
“Nyonya, saya membawakan air untuk mengompres.”
Kila yang baru selesai berpakaian, dengan cepat menyandarkan dirinya duduk di kepala ranjang, “masuklah!” perintah Kila, sambil menunduk dengan memijat kedua tangannya sendiri.
Suara deritan pintu terbuka menyentuh telinga Kila, dia mengangkat wajahnya menatap Mira yang berjalan masuk dengan sebuah mangkuk di tangannya. “Nyonya, saya meletakan mangkuknya di sini,” ucap Mira sambil meletakan mangkuk di tangannya itu ke meja yang ada di samping ranjang.
“Aku sudah meminta kepadamu untuk jangan berbicara terlalu formal kepadaku, kan? Usia kita tidak terlalu jauh, aku sudah menganggapmu seperti kakakku, Mira,” saut Kila, dia menekuk kakinya dengan tatapan mata yang masih menerawang ke depan.
“Nyonya, kalau ada yang bisa aku lakukan. Katakan saja! Aku akan melakukan apa pun untuk melayanimu-”
“Kau lihat tadi, kan? Aku bahkan tidak bisa melawan saat diperlakukan seperti itu. Aku bisa melindungi kalian, jika Tuan Rama juga mendukungku. Namun, tamparan tadi membuatku tersadar kalau aku bukanlah siapa-siapa di sini,” Kila memotong perkataan Mira dengan bualan, diikuti raut wajahnya yang ia buat sesedih mungkin.
“Manusia miskin seperti kita, akan selalu salah di mata mereka-”
“Apa yang Nyonya katakan! Aku bahkan memanggil Nyonya dengan sebutan Nyonya … Awalnya, saat aku mengetahui Tuan menikah lagi, aku memang memiliki pikiran yang jelek tentangmu, Nyonya. Aku berpikir, dia mungkin hanya perempuan yang mengincar kekayaan Tuan saja, dan dia akan menyulitkan kami seperti yang kami terima selama ini bersama Nyonya Citra-”
“Namun,” ungkap Mira yang kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat berhenti, “dia memperlakukanku dengan sangat baik. Dia pun, secara tidak langsung menjadi teman bicaraku. Aku juga kembali bersemangat untuk bekerja sejak kedatangan, Nyonya. Jadi, kalau ada yang Nyonya ingin aku lakukan, katakan saja!”
‘Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti itu? Apa aku harus mempercayainya? Ini terlihat mencurigakan, tapi tidak ada salahnya mencoba … Jika dia benar-benar mendukungku, aku akan sangat berterima kasih kepadanya,’ batin Kila dengan masih terdiam menatapi Mira yang berdiri di sampingnya.
“Terima kasih, Mira. Sebenarnya, ada yang ingin aku pinta … Bisakah, kau membawakanku salep untuk meringankan memar? Jika di rumah ini tidak ada salepnya, tolong belikan, aku akan menggantinya. Jadi Mira, bisa kau menolongku?” tanya Kila kepada perempuan tersebut.
“Baik, Nyonya. Akan aku laksanakan,” saut Mira, dia membungkuk sebelum berjalan meninggalkan kamar.
Kila beranjak berdiri sambil melangkah mendekati meja rias lalu duduk dengan menatapi bayangannya yang terpantul di sana, ‘aku akan melakukan apa pun untuk menguasai rumah ini,’ batin Kila diikuti matanya yang sesekali melirik ke arah jam yang ada di kamar.
_____________.
__ADS_1
“Kila? Ada apa dengannya?” Alis Rama mengerut saat Mira mengucapkan nama Kila.
“Wajah Nyonya Kila ditampar oleh Nyonya besar, mungkin itu alasan dia bersedih sekarang. Maafkan saya, Tuan. Jika apa yang saya lakukan ini lancang, tapi Nyonya Kila sudah sangat baik kepadaku … Kalau saja Nyonya tidak membantu saya, mungkin luka bakar di tangan saya tidak akan sembuh,” tukas Mira, kepalanya tertunduk, terasa enggan bercampur takut menatap Rama.
“Baiklah, aku akan memberikannya,” Rama menyaut dengan meraih kotak kecil berisi salep yang diberikan Mira.
‘Jadi itu, kenapa dia tadi membawa mangkuk berisi handuk? Jadi itu juga, kenapa wajahnya terlihat sedih … Kenapa aku merasa sangat kesal ketika mendengarnya,’ Rama membatin sembari melanjutkan langkahnya mendekati Kila dan juga Mainun.
“Kila!” panggil Rama yang membuat pelukan Kila pada Mainun terlepas.
“Kakak? Kenapa kakak bisa tiba-tiba ada di sini?” Kila sedikit gelagapan, wajahnya menunduk diikuti tangannya yang beberapa kali mengusap mata.
“Mainun, aku ingin memakainya. Rapikan pakaianku ini lalu bawa ke kamar Kila!” perintah Rama sembari memberikan beberapa lembar pakaian di tangannya kepada Mainun.
Mainun beranjak sambil meraihnya, “baik, Tuan. Akan saya laksanakan,” ungkap Mainun, dia sedikit melirik ke arah Kila sebelum berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?” Rama bertanya sambil berjalan lalu duduk di sofa yang sama dengan Kila.
Rama tak menjawab pertanyaan Kila, dia turut menunduk sambil membuka kemasan salep lalu mengeluarkan isi di dalamnya ke ujung jarinya, “pipi yang mana?” tanya Rama yang membuat Kila mau tak mau menatapnya.
“Pipi yang mana?” Rama kembali mengulang perkataannya.
“Bagaimana kakak bisa tahu?”
“Apa aku harus menjawabnya? Apa itu pertanyaan yang penting?”
Kila menggelengkan kepalanya, “pipi kananku,” jawab Kila singkat.
__ADS_1
Kila menggigit bibirnya dengan melirik ke jari Rama yang mengoleskan salep di pipinya. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Rama kembali bertanya, dengan menuangkan lagi salep di jarinya yang lalu dioleskannya ke pipi Kila.
“Dia menghampiriku saat aku pulang, dia mengatakan … Kenapa pembantu tidak bekerja kepadaku. Aku hanya menjawab, kalau aku adalah istri kakak, dan saat itu dia menamparku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang aku pantas mendapatkannya-”
“Sebenarnya kakak tidak perlu mengoleskannya, karena rasa sakitnya juga sudah menghilang. Aku juga, telah meminta mereka untuk menyiapkan makan malam … Ajak Ibu mertuamu dan juga kak Citra untuk makan malam bersama.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Aku? Aku hanya ingin beristirahat.”
Kila mengangkat wajahnya saat Rama menyelipkan rambutnya ke telinga, “ganti pakaianmu, kita akan makan malam di luar. Kau, memintaku untuk menemanimu makan di restoran-”
“Apa kakak merasa kasihan padaku? Kenapa tiba-tiba mengajakku padahal kakak sebelumnya tidak membalas pesan yang aku kirim.”
Rama menghela napas sambil mengeluarkan ponsel miliknya, “aku sudah membalasnya. Lihatlah! Centang satu, hanya menunggu ponselmu menerimanya. Apa kau mengaktifkan ponselmu?”
“Aku meninggalkan ponselku di tas, tapi ponselku aktif.”
“Aktif?” Kila mengangguk saat Rama mencoba untuk memastikannya.
“Dengarkan ini!” perintah Rama seraya menempelkan ponsel di tangannya itu ke telinga Kila.
Kila membuang pandangannya setelah Rama kembali menarik ponselnya, “apa aku mematikan ponselnya tanpa sadar,” gumam Kila, keningnya turut mengerut setelah mendengar suara perempuan di panggilan tersebut.
“Sudah tidak perlu dipikirkan, aku sudah sangat gerah, ingin segera mandi,” tukas Rama sambil beranjak berdiri meraih lengan Kila.
“Apa kakak yakin? Kak Citra sedang sakit, kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”
__ADS_1
“Ada Mamanya yang akan menjaganya. Aku juga akan memanggil dokter untuk memeriksanya … Tidak perlu khawatir. Cepatlah! Aku sudah lapar,” sambung Rama dengan menarik pelan tangan Kila agar mengikutinya.
Kila tersenyum membalas tatapan Rama. Mereka berjalan dengan Kila yang merangkul lengannya. Kila menempelkan kepalanya ke lengan Rama dengan matanya yang melirik ke arah Mira yang tersenyum lebar saat mereka berjalan melewatinya, “terima kasih,” Kila menggerakkan bibirnya dengan mengucapkan kata-kata tersebut tanpa bersuara, bibirnya tersenyum lebar saat Mira membungkukkan tubuh ke arah mereka berdua yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.