka berdua pun pergi ke hotel yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Memesan kamar, yang view-nya menghadap ke ikon pusat kota itu. Sebuah menara dengan puncak emas di atasnya.


Adam berdiri di depan kaca besar yang memisahkan kamar mereka dengan balkon. Lelaki itu membiarkan Angelina membersikan tubuh, setelahnya.


Karena itu, kini dirinya tidak mengenakan pakaian atas, sementara bagian bawahnya hanya tertutup sepotong handuk hingga lutut. Membiarkan punggungnya yang lebar dan indah terekspos sempurna. Belum lagi dadanya yang bidang itu, masih di aliri oleh tetesan air bekas mandi.


Klek!


Pintu kamar mandi telah terbuka. Menampilkan sosok wanita yang hanya mengenakan kimono mandi di atas lututnya. Berjalan perlahan menghampiri sosok pria gagah dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.


Adam yang masih berkutat dengan segala hal yang tiba-tiba mampir mengusik pikirannya. Membuatnya tidak menyadari kedatangan wanitanya. Hingga, tau-tau dua lengan ramping melingkar pada pinggangnya.


Pada saat itulah, Adam terkesiap. Apalagi, aroma yang menguar dari tubuh wanita yang menempel pada punggungnya ini, begitu memanjakan hidungnya. Terlebih lagi, Angelina telah melepaskan kimono mandinya.


Hingga, tanpa ia sangka. Tangan Angelina melepas penutup area bawah tubuhnya. Pada saat itulah, Adam membalik tubuhnya. Kini, ia dan istrinya telah berhadap-hadapan.


"Kamu ... memang istri yang paling mengerti apa keinginan suaminya. Aku, merasa sangat beruntung memilikimu, Angelina. Berjanjilah, untuk tidak akan pernah meninggalkan aku ... apapun yang terjadi di depan nanti," pinta Adam di sela-sela pujiannya.


"Memangnya, apa yang bisa membuatku berpikir untuk meninggalkan sumber kebahagiaanku ini," sahut Angelina semakin mendekatkan tubuhnya. Hingga kini mereka menempel erat tanpa sehelai benang yang menutupi raga indah keduanya.


"Seandainya bisa, aku ingin menempel selamanya seperti ini denganmu. Itu konyol bukan? Lalu, alasan apa yang bisa membuatku meninggalkanmu?" sambung Angelina lagi.


Ucapan dari istrinya itu, seketika membuat Adam mengulas senyum lebih lebar dari biasanya. Hatinya tenang setelah ia mendengar ucapan langsung dari Angelina, wanita yang sangat ia cintai.


Entah kenapa, seketika mampir perasaan bahwa akan ada yang mengancam kebersamaannya dengan Angelina. Sampai kapanpun, dirinya tidak akan pernah melepaskan wanita itu. Meski sang adik, Alan Jackson hidup kembali sekalipun.


Angelina adalah miliknya. Selamanya akan menjadi kepunyaannya. Apalagi, ingatan wanita itu hanya menyisakan tempat untuk dirinya. Hal itu, membuat Adam berpikir egois sekarang.


"Benar ya. Jangan berubah ... jika nanti ada pria yang lebih tampan dan lebih seksi dariku datang untuk menggodamu," sosor Adam masih tak percaya kesetiaan Angelina akan menetap padanya.

__ADS_1


"Hei, seharusnya aku yang khawatir bukan, kamu sayang. Kau bahkan bertambah tampan di usia yang semakin matang ini. Sedangkan aku, setelah melahirkan tubuhku tak lagi seperti dulu. Siapa laki-laki lain yang akan melirikku jika mereka melihat ini," tunjuk Angelina pada bekas luka operasi di bawah perutnya.


Adam lantas berjongkok dan menciumi bekas luka itu. Angelina terkesiap, dengan perlakuan manis suaminya. Kedua matanya lantas berkaca-kaca, karena terharu.


"Aku sengaja tidak membiarkanmu untuk menghilangkan bekas luka ini. Kenapa? Tentu agar aku dan putra kita ingat bagaimana perjuanganmu ketika melahirkannya dulu." Masih dalam posisi yang sama, Adam bicara sambil mendongak.


Jemarinya, masih bermain di sekitar bekas luka memanjang yang tercetak jelas di bawah perut ramping Angelina. Meskipun, terlihat perbedaan dibandingkan sebelum kehamilan.


Sementara jemari dari kedua tangan Angelina, menyusup diantara rambut suaminya. Memijatnya lembut, meski sesekali akan ia tarik lantaran gemas. Angelina pun akan terkekeh ketika Adam meringis kesakitan.


"Ad, berhentilah memandangi tubuhku seperti itu. Kau membuatnya nampak jelas, jika bentuknya sudah tak lagi sama seperti dulu," protes Angelina dengan wajah yang sudah memerah lantaran menahan malu. Suaminya itu tetap tak berganti posisi dengan berlutut di depannya yang tengah berdiri.


"Aku menyukainya, An. Memandanginya dari setiap sudut. Bagiku, semua bagian ini semakin indah dan menggemaskan. Jadi, jangan salahkan aku jika menjadikannya candu. Sehari saja tanpamu, aku bisa kehilangan kesadaran dan kewarasanku," tutur Adam lirih, dengan jemari yang mulai beraksi.


Angelina yang tampaknya akan lebih dulu kehilangan kesadaran, ketika Adam mulai menikmati setiap lekuk tubuhnya.


Sehingga, Adam menangkap raganya yang mulai limbung karena lemas. Padahal, lelaki itu belum melakukan apapun.


Adam memeluk tubuh Angelina dan menuntunnya hingga ke tempat tidur mereka. Tatapan keduanya yang sayu serta suara yang mulai parau, menunjukkan betapa mereka saling menginginkan satu sama lain.


Di lain tempat.


Kembali ke rumah sakit.


"Hai, tampan. Maaf, kau agak lama menungguku," ucap Karen yang telah berpakaian biasa. Leon yang sedang duduk pun lantas berdiri. Menyambut sosok wanita yang ia rindukan. Meski baru beberapa jam mereka tak bertemu. Leon sudah terlanjut, ketergantungan pada Karen.


"Selama apapun, menunggumu ... itu bukan masalah besar untukku," sahut Leon.


"Kau ini ... pandailah bermanis kata." Karen memuji Leon sambil mencolek dagu pria itu hingga terkekeh di buatnya.


"Siapa pria yang bersama dokter Karen. Kenapa posturnya--"


"Mommy!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2