Suami Kedua

Suami Kedua
Anak-anak Hebat


__ADS_3

Setelah sukses menanamkan bom pada tubuh Sean, dan tubuh Sean tidak menampakkan gejala buruk apapun yang tandanya bom itu diterima oleh tubuhnya dengan baik.


Mulai saat itu David segera melancarkan misinya. Yaitu meminta Sean bekerja menjadi asistennya. Sean diminta David meretas beberapa system kemanan perusahaan besar yang selama ini menjadi lawan bisnis David. Tidak ada penolakan dari Sean kecuali hanya bisa menurut. Mungkin saat ini itulah pilihan yang terbaik, daripada terus menolak perintah David yang akan semakin membahayakan nyawanya sendiri.


Saat ini Sean tinggal di kediaman David. Meski Sean sekarang menjadi pengabdi David, namun kehidupannya terjamin. Semua kebutuhannya tercukupi. Hanya saja dia tidak bisa pergi jauh sesuai keinginannya. Jika Sean menjauhi David dalam jarak hampir mendekati tiga ratus meter, tubuhnya akan memberikan sinyal bahaya.


Untuk perusahaan milik Sean sendiri masih ia pegang. Namun kepemilikan sudah berganti atas nama David. Semua karyawan Sean juga tidak mengetahui semua itu, termasuk Erick sekretarisnya. Yang mereka tahu kalau perusahaan masih menjadi milik Sean. Hanya saja bosnya sekarang tinggal di luar negeri.


Tidak terasa Sean sudah menjadi pengabdi David selama dua minggu. Setiap harinya dia selalu disibukkan dengan pekerjaan yang begitu banyak. Bahkan Sean hampir saja lupa kalau besok adalah hari ulang tahun Viana.


Kedua sudut mata Sean berair kala mengingat keluarganya. Sampai saat ini dia tidak bisa mengetahui kabar istri dan dua anaknya. semua itu karena David selalu memantau gerak-geriknya.


“Lidia, maafkan aku. aku berjanji akan pulang. dan buat anak-anakku, jadilah kalian anak-anak hebat yang selalu melindungi Mama kalian.” gumam Sean sambil menatap langit malam.


Sibuk dengan pikirannya tentang anak istrinya, tiba-tiba saja pintu kamar Sean diketuk. Dia sungguh lelah dan ingin istirahat. Orang yang mengetuk pintu itu pasti akan memberitahukan bahwa David akan keluar rumah. otomatis dia harus ikut.


Cklek


“Ada apa?” tanya Sean pada pengawal pribadi David.

__ADS_1


“Anda bersiaplah. Sepuluh menit lagi Tuan David akan pergi ke rumah sakit.” Jawabnya.


Tanpa bertanya alasannya, Sean menutup pintu kamar lalu bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Entahlah mau apa pria itu malam-malam begini pergi ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian Sean sudah berada di dalam mobil bersama David. Dia duduk di kursi sebelah sopir. Sedangkan David di belakang. Sean selalu diam jika bersama pria itu. Dia akan bicara kalau David mengajaknya bicara. Selebihnya, dia hanya bekerja sesuai dengan job desc yang diberikan.


Sean sempat berpikir jika sedang berduaan dengan David, dia ingin sekali menghabisi pria itu. Namun lagi-lagi ia urungkan karena dia bisa belum bisa mengendalikan bom yang tertanam dalam tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Sean dan David tiba di sebuah rumah sakit. Sean berjalan mengikuti langkah kaki David menuju salah satu ruang rawat intensif. Terlihat David berbicara serius dengan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan, karena Sean tidak begitu jelas mendengarnya. Dan terlihat raut wajah David yang begitu pias. Tak lama kemudian dokter meninggalkan David. Dan pria itu masuk ke dalam ruang rawat intensif.


“Bryan, bertahanlah. Pengobatan semahal apapun akan aku usahakan supaya kamu bisa segera pulih.” Lirih David dan bisa didengar oleh Sean melalui celah pintu yang sedikit terbuka.


Sean menyunggingkan senyum sinis. Ternyata pasien itu adalah Bryan. Dia tidak menyangka kalau keadaan pria itu sampai saat ini masih kritis. Untung saja belum mati. Biar dia merasakan penderitaannya akibat ulahnya sendiri.


***


Pagi ini keadaan di rumah yang ditempati oleh Lidia tampak ramai daripada sebelumnya. Sejak tadi Lidia tampak sibuk membuat kue bersama Silvia. Hari ini akan ada pesta perayaan ulang tahun Viana yang kedua. Lidia merayakan bersama penghuni rumah saja.

__ADS_1


Chandra hari ini sedang belajar bela diri bersama Fred. Sedangkan Xander sibuk dengan pekerjaannya yang memantau keberadaan Sean. Setelah kedatangannya di negera ini, Xander menyampaikan kabar tentang Sean pada Leon. Dia bekerjasama dengan Leon dan Marsha untuk mencari tahu kabar terkini dari Sean. Namun sampai saat ini Xander belum mendapatkan informasinya.


“Nyonya, Non Viana sudah selesai saya mandikan.” Ucap asisten rumah tangga Lidia.


Lidia tersenyum melihat Viana sudah terlihat cantik dengan gaun pesta yang baru ia belikan kemarin. Lidia bersyukur ada Anne, istri dari penjaga rumah ini yang begitu baik padanya. Wanita empat puluh tahun itu sangat peduli dan menyayangi Viana seperti anaknya sendiri.


“Terima kasih, Bibi Anne. Sekarang tolong bantu Silvia menyiapkan hidangan ini ke ruang tengah. Biar Viana bersamaku.” Ucap Lidia.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2