
Dokter anak yang ada di ruangan itu segera mengambil bayi Lidia setelah diketahui bahwa keadaan si ibu dalam bahaya. Silvia yang melihat ketegangan beberapa perawat termasuk dokter yang menangani Lidia juga ikut panik. Kemudian Silvia diminta keluar dan beberapa saat kemudian Lidia juga dibawa keluar dari ruang persalinan menuju ruang perawatan intensif.
Tubuh Silvia lemah dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Hampir saja dia kehilangan keseimbangan kalau saja Xander tak sigap memapahnya.
“Ada apa?” apa yang terjadi dengan Lidia?” tanya Xander yang juga sangat cemas setelah melihat Lidia tak sadarkan diri dan dibawa keluar dari ruangan bersalin.
“Xander, aku…aku takut terjadi sesuatu dengan Nyonya Lidia.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Apa maksdu kamu? Apakah bayi Lidia baik-baik saja?”
“Bayinya baik-baik saja. Namun Nyonya Lidia tidak.”
Xander memberikan sebotol air mineral terlebih dulu sebelum Silvia memberikan penjelasan. Setelah cukup tenang, Silvia mulai menceritakan tentang keadaan Lidia pasca melahirkan. Lidia tadi sempat mengatakan agar dirinya menjaga Kavindra dengan baik. Dan tak lama kemudian Lidia kehilangan kesadarannya hingga membuat perawat dan dokter panik.
“Aku takut, Xander! Semua ini kesalahanku.” Ucap Silvia sambil tergugu.
Xander memeluk Silvia dan menenangkannya. Dia tidak ingin kekasihnya dihantui rasa bersalah karena telah menyebabkan keadaan Lidia kritis. Walau sebenarnya sedikit banyak dirinya dan Silvia lah penyebab Lidia seperti saat ini.
“Tenanglah! Aku yakin tidak terjadi apa-apa dengan Lidia. Dia wanita yang kuat.”
“Xander, maafkan aku. maafkan atas keogiasanku selama ini.”
“Sudah, lupakan semua itu. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang berjanjilah untuk selalu berada di sisiku.”
Silvia mengangguk dan tersenyum samar. Setelah itu kembali memeluk tubuh Xander.
__ADS_1
Xander dan Silvia masih berada di rumah sakit. Sudah hampir dua jam mereka berdua menunggu kabar Lidia namun tak kunjung mendapat kepastian. Beberapa tim dokter juga masih ada di dalam ruangan intensif itu. Sementara Kavindra, bayi Lidia harus diinkubasi karena berat badannya di bawah normal.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan Lidia. Xander dan Silvia segera menghampirinya untuk menanyakan langsung keadaan Lidia.
“Bagaimana keadaan Lidia, dok?”
“Pasien masih belum sadarkan diri. setelah diobservasi, ada pembekuan darah yang mengalir ke otaknya. Sebelum pasien melahirkan, saya sudah mengupayakan untuk melakukan operasi caesar, namun bayinya sudah mendorong kuat untuk segera dikeluarkan. Alhasil dampaknya seperti saat ini. saya akan memantau perkembangannya sampai enam jam ke depan. Jika masih belum sadar, pasien dinyatakan koma.”
Silvia kembali lemas setelah mendengar penjelasan dokter. dia sungguh tidak sanggup melihat keadaan Lidia yang kritis seperti itu. Terlebih bayinya yang pasti akan sangat membutuhkan asi.
Di saat Xander dan Silvia duduk di ruang tunggu, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekati mereka berdua. Terlihat Chandra dan Fredy datang untuk mengetahui keadaan Lidia. Sementara Viana diserahkan pada Bibi Anne.
“Om, Mama dimana? Katanya adik Chan mau lahir? Apakah adik sudah lahir?” tanya Chandra dengan wajah antusias.
“Adiknya Chan sudah lahir. Dia sangat tampan seperti Chan. Nanti kita lihat sama-sama ya?”
“Iya, Om. Lalu Mama dimana?” tanyanya lagi.
Silvia yang tidak tega memilih menjauh daripada menagis di hadapan Chandra yang akan semakin membuat anak itu bersedih.
“Mama masih istirahat, Sayang. Doakan Mama agar cepat sembuh ya?”
Chandra hanya mengangguk. Namun mendengar suara berat Xander yang seolah menyimpan sesuatu membuat Chandra yakin kalau keadaan Mamanya sedang tidak baik-baik. Tapi dia hanya diam saja.
Fredy pun akhirnya mengajak Chandra duduk. Pria itu juga tak banyak bicara karena takut membuat Chandra sedih. Dia cukup tahu dengan keadaan Lidia yang saat ini berada di ruangan intensif.
__ADS_1
Sejak tadi berulangkali dokter keluar masuk ruangan Lidia untuk terus memantau keadaannya. Hingga sampai waktu yang ditentukan, ternyata Lidia tak kunjung membuka matanya. dokter pun dibuat heran karena pembekuan darah yang di otak Lidia berangsur membaik. Harusnya Lidia sudah mulai menampakkan kesadarannya. Tapi ini tidak.
“Bagaimana, dok?” tanya Xander.
“Sepertinya alam bawah sadar pasein memberikan perintah agar tetap tidur. Padahal hasil pemeriksaan keadaan pasien setelah enam jam berangsur membaik meski hanya empat puluh persen.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan, dok?”
“Saat ini hanya bisa membiarkan pasien beristirahat dulu. Mungkin sebelumnya pasien sedang mengalami tekanan atau masalah berat, hingga masih membutuhkan banyak waktu untuk menenangkan diri. Saya sarankan agar sering mengajaknya berkomunikasi, walau pasien tak terlihat tidur, tapi masih bisa mendengarkan.”
Xander dan Silvia hanya mengangguk paham. Sementara Chandra yang berada disana juga ikut mendengarkan dengan jelas penuturan dokter. walau tak sepenuhnya dia mengerti.
“Om, apakah Mama akan meninggalkan Chan dan adik-adik Chan?”
.
.
.
*TBC
😢😢😢
Happy Reading‼️
__ADS_1