Suami Kedua

Suami Kedua
Viana Kembali


__ADS_3

Sementara itu tadi pagi tepat pukul enam, salah satu anak buah Sean menemukan Viana di dalam stoller dan diletakkan di depan gerbang rumah. pria itu segera mendorong stoller Viana masuk lalu menunjukkan pada Lidia.


Kebetulan Lidia yang sedang di dapur sangat terkejut saat sama-samar mendengar tangis anaknya. Lidia keluar dari dapur dan melihat anak buah suaminya mendorong stoller bayi.


“Viana!!! Sayang!!” teriak Lidia lalu mengambil Viana dan menggendongnya.


“Dimana Sean?” tanya Lidia.


“Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu. Saya menemukan putri anda di depan gerbang rumah sendirian.” Jawabnya.


Lidia menangis tersedu sambil memeluk buah hatinya. Mungkin hatinya lega karena Viana sudah kembali ke pelukannya dalam keadaan selamat. Namun hatinya kembali sakit saat tak melihat keberadaan sang suami. lalu dimana Sean sekarang berada? Apakah dia baik-baik saja.


Kebetulan Xander juga menginap di rumah Sean. Dia keluar kamar bersamaan dengan Silvia setelah mendengar suara keributan. Xander dan Silvia sangat terkejut saat melihat Lidia menggendong Viana, namun Lidia terus menangis.


“Lidia? Viana sudah kembali?” tanya Xander.


“Sudah. Namun Sean tidak ikut pulang bersama Viana. Kemana suamiku, Xander? Tolong selamatkan suamiku! Aku takut terjadi sesuatu dengannya.” Tangis Lidia semakin pilu.


Xander mamatung. Mungkin inilah saatnya dia membawa pergi Lidia dan anak-anaknya, sesuai dengan pesan yang ditinggalkan Sean. Kemudian Xander meminta Silvia mengambil Viana dari gendongan Lidia agar dia bisa berbicara tenang.


“Lidia, dengar aku. aku yakin Sean akan baik-baik saja. Tapi tidak dengan kalian semua.” Ucap Xander.


“Apa maksud kamu, Xander?” Lidia tidak mengerti.

__ADS_1


“Sean memintaku membawa kalian pergi jauh dari negara ini. kemungkinan saat ini penculik Viana masih terus mengintai kamu dan anak-anak kamu. Sedangkan Sean akan mengatasi semua ini setelah itu akan menjemput kalian.” jawab Xander.


Lidia kembali menangis. Bahkan tanpa sadar dia memeluk Xander. Karena saat ini dirinya benar-benat butuh sandaran. Silvia yang berada tak jauh dari mereka, seketika hatinya mencelos.


“Lebih baik kita segera pergi meninggalkan negara ini. percayalah bahwa Sean akan baik-baik saja. Kita doakan saja yang terbaik.” Xander mengurai pelukannya saat menyadari ada Silvia di belakangnya.


Lidia mengusap air matanya. wanita itu hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar sambil menggendong Viana.


Silvia melangkah menjauh dari ruangan itu. Dia mendengar jelas semua pembicaraan Xander dan Lidia barusan. Lalu buat apa dirinya masih berada di rumah ini kalau penghuni rumahnya akan pergi.


“Silvia tunggu!” Xander mengejar Silvia.


“Bersiaplah segera. Kita akan pergi sebentar lagi.” lanjutnya.


“Yang pergi kamu dan Nyonya Lidia, kenapa kamu menyuruhku bersiap?” jawab Silvia sambil menekan kuat rasa sakit hatinya.


“Kamu ini aneh sekali. Aku tidak ada hubungan apapun dengan masalah kalian. aku akan bersiap tapi aku akan pulang ke kota B. rasanya keberadaannku sudah cukup sampai di sini saja. Kamu bisa menjaga Nyonya Lidia dan anak-anaknya dengan baik tnpa gangguan dariku.” Ucap Silvia tegas, lalu pergi meninggalkan Xander.


Xander tahu kalau saat ini Silvia sedang marah setelah melihat Lidia memeluknya tadi. kemudian dia mengejar Silvia lagi.


“Maafkan aku, Silvia. Lidia hanya membutuhkan sandaran. Karena hatinya benar-benar sangat rapuh.”


“Aku nggak mempermasalahkannya. Sekarang kamu juga bersiaplah! Kasihan Nyonya Lidia dan anak-anaknya masih dalam bahaya.” Ucapnya tegas

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan bersiap dan kita pulang bersama ke kota B. biarkan Lidia tetap disini bersama anak-anaknya. aku juga nggak akan peduli.” Gertak Xander.


“Kamu jangan egois, Xander! Pergilah! Mungkin memang perjalanan kisah kita cukup sampai dis- mmppphhh“


Dengan cepat Xander membungkam mulut Silvia dengan ciuman. Hatinya sakit jika Silvia mengatakan tentang hubungannya yang akan berakhir. Dia tidak akan sanggup.


“Bukan hanya Lidia dan anak-anaknya yang dalam bahaya. Tapi kamu juga, Silvia. Aku yakin setelah Bryan sadar, pasti anak buah David akan mencarimu. Maka ikutlah denganku. Aku mohon, Silvia.” Xander terus memohon.


Hati Silvia menjadi gamang. Jujur dia takut jika apa yang dikatakan oleh Xander benar. Lalu bagaimana dengan adik-adiknya nanti jika dia pergi jauh.


“Untuk adik-adik kamu, aku akan jamin mereka semua akan aman. Aku benar-benar takut kehilanganmu, Silvia.”


Silvia pun akhirnya mengangguk setuju. Tak lama kemudian dia mulai membereskan semua pakaian yang akan ia bawa. Sedangkan Xander akan menyiapkan beberapa keperluan penerbangannya.


Xander memutuskan pergi mengajak Fredy juga. karena dia sangat yakin dengan kemampuan pria itu. Nanti Xander bisa meminta bantuannya untuk mencari keberadaan Sean, selain masih bertugas membimbing Chandra.


Akhirnya siang itu juga Xander, Silvia, Fredy, Lidia dan dua anaknya segera bertolak ke bandara untuk melakukan penerbangan ke luar negeri dimana dulu Sean dilahirkan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2