Suami Kedua

Suami Kedua
Bisikan atau Hasutan


__ADS_3

“Walau memerlukan banyak waktu, kita akhirnya telah menikah secara sah,” ucap Kila, dia menutup buku nikah di tangannya sambil melirik ke arah Rama yang ada di sampingnya.


“Apa Istrimu benar-benar menyetujui pernikahan kita? Atau kakak, memalsukan pernyataan itu?” Kila bergumam, dia membuang pandangan ke samping sebelum menyimpan buku nikah tersebut ke dalam tas.


Kila menghela napas dengan melirik ke arah Rama yang masih menutup mulutnya, “bahkan suaraku pun, seperti tidak ada di dunia ini-”


“Apa lagi yang kau inginkan?” tukas Rama sembari melempar pandangan matanya kepada Kila.


“Aku hanya berpikir,” sahut Kila sambil meletakan telapak tangannya di paha Rama, “setelah, Istri pertama pulang dari liburan … Bagaimana kakak ingin membagi waktu di antara kami? Mungkinkah, seminggu dengannya lalu seminggu denganku … Atau sehari dengannya lalu besoknya denganku,” Kila tersenyum kecil saat mobil tiba-tiba berhenti ketika tangan Kila mengelus paha Rama.


“Apa yang kau lakukan? Jauhkan tanganmu itu!”


“Kenapa? Apa bedanya aku dan dia? Kami, sama-sama mantan kekasih dari adikmu … Hanya saja, kau mengetahui keadaanku sebelumnya, sedangkan dia menyembunyikannya hingga kau sendiri pun tidak tahu.”


“Cium pipiku!” sambung Kila kembali pada Rama, “Gilang, selalu melakukannya tiap kali kami bertemu, dan saat melihatmu membuatku merindukannya. Satu kecupan di pipiku, atau aku tidak akan berhenti menggodamu,” ancam Kila lagi padanya.


“Jadi benar apa yang dikatakan Mamaku, kau menggodanya seperti perempuan murahan-”


“Kalau hanya seperti itu saja Gilang tergoda, bukankah secara tidak langsung kau menjatuhkan harga dirinya.”


“Kau!”


“Yang ingin aku maksudkan, jika benar kau tidak bisa memenuhi kewajibanmu sebagai suami … Maka abaikan saja syarat yang aku pinta. Jika benar kau tidak sanggup memperlakukanku lebih baik dibanding Gilang, seharusnya abaikan saja permintaan terakhir darinya,” potong Kila dengan kembali menarik tubuhnya menjauhi Rama.


“Karena dengan seperti ini, kau hanya membuat ... Seperti hanya aku saja yang berjuang untuk mewujudkan keinginan Gilang. Aku, ingin pergi mengunjugi makam Gilang, kakak bisa pulang atau melanjutkan pekerjaan,” sambung Kila sambil melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya.

__ADS_1


“Duduklah! Apa kau tahu di mana Gilang dimakamkan?”


Kila menggeleng, “aku tidak tahu, Ibumu bahkan membayar orang untuk mencegatku tiap kali aku berusaha untuk pergi ke pro-”


“Sudahlah, aku hanya tinggal mencarinya di setiap pemakaman.”


“Gilang, bukan dimakamkan di sini. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga, kau harus terbang menaiki pesawat untuk sampai ke sana-”


“Benarkah? Bahkan untuk berziarah menemuinya pun sulit. Apa aku bisa mengunjunginya nanti?” Kila kembali bertanya dengan menoleh ke arah Rama.


“Aku akan mengajakmu nanti-”


“Terima kasih banyak, kak Rama,” sahut Kila yang dengan cepat memotong perkataannya.


Mata Rama membesar saat Kila meraih lalu menggenggam tangannya, “apa yang-” ucapnya terhenti, saat Kila sendiri masih tertunduk menatapi tangannya yang menggenggam erat tangan Rama.


“Hangat sekali,” gumam Kila tanpa mengangkat wajahnya, “hanya sebentar, Kak, hanya sebentar … Aku, tidak tahan dengan udara dingin. Biasanya Gilang menggenggam tanganku, atau dia akan membuat mobil miliknya tidak terlalu dingin … Sepertinya sudah cukup, sekali lagi terima kasih, kak,” tukas Kila dengan kembali menarik tangannya dari tangan Rama.


‘Apa pun itu, aku akan membuatmu jatuh padaku Tuan Rama Rahardian … Kalian menghancurkan kebahagiaanku, mencaci maki hubungan kami habis-habisan. Sudah sepantasnya, kalian pun tidak boleh bahagia,’ batin Kila sambil menoleh ke luar jendela.


“Apa sudah hangat?”


Kila kembali menoleh ke arah Rama yang membuka suara, “kakak menaikan suhunya? Tidak perlu memaksakan diri, aku tidak ingin kakak kepanasan di mobil kakak sendiri.”


‘Mungkin Gilang benar, bahwa kakaknya laki-laki yang baik … Dia terlihat tidak peduli, tapi tetap melakukannya. Walau begitu, aku tidak akan mundur … Minimal aku harus membuat perempuan bernama Citra Dewi itu, merasakan rasanya dibuang oleh pasangannya sendiri, seperti yang sudah ia lakukan pada Gilang.’ Kila kembali membatin, sambil mengangkat tangannya mengusap samping kening Rama yang terlihat basah.

__ADS_1


“Aku baru mengatakannya dan kakak sudah berkeringat. Bagaimana aku melakukannya? Untuk menurunkan kembali suhu.”


Rama masih diam terpaku, menerima perlakuan Kila kepadanya. Dia hanya terdiam dengan melirik ke arah Kila yang tak berkedip menatap dashboard mobil, “kita akan segera sampai, kau tidak harus melakukannya!”


“Baiklah,” jawab Kila sambil tersenyum kepadanya.


Rama kembali menatap lurus ke depan, dengan tetap mengendarai mobilnya. Dia sesekali membuang pandangan ke samping, menahan hawa panas yang memenuhi mobil. Saat mereka sampai, dia dengan cepat keluar dari mobil hanya untuk menyejukan kembali tubuhnya. ‘Dia sangat pendiam, apa aku harus menggodanya hanya untuk memancing reaksinya? Lagi pula, dia suamiku … Sudah sepantasnya, aku mengurusnya sebagai seorang Istri. Aku benar, kan, Gilang?’ batin Kila, sambil bergerak turun lalu berjalan menyusul Rama di belakangnya.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rama, langkahnya berhenti menatap Kila yang menyusulnya masuk ke dalam kamar.


Kila tak menggubris perkataan Rama, dia terus berjalan mendekati bingkai besar dengan foto pernikahan Rama dan juga Citra di sana, “kalian terlihat bahagia sekali di foto ini, apa kakak mencintai perempuan itu?”


“Hentikan! Aku sudah mencoba untuk menahan ini, tapi kata-katamu … Semakin lama, semakin tidak bisa dikendalikan!” bentak Rama sambil menunjuk ke arah Kila.


Kila mengangkat tangannya ke belakang, dia menggigit kuat bibirnya sambil mengepal kuat tangannya itu, “aku hanya bertanya, apa yang salah dari kata-kata yang aku ucapkan?” ucap Kila, dengan berjalan mendekati Rama.


“Jika kakak memang mencintainya, apa susahnya menjawab … Dengan seperti itu, aku akan menarik diri agar jangan mengganggu kalian. Maafkan aku, yang tanpa sadar mengikuti kakak hingga ke sini. Aku akan keluar, sekali lagi maafkan aku,” tukas Kila, dia membungkuk ke arah Rama sebelum melangkah melewatinya.


‘Berperan menjadi Istri yang tertindas itu ternyata sulit, ya?’ batin Kila, langkahnya berhenti sambil menggenggam erat gagang pintu kamar.


‘Akan kubuat kau menyesal melakukan ini kepadaku. Kau bahkan tidak memberikan apa pun kepadaku, tapi telah membentakku beberapa kali,’ sambung Kila membatin, sebelum menutup kembali pintu kamar tersebut.


Rama menunduk sambil memijat kepalanya, sesekali helaan napas ia keluarkan sebelum membaringkan tubuh ke ranjang. “apa yang terjadi kepadamu Rama? Kau seharusnya tidak tersulut emosi dengan mudahnya,” gumam Rama sambil meletakan lengan kanannya menutupi mata.


‘Sebenarnya, apa yang membuatku kesal?’ Kali ini Rama membatin sambil menatap langit-langit di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2