Suami Kedua

Suami Kedua
Makan Siang


__ADS_3

Sementara itu di sebuah restaurant yang berada tak jauh dari area kantor milik Kenzo, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang menikmati makan siang mereka. Jika Feby sejak tadi selalu diam dan tak banyak bicara setelah insiden kecil di kantor tadi saat bersama Chandra, berbeda halnya dengan Chandra. Laki-laki yang usianya masih sangat muda itu terlihat cukup tenang menikmati makan siangnya. Sambil sesekali tangannya mengetik sebuah pesan dari ponsel pintarnya.


Meskipun Feby sedang diam dan menikmati makan siangnya, rupanya perempuan itu sesekali mencuri pandang pada sosok tampan yang sedang duduk tepat di hadapannya.


Chandra. Laki-laki seusia adiknya, namun sikapnya sungguh dewasa. Bahkan pembawaannya yang tenang cukup membuat hati Feby merasakan ada hal yang berbeda.


Feby menggelengkan kepalanya dengan pelan karena merasa sangat bodoh telah mengagumi sosok Chandra.


“Kenapa?” tanya Chandra tiba-tiba saat melihat Feby mengunyah makanannya sambil melamun.


Uhukkk


Chandra dengan cepat memberikan air putih pada Feby yang tiba-tiba tersedak karena pertanyaannya. Feby menerimanya lalu meminumnya hingga tandas. Wajah perempuan itu merah karena malu dan juga karena tersedak makanan.


“Hati-hati kalau makan. Dan jangan suka ngelamun. Nanti kesambet setan.” Ucap Chandra lalu tangannya terulur mengusap sudut bibir Feby yang menyisakan sebutir nasi.


Grep


Feby menangkap tangan Chandra yang sedang menempel di wajahnya lalu melepaskannya dengan pelan.


“Terima kasih. Maaf, aku nggak ngelamun.” Ucapnya lalu mengambil tisu dan mengusapkannya pada sudut bibirnya.


Chandra mengulum senyum melihat Feby yang sedikit salah tingkah.


“Sudah, cepat habiskan makanan kamu. Bukannya setelah ini Papa minta kamu menemuinya?” Feby berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Santai saja lah, aku masih ingin menikmati pemnadangan indah di depanku.” Jawab Chandra sambil menatap wajah Feby dengan intens.

__ADS_1


Hati Feby semakin tak karuan, walau ucapan Chandra menurutnya hanya gombalan semata. Lantas ia segera mempercepat makannya agar bisa kembali ke kantor secepatnya.


“Gombalan kamu pantsanya untuk anak SMA seusia kamu, Chan!” gurau Feby dengan wajah yang sudah berangsur santai.


“Kenapa memangnya?”


“Ya kebanyakan cewek SMA seperti itu. Suka sekali digombalin sama cowok seperti kamu. Pasti mereka akan klepek-klepek”


“Memangnya kamu tidak? Bukannya kamu juga salah tingkah tadi?


“Sudah! Aku duluan saja kalau kamu banyak bicara. Semakin lama dekat dengan kamu, semakin meresahkan.” Pungkas Feby lalu segera beranjak menuju meja kasir.


Chandra pun tidak lagi melanjutkan makannya, karena sudah kenyang. Laki-laki itu juga menyusul Feby yang sedang berjalan menuju kasir. Pantang bagi Chandra ditraktir seorang perempuan. Dengan cepat Chandra mendahului Feby lalu mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar makanan.


“Chan, biarkan aku yang membayar!” seru Feby saat petugas kasir sudah mengembalikan kartu atm Chandra.


Tanpa menjawab, Chandra segera pergi dan meninggalkan restaurant itu. Feby pun menghela nafsanya pelan kemudian berjalan mengekor di belakang Chandra.


“Selamat siang, Om!” sapa Chandra.


“Siang. Duduklah, Chan! Tunggu sebentar, Om melanjutkan ini dulu.” Jawab Kenzo.


Chandra hanya mengangguk lalu duduk di sebuah sofa yang berada tak jauh dari meja kerja Kenzo. Chandra juga sedang memainkan ponselnya. Dia sedang berikirim pesan dengan seseorang untuk membahas masalah yang sedang Chandra tangani di perusahaan Kenzo.


“Bagaimana makan siangnya?” tanya Kenzo basa-basi saat sudah duduk bergabung dengan Chandra.


“Lumayan, Om.” Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu Kenzo memulai pembicaraannya dengan serius. Dia mengatakan pada Chandra mengenai data semua karyawan yang diminta tadi. Kenzo bisa memberikan data pribadi karyawannya namun tidak bisa secepat itu.


“Apakah bisa kamu menunggunya sampai dua atau tiga hari ke depan, Chan?” tanya Kenzo.


Chandra masih tampak berpikir. Memang benar yang dikataan Kenzo kalau tidak bisa secepat itu meminta data pribadi karyawannya. Namun Chandra juga sangat membutuhkannya dengan cepat, agar dia segera bisa melanjutkan penyelidikannya.


“Sebenarnya Chan butuh cepat, Om. Tapi kalau memang tidak bisa, saya akan menunggunya. Dan sementara ini saya akan menambah system pertahanan yang akan melindungi data penting perusahaan Om Kenzo agar pelaku itu kesulitan melanjutkan misinya. Tapi ada syaratnya.”


“Katakan saja, Om akan memenuhinya.”


“Chan harus merubah kata sandi pada data penting perusahaan Om.”


Kenzo terdiam sesaat setelah mendengar syarat yang diajukan oleh Chandra. Chandra adalah anak sahabatnya. Dia juga baru bertemu dengan Chandra hari ini. tidak salah jika Kenzo sempat meragukan Chandra. Terutama dalam hal kemampuan. Walau dia tahu dari ayah Chandra sendiri kalau laki-laki itu sangat pandai dalam bidang seperti ini.


Sedangkan melihat wajah berbeda dari Kenzo, Chandra bisa menyimpulkan kalau pria paruh baya itu tampak menimbang syarat yang baru saja ia ajukan. Memang tak semudah itu memberikan informasi penting mengenai data pribadi perusahaan pada orang lain.


“Chan tahu, apa yang sedang Om Kenzo pikirkan. Lebih baik Om berdiskusi dengan Ayah saja dulu. Chan mohon undur diri sekarang.” Pamit Chandra.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


 


__ADS_2